HUMOR SUFI

  • Kemana Larinya Suaraku?

    Suatu hari, Nashruddin mengumandangkan Adzan, lalu bergegas pergi. Maka, teman-temannya bertanya pada Nashruddin. "Habis Adzan, kok kamu langsung pergi?"

    Nashruddin menjawab, "Aku ingin tahu sampai di mana perginya suaraku tadi."

  • Seorang Hakim dan Pedagang

    Suatu ketika, seorang hakim dan pedagang berjumpa dengan Nashruddin di jalan. Lalu hakim itu berkata kepadanya, "Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula kesalahannya."

    Lalu hakim itu berkata, "Apakah kamu akan menegur dan meluruskanku, jika suatu hari aku bersalah?" Nashruddin menjawab, "Ya, suatu ketika aku pernah memasukkan seorang hakim ke dalam api neraka, sebagai ganti dari dua hakim yang sudah berada didalamnya. Dan suatu saat, aku juga pernah salah ucap; aku berkata bahwa kata tujjar (para saudagar) adalah kata ganti dari fujjar (orang yang berbuat dosa), dan orang itu pasti masuk neraka." Mendengar jawaban Nashruddin itu, mereka berdua malu dan pergi.

  • Tidak Melakukan Apa-Apa, Mengapa Marah?

    Suatu ketika, Nashruddin menikmati susu bersama tiga orang temannya. Setiapkali Nashruddin melumatkan roti dalam susu itu, kedua temannya itu sibuk berbicara, sementara teman yang satunya lagi menyantap roti dilumatkan Nashruddin. Meskipun Nashruddin telah berulangkali mengingatkannya, namun temannya yang satu itu tetap saja melahapnya. Nahsruddin pun marah, lalu mengambil bejana itu dan mengangkatnya di atas kepala, kemudian memindahkan ke atas kepala temannya yang keras kepala itu dan menyiramnya. Tiba-tiba, muka orang itu pucat dan pingsan.

    Ketika Nashruddin melihat temannya itu terlentang di atas tanah seperti mayat, Nashruddin heran dan berkata, "Dia tidak melumatkan roti dan tidak pula mencelupkannya. Justru dialah yang menikmati rotiku itu. Rasanya, sangat pantas bagiku untuk memukulnya dengan bejana ini. Mengapa dia pura-pura mati seperti ini?"

  • Tak Berjalan di Atas Gunung

    Suatu hari, ketika Nashruddin duduk santai bersama teman-temannya, mereka bertanya, "Dari mana kita dapat mengetahui bahwa kamu seorang wali?" Nashruddin menjawab, "Jika aku memanggil batu atau pohon, maka dia pasti akan segera datang memenuhi panggalianku." Lalu mereka bertanya kembali, "Jika demikian, coba sekarang panggil pohon itu," Nashruddin menjawab, "Ya".

    Maka dengan suara lirih, Nashruddin berkata, "Wahai mubarakah, kemarilah." Dia mengucapkannya hingga tiga kali. Namun pohon itu tetap saja di tempatnya dan tak bergerak sedikit pun. Nashruddin maju menemui pohon itu. Mereka berkata, "Apa-apaan ini? Bukankah kamu tadi berkata bahwa jika pohon itu dipanggil, dia akan segera datang?" Nashruddin menjawab, "Para wali tidak pernah sombong ... Meskipun dia tidak dapat berjalan di atas gunung, namun dia tetap memiliki kehebatan."

Live Streaming
Logo


Nantikan Jadwal Acara Selanjutnya

Fashion Hijab

Tutorial Hijab Syar'i Sesuai Syariat dalam Alquran
Rabu, 18 Oktober 2017 21:58 WIB

Tutorial Hijab Syar'i Sesuai Syariat dalam Alquran

HUMOR SUFI

Kemana Larinya Suaraku?


Suatu hari, Nashruddin mengumandangkan Adzan, lalu bergegas pergi. Maka, teman-temannya bertanya pada Nashruddin. "Habis Adzan, kok kamu langsung pergi?"

Nashruddin menjawab, "Aku ingin tahu sampai di mana perginya suaraku tadi."