HUMOR SUFI

  • Tidak Melakukan Apa-Apa, Mengapa Marah?

    Suatu ketika, Nashruddin menikmati susu bersama tiga orang temannya. Setiapkali Nashruddin melumatkan roti dalam susu itu, kedua temannya itu sibuk berbicara, sementara teman yang satunya lagi menyantap roti dilumatkan Nashruddin. Meskipun Nashruddin telah berulangkali mengingatkannya, namun temannya yang satu itu tetap saja melahapnya. Nahsruddin pun marah, lalu mengambil bejana itu dan mengangkatnya di atas kepala, kemudian memindahkan ke atas kepala temannya yang keras kepala itu dan menyiramnya. Tiba-tiba, muka orang itu pucat dan pingsan.

    Ketika Nashruddin melihat temannya itu terlentang di atas tanah seperti mayat, Nashruddin heran dan berkata, "Dia tidak melumatkan roti dan tidak pula mencelupkannya. Justru dialah yang menikmati rotiku itu. Rasanya, sangat pantas bagiku untuk memukulnya dengan bejana ini. Mengapa dia pura-pura mati seperti ini?"

  • Tak Berjalan di Atas Gunung

    Suatu hari, ketika Nashruddin duduk santai bersama teman-temannya, mereka bertanya, "Dari mana kita dapat mengetahui bahwa kamu seorang wali?" Nashruddin menjawab, "Jika aku memanggil batu atau pohon, maka dia pasti akan segera datang memenuhi panggalianku." Lalu mereka bertanya kembali, "Jika demikian, coba sekarang panggil pohon itu," Nashruddin menjawab, "Ya".

    Maka dengan suara lirih, Nashruddin berkata, "Wahai mubarakah, kemarilah." Dia mengucapkannya hingga tiga kali. Namun pohon itu tetap saja di tempatnya dan tak bergerak sedikit pun. Nashruddin maju menemui pohon itu. Mereka berkata, "Apa-apaan ini? Bukankah kamu tadi berkata bahwa jika pohon itu dipanggil, dia akan segera datang?" Nashruddin menjawab, "Para wali tidak pernah sombong ... Meskipun dia tidak dapat berjalan di atas gunung, namun dia tetap memiliki kehebatan."

  • Berilah Nama Prematur

    Tersebutlah seorang wanita yang melahirkan setelah tiga bulan dari hari pernikahannya. Lalu, para wanita berkumpul dan bertanya-tanya, nama apa yang pantas untuk anak itu. Namun mereka sepakat untuk menanyakannya pada Nashruddin.

    Setelah bertemu dan menyampaikan itu padanya, Nashruddin berkata, "Berilah nama untuknya prematur."

    Mendengar jawaban Nashruddin itu, mereka berkata, "Rasanya aneh nama itu, karena kita belum pernah mendengarnya." Nashruddin menjawab, "Barangsiapa yang dapat menempuh jarak sembilan bulan hanya dengan waktu tiga bulan, dia harus diberinama prematur. Kalau tidak, kiranya nama apalagi yang cocok untuknya?."

  • Ketika Keluar, Ada Kepalanya?

    Suatu hari, Nashruddin bersama seseorang temannya berburu serigala. Tiba-tiba terlihat oleh keduanya seekor serigala bertubuh besar dan berbulu lebat. Sehingga, terlintas dalam benak keduanya untuk segera menangkapnya, karena bulunya yang lebat itu dapat dijadikan pakaian yang mahal harganya.

     Maka, keduanya menghalau serigala itu dengan pelan, hingga dia lari ke dalam sarangnya. Teman Nashruddin pun lari mengejarnya, kemudian memasukkan kepalanya ke dalam sarang itu. Sementara Nashruddin menunggu di tempat yang agak jauh. Setelah beberapa saat, terlihat teman Nashruddin itu tak bergerak. Lalu Nashruddin segera menariknya. Ternyata, kepalanya sudah tiada.

     Nashruddin berhenti dan berpikir sejenak. Lalu dengan tergopoh-gopoh dia pergi menuju rumah temannya itu. Setibanya di sana, Nashruddin langsung bertanya pada istri temannya itu. "Hai, tadi pagi ketika suamimu keluar dari rumah, ada kepalanya atau tidak?"

Live Streaming
Logo


Nantikan Jadwal Acara Selanjutnya

Moslem Travel

5 Tips untuk Jamaah Haji, Mulai yang Sepele hingga Penting
Senin, 17 Juli 2017 18:37 WIB

5 Tips untuk Jamaah Haji, Mulai yang Sepele hingga Penting

Fashion Hijab

Makna Kain Ihram yang Selalu Dikenakan Jamaah Haji
Senin, 17 Juli 2017 18:38 WIB

Makna Kain Ihram yang Selalu Dikenakan Jamaah Haji

HUMOR SUFI

Tidak Melakukan Apa-Apa, Mengapa Marah?


Suatu ketika, Nashruddin menikmati susu bersama tiga orang temannya. Setiapkali Nashruddin melumatkan roti dalam susu itu, kedua temannya itu sibuk berbicara, sementara teman yang satunya lagi menyantap roti dilumatkan Nashruddin. Meskipun Nashruddin telah berulangkali mengingatkannya, namun temannya yang satu itu tetap saja melahapnya. Nahsruddin pun marah, lalu mengambil bejana itu dan mengangkatnya di atas kepala, kemudian memindahkan ke atas kepala temannya yang keras kepala itu dan menyiramnya. Tiba-tiba, muka orang itu pucat dan pingsan.

Ketika Nashruddin melihat temannya itu terlentang di atas tanah seperti mayat, Nashruddin heran dan berkata, "Dia tidak melumatkan roti dan tidak pula mencelupkannya. Justru dialah yang menikmati rotiku itu. Rasanya, sangat pantas bagiku untuk memukulnya dengan bejana ini. Mengapa dia pura-pura mati seperti ini?"