nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Menag Fachrul Razi Khutbah Jumat Tak Baca Salawat, Bagaimana Hukumnya?

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 07 November 2019 13:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 07 614 2126894 viral-menag-fachrul-razi-khutbah-jumat-tak-baca-salawat-bagaimana-hukumnya-glM3DgNpE4.jpg Menag Fachrul Razi. Foto: Screenshoot dari akun Youtube @Dosen Favorite

MENTERI Agama (Menag) Fachrul Razi menjadi khatib salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pekan lalu. Pasca menjadi khatib, di media sosial muncul video berjudul “VIRAL !!! Menteri Agama tidak membacakan sholawat nabi di awal khotbah Jumat”.

Video tersebut diunggah oleh akun Youtube Dosen Favorit pada 4 November 2019 dan sudah ditonton ribuan kali, serta dikomentari oleh warganet. Dalam rekaman itu tampak Menag Fachrul Razi membuka khutbah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT.

“Alhamdulillah segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas begitu banyak nikmat yang kita dapatkan dalam hidup ini,” ucapnya.

Hanya saja video khutbah itu dipotong, jadi hanya menampilkan 1 menit 21 detik. Dengan begitu tidak diketahui apakah dalam rekaman selanjutnya ia mengucapkan salawat atau tidak dalam berkhutbah.

Lalu bagaimana hukumnya jika khatib dalam khutbah Salat Jumat tidak disertai membaca salawat?

Dai Kondang Ustadz Abdurrohman Djaelani atau akrab disapa Udjae mengatakan, hukumnya batal jika dalam khutbah salat Jumat tidak disertai dengan salawat kepada Nabi Muhammada SAW.

"Batal kalau enggak ada salawat. Rukunnya enggak sah meninggalakan daripada salawat kepada Nabi Muhammad SAW karena itu adalah rukunnya," kata Udjae saat dihubungi Okezone, Kamis (7/11/2019).

Rukun khutbah ada lima, di antaranya:

1. Mengucapkan Alhamdulillah, yaitu dengan bentuk ucapan apapun yang di dalamnya mengandung pujian kepada Allah SWT.

2.Bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pelafalannya pun haruslah jelas, yakni tertuju kepada Nabi.

3. Berwasiat dengan dengan ketakwaan di kedua khutbah. Artinya menyampaikan pesan kebaikan-kebaikan.

4. Membaca salah satu ayat Alquran dengan jelas.

5. Di khutbah terakhir yaitu mendoakan kaum mukmin.

Jadi ketika Menag Fachrul Razi sedang khutbah Salat Jumat, semestinya ia memenuhi kelima rukun tersebut.

Semenatara itu dikutip dari laman NU Online, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi ketika akan melaksanakan salat Jumat supaya sah. Yaitu di antaranya:

1. Salat Jumat dan kedua khutbahnya dilakukan di waktu dzuhur. Yaitu berdasarkan hadist berikut ini:

أَنَّ النَّبِيَّكَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat Jumat saat matahari condong ke barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari sahabat Anas).

2. Dilaksnakan di area pemukiman warga. Seperti dikatakan Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُفِيْهَا

“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut”. (al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263, [Kairo: Dar al-Salam], cetakan ketiga tahun 2012).

3. Di rakaat pertama Salat Jumat harus dilaksanakan secara berjamaah

4. Jamaah Salat Jumat penduduk laki-laki muslim yang berada di tempat dilaksanakannya Salat Jumat, wajib mereka kecuali ada halangan yang darurat. Kemudian ibadah ini tidak wajib bagi musafir Muslim.

Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

قَالَ الْجَمَلُ الْحَبْشِيُّ فَاِذَا عَلِمَ الْعَامِيُّ أَنْ يُقَلِّدَ بِقَلْبِهِ مَنْ يَقُوْلُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ بِإِقَامَتِهَا بِأَرْبَعَةٍ أَوْ بِاثْنَيْ عَشَرَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِذْ لَا عُسْرَ فِيْهِ

“Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan Jumat dengan 4 atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan dalam hal tersebut”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.18).

5. Tidak didahului atau berbarengan dengan Salat Jumat lainnya di dalam satu desa. Misalnya, di daerah tersebut ada dua masjid yang melangsungkan salat tersebut, maka yang sah adalah di masjid pertama.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini