FREDY Abdussamad Bollag lahir dari keluarga Yahudi di Swiss pada tahun 1935. Itu merupakan masa di mana agama Islam belum banyak diketahui di Eropa.
Fredy Bolag tertarik pada aktivitas sebagian umat Islam yang dikenal sebagai tasawuf. Ia melakukan perjalanan untuk mencari pengetahuan serta kebenaran tentang Tuhan serta menjadi ahli dimensi batin Islam.
Mengutip dari laman About Islam, Jumat (5/6/2020), Fredy Abdussamad Bollag meyakini Tuhan itu esa dan tunggal. Keyakinan inilah yang kemudian membawa Fredy Bollag masuk Islam. Kecintaannya kepada Nabi Isa Allaihisallam membawanya kepada cinta yang besar kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Pada awal 1950-an, Fredy Bollag bertemu pengikut ordo, Sufi Syekh Ahmad al Alawy. Keberadaan tatanan sufi di Eropa pada masa ini terbilang unik.
Menginjak usia 20-an, Fredy Bollag mulai mempelajari Islam dan tasawuf Islam. Dalam mencari kebenaran, Fredy juga tertarik memperdalam tradisi agamanya sendiri, tradisi Kabbalah Yahudi, di Israel.
Kabbalah Yahudi adalah metode esoteris dalam mistisisme Yahudi. Ia mencoba hidup sesuai tradisi Yahudi selama satu tahun, tetapi ia gagal. Rencananya untuk melanjutkan jejak nenek moyang Yahudi tidak pernah terwujud. Dia tidak menemukan seorang guru yang membuat dia puas. Itu sebabnya ia kembali ke Basel, Swiss, setelah satu bulan berkunjung ke Israel.
Dia menerima Islam dari Syekh Abdul Rahman. Dalam sebuah wawancara, ia mengisahkan konversi ke Islam sebagai takdir yang ditulis Allah Subhanahu wa ta'ala untuknya. Banyak hal berubah bagi Fredy setelah memeluk Islam, khususnya sholat lima waktu yang mengubah rutinitas hariannya.
"Pada awalnya cukup sulit karena pada 1956 hampir tidak ada Muslim di kota asal saya, Basel," ujar Fredy Bollag.
Awalnya dia menyembunyikan keislamannya untuk beberapa waktu dan juga tidak memberi tahu orang tuanya tentang hal tersebut. Fredy menarik diri untuk hidup sendiri demi melindungi keislamannya selama 12 tahun. Namun pada akhirnya dia bertemu istrinya dan dia setuju untuk berbagi kehidupan ini dengannya.
Setelah mempelajari berbagai teks Islam, Fredy Bollag bertemu dengan seorang guru dari ordo Tidjaniyyah. Dia menjadi murid Amadou Hampaté (1990–1991) dari Mali dan belajar Islam kepada guru ini sampai sang guru meninggal pada 1991. Semasa hidup, sang guru sering mengunjungi Paris dan di sana Fredy setidaknya berkunjung ke perusahaan gurunya sekali dalam setahun.
Fredy Bollag berpendapat bahwa Syekh Hampate mengajarinya Islam dengan cinta. Hal ini dimaknai dimana kita harus membawa orang kepada Tuhan melalui cinta. Setelah bertahun-tahun belajar mendalami Islam, Fredy Bollag diberi tanggung jawab dan kehormatan untuk memimpin orang lain sebagai syekh dari Ordo Tidjaniyyah.
Semasa hidupnya, Syekh Fredy Ali Abdussamad Bollag juga aktif dalam dialog antaragama, terutama antara ketiga agama Ibrahim. Dia juga belajar di bawah berbagai guru Muslim lainnya. Ia juga belajar dengan berbagai guru Muslim lainnya. Bahkan, ia menghabiskan beberapa waktu untuk belajar agama Hindu.
Dalam bukunya yang berjudul 'Der Name Allah und die Zahl 66' (Nama Allah dan Nomor 66), ia mengemukakan pandangannya tentang asal usul semua agama dengan menampilkan bukti menarik dari sains dan mistik numerologi. Hingga pada 2011, Syekh Fredy Ali Abdussamad Bollag meninggal dunia.
(Hantoro)