nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menag Fachrul Razi Diminta Prioritaskan Moderasi Beragama Ketimbang Radikalisme

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Jum'at 08 November 2019 08:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 08 614 2127215 urusi-radikalisme-menag-fachrul-razi-diminta-fokus-pada-fungsi-pendidikan-dan-keagamaan-VYuDE6svXe.jpg Menteri Agama Fachrul Razi. Foto: Arif Julianto/Okezone

PADA awal-awal masa kerjanya, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menghembuskan wancana larangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintahan. Hal itu memicu polemik di ruang publik dan memunculkan isu radikalisme.

Respons atas wacana larangan cadar dan celana cingkrang yang dihembuskan Menag Fachrul Razi itu datang dari berbagai pihak. Terbaru yang menyorotnya adalah Anggota Komisi VIII Fraksi PKS DPR RI, H. Nurhasan Zaidi.

Menurutnya statement larangan celana cingkrang dan cadar bagi aparatur sipil negara (ASN) yang diidentikkan dengan radikalisme akan menjadi catatan bagi msyarakat umum dan dunia usaha, sehingga perlu komunikasi publik yang baik untuk setiap langkah yang digulirkan.

"Kementerian Agama seharusnya mampu menghadirkan iklim kehidupan bernegara yang damai dan tenteram. Kita lihat isu radikal jauh lebih kencang dibandingkan dengan pesan moderasi beragama yang menjadi sasaran program prioritas kementerian, ini bahaya,” ucap Nurhasan lewat keterangan tertulisnya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Nurhasan meminta Menag Fachrul Razi bijak menerjemahkan pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang pengentasan radikalisme, dan mestinya itu tidak membuat Kemenag kehilangan fokus terhadap tupoksinya, yaitu fungsi keagamaan dan pendidikan.

Nurhasan berharap moderasi beragama harus lebih dikedepankan ketimbang mengurusi radikalisme. “Fungsi pendidikan dan keagamaan harus tercermin dalam visi yang diurai oleh menteri agama. Konsepsi moderasi beragama, kualitas pendidikan berbasis agama, keshalehan sosial, jamina produk halal, dan layanan keagamaan," ucapnya.

"Beban ini cukup berat, seluruh komponen harus sinergis bergerak, mulai dari menteri hingga tenaga honorer, tenaga penyuluh di lapangan, banyak hal yang perlu dibenahi,” tambah Nurhasan.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya sering berdialog dengan penyuluh-penyuluh agama. Penyuluh tersebut belum tersentuh secara optimal secara pembinaan dan penganggaran.

Penyulu itu, kata Nurhasan, hanya dapat intensif  Rp1 juta per bulan dengan tugas yang cukup berat dan mulia, berbeda dengan penyuluh-penyuluh lain semisal di sektor pertanian, peikanan, dan peternakan. 

"Di sektor pertanian, peikanan, dan peternakan ini 2 sampai 3 kali lipat," kata Nurhasan.

 "Karena itu, penyuluh agama yang merupakan ujung tombak kemenag harus menjadi prioritas untuk ditingkatkan kualitas dan isi tas nya pada APBN 2020”, pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini