nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Islam di Indonesia Jadi Rujukan di Berbagai Belahan Dunia

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 19 Agustus 2019 19:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 19 614 2093964 islam-di-indonesia-jadi-rujukan-di-berbagai-belahan-dunia-ZNDesBnQkt.jpg Islam Nusantara jadi rujukan dunia (Foto: Freepik)

Terdapat lebih dari 700 suku, 600 bahasa lokal serta agama yang kian beragam. Perbedaan tersebut tidak menjadikan Indonesia berpisah, justru semakin erat persatuan.

Semakin eratnya persatuan tersebut disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI-NU) KH Abdul Ghafarrozin (Gus Rozin).

 Gus Rozin saat di seminar

“Kami di RMI meyakini bahwa bukan tidak mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi menjadi Islam di Indonesia menjadi rujukan di berbagai dunia,” katanya saat menjadi pembicara pada seminar 'Peta Jalan Islam Wasthiyah untuk Islam Indonesia dan Dunia: Kontribusi Pesantren' di gedung PBNU di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat, Senin (19/8/2019).

Gus Rozin menekankan pentingnya Islam Wasthiyah, Islam moderat, Islam toleran di negeri ini. Sampai saat ini, masyarakat luar negeri mensyukuri dan mengagumi Islam yang diajarkan dan dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia.

Selain itu, baru-baru ini telah lahir Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Lahirnya kampus tersebut juga dilandasi dari modal besar Indonesia sebagai rujukan Islam dunia.

Pesantren sebagai pendidikan tertua, memiliki modal kekuatan dan kelebihan dalam berkontribusi pada dunia. Hal tersebut juga menjadi kebesaran modal Islam di Indonesia, yakni sebagai rujukan Islam dunia dan tentu saja tidak terlepas dari NU yang merupakan wajah Islam mayoritas Nusantara.

"Pesantren memiliki beberapa kekuatan kelebihan yang saya kira bisa klik," katanya.

Selain itu, pesantren merupakan pusat literasi, sebagai kekuatan pendidikan dan banyak ulama pesantren yang melahirkan beragam karya. Seperti Syekh Nawawi al-Bantani dengan karya-karyanya lintas fan ilmu, Syekh Ihsan al-Jampesi Kediri.

"Belum lagi ada kiai yang membahas secara rinci mengenai hukum hewan-hewan laut dalam kitabnya yang berjudul ‘Aisyul Bahri," katanya.

Selain itu, terdapat juga pola pendidikan pesantren 24 jam dengan musyrif dan murabbi dan kyai yang mengolah pola tersebut adalah kyai terkuat (dari) pendidikan berkarakter.

Tak heran, terang Gus Rozin, jika para santri mengikuti tindak-tanduk kiainya dalam berbagai macam hal, termasuk pilihan politik.

"Karena proses karakterisasi ditentukan kiai juga. Maka para muridnya mengikuti para kiai," ujarnya.

1
3

Berita Terkait

Serba-serbi Muslim

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini