Tidak sedikit para orangtua membawa anak-anaknya ke Tanah Suci, Makkah atau ke Madinah dengan tujuan untuk beribadah haji atau umroh dan berziarah.
Seperti dilansir dari laman Arab News, salah satu alasan mengapa para orangtua membawa anak-anaknya pergi ke Tanah Suci, Makkah terbagi menjadi dua. Pertama, tidak ada yang menjaga anak-anak mereka di rumah. Kedua, mereka mendidik anak-anaknya agar mengerti pentingnya ibadah haji.
Seorangg warga Sudan, Ayman Dafaalah dan istrinya membawa anak mereka naik haji. Alasannya tidak ada yang bisa membantu menjaga anaknya selama mereka beribadah haji.
"Kami tidak punya pilihan lain. Jadi, kami memutuskan untuk membawanya bersama kami. Kalau tidak, kami tidak bisa melakukan ritual ibadah haji," terang Dafaalah seperti dilansir Arab News, Senin (12/8/2019).
Selain tidak ada yang bisa menjaga anak, mereka juga sekaligus ingin mengajarkan anaknya untuk belajar bagaimana langkah-langkah perjalanan dan ibadah haji.
"Memang sangat sulit membawa anak-anak saat ibadah haji atau umrah. Namun kadang lebih sulit untuk meninggalkan mereka sendiri, atau dengan kerabat," ujar Dafaalah.
Dafaalah juga mengatakan, jika dia selalu memastikan putra sulungnya menghapal nomor ponsel kedua orangtuanya. Dia juga selalu menggendong putranya yang lebih kecil, karena alasan keamanan.
"Bahkan jika dia tersesat, saya yakin kita bisa menemukannya dengan bantuan petugas keamanan yang ada di Arafat," katanya.
Sementara itu, salah seorang jemaah asal Mesir, Rajab Ahmed Abdul-Ghani dan istrinya membawa putra mereka yang masih berusia tiga tahun karena khawatir jika meninggalkannya.
"Kami tak sanggup meninggalkan seorang anak di usia seperti ini, tidak peduli seberapa hebat penjaga itu. Anak itu akan menderita secara emosional karena ketidakhadiran kami, orangtuanya," kata Abdul-Ghani.
Jemaah haji asal Irak, Rifaat Al-Jibari juga memiliki pengalaman yang sama. Dia membawa putrinya yang masih berusia delapan tahun. Jika seluruh keluarganya pergi berhaji dan dia juga mengajak anaknya.
"Kami memang memiliki kerabat, tetapi kami pikir itu akan menjadi kesempatan yang baik untuk membawanya bersama kami, dan mengajarinya cara melaksanakan ibadah haji. Anak saya akan selalu mengingat pengalaman ini," kata Rifaat gembira.
Lina Abu Zinada, pengawas dari Lost Children mengatakan kepada seorang gadis yang pernah hilang karena terpisah dari orangtuanya saat di Arafat. Dia mencoba untuk mengatakan hal terbaik, yaitu bahwa mereka masih memiliki keluarga.
"Kami hanya punya anak yang hilang di Arafat. Dia dari Chad dan dibawa ke kami di Mina pada hari Jumat pukul delapan malam," katanya.
(Dyah Ratna Meta Novia)