nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Hijrah Anak Punk, Hibahkan Semua Baju Band Metal dan Alat Musik Sepulang Umrah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 09:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 09 614 2076423 kisah-hijrah-anak-punk-hibahkan-semua-baju-band-metal-dan-alat-musik-sepulang-umrah-6Hlf9oqPZe.jpg Kisah Hijrah Anak Punk (Foto: Pribadi)

KETIKA Allah SWT telah menetapkan keputusan, maka tidak ada hal apa pun yang bisa menghalanginya. Begitu juga dengan momen diketuknya hati seorang manusia. Tak ada yang bisa menghalangi ketika hidayah itu sudah diberikan. Seperti Andi yang hijrah ke jalan Allah SWT.

Cerita Bang Andi, biasa ia disapa bisa jadi contoh buat kita semua, di mana dirinya bisa melepaskan semua yang dia sukai dan kini berjalan di sisi Allah SWT alias hijrah. Padahal, bicara apa yang dia tinggalkan, itu adalah harapan dia dulu.

Ya, pada Okezone, Bang Andi menjelaskan kalau dirinya bersyukur bisa mendapatkan hidayat. Dengan jalan seperti ini, dia kini merasa jauh lebih tenang dan bisa memaknai apa yang disebut dengan kata 'ikhlas'.

Seperti apa proses hijrah Bang Andi yang dulunya anak punk penyuka musik hardcore?

 Ilustrasi anak punk

Aku berasal dari suatu desa. Semasa kecil, agama melekat kuat di keseharianku. Ngaji bareng kiai desa adalah aktivitas yang tak bisa ditinggalkan. Semacam hobi yang tak tahu alasannya kenapa disukai.

Namun, aku diharuskan ikut keluarga pindah ke Jakarta. Pindahnya aku dari desa ke kota ternyata membawa perubahan yang sangat drastis. Semakin hari, aku semakin jauh dari Allah SWT. Tidak ada lagi kebiasaan ngaji.

Itu sudah mulai terjadi saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Sampai akhirnya ketika jadi anak SMA, aku benar-benar tak dekat dengan Allah SWT. Aku menyalahkan pergaualan dan itu adalah fakta.

Teman-teman di sekelilingku tak pernah pergi ke masjid untuk ngaji, pun solat berjamaah. Anehnya, sekali pun aku lupa dengan kehadiran Allah, pada momen tertentu, hatiku pernah terketuk ketika melihat orang-orang perhgi ke kajian. Melihat mereka mengenakan baju muslim yang bersih dan rapi, membuat aku rindu.

Tapi, sebatas rindu. Aku tetap pada kebiasaan baruku ini, jelajah nikmatnya dunia dan mulai melupakan Allah SWT. Masa kuliah benar-benar aku tak tahu di mana Tuhan. Hanya pikiran duniawi yang ada saat ini.

Sampai akhirnya aku kerja. Dunia kerja yang begitu bebas, membuat aku pun terbuai. Pengalaman baru dalam banyak hal aku jajal. Terlebih ketika bekerja, aku bisa menghasilkan uang sendiri dan itu seperti hal yang luar biasa. Aku bisa habiskan sesuka hati.

Tapi, aku tak sejauh itu dengan Allah SWT. Ketika Ramadan datang, aku usahakan untuk tetap puasa. Ya, sekali pun beberapa kali bolong dengan alasan sepele. Ibadah solat lima waktu? aku akui banyak bolong. Banyak sekali. Simak kisah hijrah bang Andi dengan klik halaman selanjutnya.

Pindah kerja dan hatiku mulai terketuk

Aku coba peluang baru. Setelah bekerja di tempat sebelumnya, aku ditawari untuk bekerja di instansi pemerintahan. Di sini ternyata hatiku mulai terketuk. Terlebih kala itu menteri yang menaungi instansi pemerintahan tempat aku bekerja dari partai Islam. Banyak hal religius yang diterapkan.

Salah satunya adalah pengajian. Ya, hobi lamaku saat masih bocah di desa. Kegiatan ini cukup rutin aku datangi, namun belum sepenuhnya mengubah diri ini yang bisa dibilang sangat kotor.

Namun, karena satu dan dua hal, pekerjaan di instansi pemerintah aku lepas. Aku kembali ke dunia pekerjaan lamaku. Di sini ternyata titik mulai perubahanku.

 ilustrasi

Sang pemilik perusahaan yang adalah kiai ternyata mengubahku sedikit demi sedikit. Dalam banyak kesempatan, sang bos sering mengadakan pengajian rutin malem kamis. Tanpa ragu aku ikut kegiatan tersebut, selagi aku juga nge-band. Lagu hardcore jadi pilihanku.

Singkat cerita, selepas pengajian, aku pulang ke Makasaar dan sang kiai memberinya pesan singkat; "Di, mau ikut saya? Penuhi panggilan Rasulullah," kata sang bos.

Ah bercanda, pikirku. Tapi, si bos membalas dengan kalimat serius, "Kalau urusan agama, saya tak pernah bercanda. Ini serius," katanya.

Lantas, baru saja aku mendarat di Makassar, esok paginya aku pergi lagi ke Jakarta. Mengurus passport. Ya, aku diajak Umrah!

Air mata pertamaku di Tanah Suci

Aku benar-benar pergi Umrah setelah 5 hari urus passport. Tapi, si bos tak ikut pergi. Alhasil, aku pergi dengan rekan kerja lainnya.

Aku pergi Umrah pada 2016. Tak ada hal begitu berubah saat perjalanan hari pertama. Aku masih suka 'ngecengin' teman-teman kerja. Aku masih tengil sampai akhirnya tiba di tanah suci.

Aku melihat pintu masuk ke tanah haram yang menyerupai Alquran raksasa. Melihat itu, aku meminta salah satu rekan kerjaku untuk 'menampol' pipiku, supaya ini membuktikan kalau aku benar-benar ada di tanah suci. Namun sayang, temanku menolak. Tak enak hati alasannya.

Setelah melewati pintu itu, aku melihat banyak sekali manusia berbaju putih. Hati kecilku menangis. Air mata menetes dari mata anak punk ini. Manusia kotor ini bisa berada di tanah suci Allah SWT. Lama aku terdiam, merenungi apa yang telah aku lakukan selama hidup.

Aku kemudian nyeletuk, "Banyak banget orang, nggak ada satu pun yang gue kenal. Siapa mereka semua ini?" Lantas temanku membalas dengan kalimat yang lagi-lagi menyentuh hati.

"Ini masih di dunia, bagaimana di padang masyar? Semua yang pernah bernyawa disatukan dan menunggu waktu diadili," kata temanku. Setelah mendengar itu, aku minta sekali lagi ditabok teman dan kali ini dilakukan. Sakit, tapi rasa itu membuktikan kalau saya benar ada di tanah suci.

 Ilustrasi umrah

Banyak kejadian aneh terjadi selama umrah

Aku masuk ke kawasan Masjidil Haram. Menginjakkan kaki di sana, bikin aku tenang tapi sekaligus takut. Terlebih saat jalan ke bagian tengah, di mana Kabah berada.

Kini aku melihat Kabah. Bangunan suci itu ada di depan mataku. Air mata kembali keluar. Tulang terasa lemas, semua memori keluar. Betapa 'bajingan'-nya aku sebelum berada di tempat ini. Aku sangat kotor dan kini ada di 'rumah' Allah.

Waktunya tawaf. Aku ketinggalan jamaah lain, tapi untung ada satu rekanku. Aku bersama dia melakukan tawaf.

Selepas itu, aku solat di depan makam Nabi Ibrahim. Saat sujud, kepalaku ditendang sebanyak 3 kali karena memang banyak jamaah lain. Rekanku terus menenangkanku, menasihati aku untuk tetap sabar dan ikhlas.

Kemudian, aku ke Safa Marwa. Di lokasi itu, aku didorong, dipukul, kaki keinjek berkali-kali. Lagi, aku coba sabar dan ikhlas dengan cobaan ini. Di momen ini, aku bertemu dengan rekan kerja yang lain, tapi rekan kerja sebelumnya yang bersamaku tak lagi ada di sekitarku.

Aku dan temanku tersesat. Kita hilang kurang lebih 2 jam lamanya. Karena letih mencari jalan keluar, aku memutuskan untuk solat taubat.

Selepas itu, kita kembali cari pintu keluar dan aku coba bertanya pada petugas yang berjaga di sana. Keajaiban terjadi, sang petugas menyatakan kalau pintu keluar ada di depanku saat ini. Ya, aku daritadi keliling dan tak tahu telah berbuat apa saja.

Tidak berhenti di situ, aku berkeinginan sekali untuk bisa mencium Hajar Aswad. Aku coba menerobos kerumunan manusia. Lagi-lagi, aku dapat dorongan, pukulan, hingga jambakan. Rintangan itu aku lalui dan Alhamdulillah, aku berhasil mencium Hajar Aswad. Tangisku pecah kembali di momen itu.

Selepas itu, sampai akhirnya di Madinah. Aku di sana merasa hati ini sangat tenang. Aku memahami Islam itu begitu damai, indah, dan lembut banget. Aku sedih baru mengetahui hal ini kala di Madinah.

Saat itu, aku kembali memutar memori. Saat aku bekerja dan pegang banyak uang, aku habiskan bukan untuk mencari ridho Allah SWT. Aku nggak pernah memanfaatkan uang untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada rasa penyesalan teramat besar di sana, tapi aku harus melanjutkan hidup.

Setelah beberapa hari di stanah suci, waktunya aku pulang ke rumah. Kembali ke Indonesia. Sebelum naik pesawat, Allah tetap mengujiku. Aku hampir ketinggalan pesawat!

Kembali ke Jakarta dan pintu hijrah pun terbuka lebar

Setelah menjalani ibadah umrah, aku berencana untuk ke rumah bosku. Mau bilang terima kasih padanya. Namun, kejadian besar terjadi!

Ya, saat di perjalanan menuju rumah bos, aku mengalami tabrakan yang sangat parah. Orang yang bertabrakan denganku tewas di tempat. Aku lemas, kakiku begitu sakit. Kerumunan warga pun datang mau menyerbuku.

Tapi, aku mengatakan pada mereka kalau aku siap bertanggung jawab dan aku jelaskan juga ke mereka kalau aku dalam perjalanan menuju tempat kajian. Aku mau mengaji, mendekatkan diri pada Allah.

Di momen itu juga, salah satu massa mendengar dari headset yang aku pasang, dia mendengar syalawat terputar di sana. Ya, sebelum berangkat, aku memang pemutar syalawat. Dan secara tidak sengaja itu terdengar oleh massa. Setelah itu aku diselamatkan.

Setelah aku mendapat pertolongan, salah seorang massa juga menjelaskan kalau korban tewas dari tabrakan itu baru saja minum alkohol dan mesum dengan perempuan. Dia juga diketahui salah karena saat mengendarai motor, jalan ang diambil melawan arah.

Itu adalah hadiah luar biasa yang Allah perlihatkan ke sana. Situasi di mana jika itu terjadi padaku, aku tak tahu akan bersikpa seperti apa. Aku tak ingin meninggal dunia dalam kondisi jauh dari Allah.

Setelah kejadian itu, lambat laun musik hardcore mulai aku tinggalkan. Semua yang berkaitan dengan musik "kenceng" aku lupakan. Ya, salah satunya juga dengan menjauhkan aku dari barang-barang tersebut.

Aku hibahkan semua barang seperti baju band luar negeri, gitar, bass, dan sounds, kepada teman-teman yang masih menyukai musik hardcore. Barang-barang itu ada kali selemari. Aku ikhlas, aku ingin mencari ridho Allah.

Sekarang aku paham makna ikhlas

Banyak perubahan yang terjadi selepas aku ibadah umrah. Selain melupakan permusikan, jika bicara mengenai hati, aku kini tenang dan mengerti makna ikhlas dan berserah diri.

Ya, mungkin dulu saat aku tak memiliki uang, aku akan menyalahkan Allah SWT. Kini, sikap itu benar-benar tak lagi aku lakukan. Aku kini lebih sabar dan menrima semua kehendak Allah. Aku sadar setiap hembusan napas yang aku hirup dan keluarkan sekarang, adalah kehendak Allah SWT. Itu makna ikhlas buatku sekarang.

Aku hanya ingin menyampaikan, perubahan yang aku alami ini berkat tangan bos aku yang juga merupakan seorang kiai. Karena dia, aku kembali disadarkan untuk mengenal Allah SWT.

Berkat kiai itu, aku diangkat dari tempat paling kotor dan hina. Setelah itu, dia masukkan aku ke tempat pembersihan. Makanya, sampai detik ini, aku bersyukur bisa kenal dengan sosok pria itu. Melalui tangannya, aku kini hijrah. Aku kini mengenal kembali Allah SWT.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini