MAKKAH – Haji adalah sebuah ibadah yang penuh berkah. Begitu juga dengan kedatangan jamaah asal Tanah Air yang turut memberikan keberkahan tersendiri bagi para mukimin Indonesia di Arab Saudi.
Mukimin sendiri berdasarkan penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bermukim (di Makkah). Mukimin sendiri kurang lebih bermakna warga yang menetap di Tanah Suci.
Baca juga: Di Usia 91 Tahun, Kakek Panut Tidak Menyangka Berangkat ke Tanah Suci
Salah satu mukimin yang telah menetap di Arab Saudi selama 21 tahun, Syaifudin, menuturkan kedatangan jamaah haji membawa berkah baginya dan sekira 20 orang warga negara Indonesia lainnya yang berjualan di kawasan Taisir, Jarwal, Kota Makkah.

Sejak kedatangan rombongan pertama jamaah, para mukimin selalu rajin menggelar dagangan. Paling tidak mereka menggelar barang jualannya selama masa haji yakni 40 hari.
"Jamaah haji membawa berkah," kata Syaifudin, di Makkah, Sabtu (3/9/2019).
Baca juga: Pergi Haji Pakai Motor: Alasan Bawa Balita hingga Mengumpulkan 1.000 Pesan Cinta
Kawasan Taisir memang menjadi pasar tumpah semenjak kedatangan jamaah haji. Umur pasar pun ini hanya sampai berlangsungnya ibadah haji.
"Ya, namanya juga pasar musiman," ungkap Syaifudin.
Dirinya merantau ke Arab Saudi sejak 1998. Kala itu Syaifudin menetap di Jeddah. Baru pada 2003, ia bermukim di Makkah.
Di Arab Saudi ini, Syaifudin bertemu dengan istrinya, Nafiz, yang bersama-sama berjualan. Kini mereka telah memiliki seorang anak.
"Saya nikah sudah sembilan tahun. Ketemu istri juga di sini," kata Syaifudin sambil menggedong putrinya yang masih balita.
Baca juga: Nenek Nurzanah Gigih Jual Gorengan hingga Bisa Berangkat Haji
Di sini, ia berjualan berbagai hidangan khas Jawa. Mulai bakso wong Solo yang dijual 5 riyal, urap seharga 6 riyal, bubur kacang ijo seharga 3 riyal, dan makanan khas Jawa lainnya.

"Masak berdua. Mulai masak dari malam," ungkap Syaifudin.
Baca juga: Di Tanah Suci, Nenek 91 Tahun Ini Berharap Kesembuhan Penyakitnya
Mengenai keuntungan, jangan ditanya. Sekali menggelar dagangan, paling tidak bisa mengantongi 1.000 sampai 1.500 riyal atau sekira Rp4 hingga 6 juta.
"Kalau jualannya pagi-malam, malah bisa sampai Rp10 juta," kata Syaifudin yang juga mengaku berjualan sejak pagi sampai malam.
Dia mengungkapkan hasil dari dagangan selama musim haji ini cukup untuk biaya hidup selama satu tahun di Makkah.
"Alhamdulillah, jualan selama musim haji sama seperti gaji setahun," kata Syaifudin.
Baca juga: Kisah Jamaah Haji Tunanetra Bisa Memeluk Kakbah
"Ibu-ibu yang jualan di sini juga begitu. Biasanya enggak apa-apa enggak jualan lagi (di luar musim haji). Hasilnya sudah cukup biasanya," tambah Syaifudin.

Jika tidak berjualan, dia mengaku bekerja di supermarket. "Jadi off dulu selama sebulan. Lumayan di sini," kata Syaifudin.
Baca juga: Bimbing Jamaah Haji Baca Niat, Ibu Eroh Sampai Serak
Meski begitu, berjualan ala kaki lima di kawasan ini bukan tanpa tantangan. Jika ada petugas baladiyah, tidak jarang mereka harus main "kucing-kucingan".
"Tapi, tahun ini alhamdulillah. Belum ada baladiyah ini," ungkap dia.
(Hantoro)