nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Maulid Nabi, Kisah Ummu Habibah Sang Pemimpi Rasulullah

Viola Triamanda, Jurnalis · Sabtu 09 November 2019 09:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 09 614 2127702 maulid-nabi-kisah-ummu-habibah-sang-pemimpi-rasulullah-b5fJR4LeoJ.jpg Ilustrasi Kota Madinah zaman dulu (Travelstart)

Peringatan Maulid Nabi merupakan peringatan hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW. Umat Islam dari berbagai penjuru dunia merayakannnya sebagai rasa syukur kepada Allah karena telah mengirim sang pemberi peringatan kepada umat manusia.

Maulid Nabi selain diisi dengan berbagai amalan seperti salawat juga diisi dengan menceritakan kisah perjalanan Nabi Muhammad. Termasuk mengisahkan kehidupan Nabi bersama orang terdekatnya seperti istri-istrinya, anak-anaknya, dan sahabatnya yang bisa dijadikan teladan kehidupan.

 Ummu Habibah awalnya hidup dalam kesendirian usai ditinggal mati suaminya

Kali ini dikisahkan mengenai pernikahan antara Rasulullah SAW dengan Ummu Habibah yang pernah memimpikannya sehingga ia disebut sebagai Sang Pemimpi Rasulullah.

Ummu Habibah merupakan orang yang tepercaya dan mulia. Ia adalah perempuan yang sabar dalam menghadapi berbagai musibah. Ia juga perempuan suci yang senantiasa berzikir di tengah kegelapan malam.

Seperti dilansir dari Buku 39 Tokoh Wanuita Pengukir Sejarah Islam, Ummu Habibah merupakan seorang putri pemimpin Quraisy dan pentolan kaum musyrikin hingga menjelang penaklukan Kota Makkah. Hingga akhirnya, sang putri menjadi perempuan yang beriman meskipun ayahnya, Abu Sufyan, saat itu adalah orang yang sangat kafir.

Namun Abu Sufyan tidak bisa membelokkan niat putrinya agar tetap menjadi perempuan kafir untuk mengikuti agama ayahnya serta nenek moyangnya. Bahkan, sang putri menampakkan kekuatan pribadi dan tekatnya hinggah rela menanggung berbagai kesulitan dan teror, demi menjaga akidah Islamnya.

Ummu Habibah, sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, pernah menikah dengan Ubaidillah ibn Jahsy al-Asdi, seorang singa Bani Khuzaimah. Ubaidillah membawa Ummu Habibah menginggalkan Makkah demi hijrah ke Habasyah.

Di sana, Ubaidillah rupanya tak kuat iman hingga akhirnya keluar dari Islam. Namun Allah telah menyempurnakan keislaman Ummu Habibah hingga saat ia datang ke Kota Madinah.

Ummu Habibah suatu ketika menceritakan, "Aku bermimpi melihat Ubadillah ibn Jahsy, suamiku, dalam bentuk yang sangat buruk dan dekil. Aku pun terbangun dan berkata: 'Demi Allah ia telah berubah.

Keesokan harinya, Ubaidillah mengatakan: 'Hai Ummu Habibah, sungguh aku telah melihat agama-agama dan tidak kutemukan agama yang lebih baik dibandingkan dengan agama ini dan aku telah memeluknya sebelum masuk ke dalam agama Muhammad (Islam). Sekarang aku kembali pada agama ini.

Ummu Habibah menyahut: Demi Allah, itu bukanlah yang terbaik untukmu. Selanjutnya, aku ceritakan mimpi yang kualami, tetapi ia tidak menghiraukan. Ubaidillah justru sibuk menikmati khamr sampai mati.

Dalam kesempatan yang lain, Ummu Habibah juga menceritakan mimpi yang ia alami. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Ummu Habibah mengatakan, "Aku bermimpi seakan ada orang yang datang dan berkata: Wahai Ummul Mukminin."

Aku pun bangun dan kutafsirkan mimpi itu bahwa Rasulullah SAW akan menikahiku. Begitu masa iddah-ku habis dan begitu aku sadar kulihat utusan an-Najasyi di depan pintu rumahku. Ia meminta izin untuk bertemu. Ternyata ia seorang budak wanita Najasyi bernama Abrahah yang datang menemuiku hendak menyampaikan pesan berkata:

Tuan raja hendak mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah SAW telah mengirimkan surat kepadaya yang berisi kabar bahwasanya beliau hendak menikahimu. Aku pun menjawab: Semoga Allah memberimu kabar gembira dengan kebaikan.

Ini merupakan sebuah mimpi Ummu Habibah sebelum dinikahi oleh Rasulullah SAW. Dan akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan.

Ummu Habibah tinggal di negeri hijrah Habasyah sebagai perempuan yang sibuk beribadah serta ridha terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Ia sempat begitu terpukul oleh peristiwa murtadnya Ubaidillah, sang suami, yang kembali ke agama lain.

Ia perempuan yang sabar dalam merasakan suka duka di pengasingan dan kesendirian, jauh dari keluarga dan tanah air demi imannya yang dalam. Hal yang demikian itu telah membuatnya lebih cenderung untuk ber-taqarrub kepada Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah, hari-hari dalam hijrah itu ia lewati dalam siksaan sebagai seorang janda yang kehilangan sang suami. Namun, karena ia telah dianugerahi iman yang begitu tulus, Ummu Habibah mampu bersikap tabah dalam menghadapi ujian berat tersebut.

Allah SWT menghendaki meneguhkan tekat Ummu Habibah, memberinya mahkota kesabaran, dan memberikan balasan terbaik atas segala cobaan yang dihadapinya. Hal itu terjadi ketika pembantu an-Najasyi mengetuk pintunya untuk menyampaikan kabar gembira atas pinangan Rasulullah SAW terhadap dirinya: "Wahai Ummu Habibah, tuanku raja mengatakan kepadamu: Pilihlah siapa orang yang akan menikahkanmu.

Ummu Habibah mengirim utusan kepada Khalid ibn Sa'id ibn 'Ash untuk menyerahkan pernikahan dirinya. Ia berikan kepada Abrahah, pelayan Raja an-Najasyi itu, dua buah gelang dari perak dan dua binggel (gelang kaki), serta beberapa cincin perak. Semua itu sebagai ungkapan kegembiraan atas kabar gembira yang disampaikannya.

Ketika malam tiba, Raja an-Najasyi memanggil Ja'far ibn Abi Thalib dan orang-orang muslim yang ada di sana. Mereka semua segera hadir kemudian an-Najasyi menyampaikan pidato dan mengatakan, "Segala puji bagi Allah al-Malik al-Quddus as-Salám al-Mukmin al-Muhaimin al-Aziz al-Jabbar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Beliaulah Nabi yang dikabarkan oleh Isa AS. Amma ba'du, sesungguhnya Rasulullah SAW telah menulis surat kepadaku agar aku menjodohkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Aku pun mengiyakan apa yang diserukan oleh Rasulullah itu dan aku telah memberikan mahar kepada Ummu Habibah sebanyak 400 dinar."

Khalid ibn Sa'id ibn 'Ash, wakil dari pihak Ummu Habibah, berdiri dan berkata, "Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya, meminta bantuan dan pertolongan kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Rasul yang Dia utus untuk membawa hidayah dan agama yang benar agar diberi kemenangan atas semua agama meski tidak disukai oleh kaum musyrikin. Amma ba'du, aku benar-benar melaksanakan (menerima) apa yang diserukan oleh Rasulullah SAW. Aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Semoga Allah memberkahi Rasul-Nya yang mulia."

Raja An-Najasyi menyerahkan dinar-dinar kepada Khalid ibn Sa'id yang segera menerimanya. Ketika itu, para hadirin hendak berdiri, tetapi Raja an-Najasyi berkata, "Duduklah, karena salah satu sunnah para nabi saat menikah adalah dengan makan makanan untuk pernikahan."

Raja An-Najasyi segera memerintahkan untuk menyuguhkan makanan. Akhirnya, mereka pun makan bersama-sama.

Ummu Habibah yang pada saat itu berada di rumahnya menanti dengan senang akan pertemuan dengan kekasih terbaik dan pusat pancaran cahaya Rasulullah SAW. Perasaan bahagia bercampur takut menyelimuti dirinya.

Ummu Habibah mendengar suara para laki-laki yang berkumpul dalam walimah yang diselenggarakan dalam pernikahan dirinya. Ia pun semakin memancarkan kebahagiaan dan kegembiraan. Harapan yang ia bawa dalam hidupnya telah tampak saat Rasulullah mengirim utusan untuk melamar dirinya.

Harapan untuk bertemu dengan Rasulullah segera terwujud. Sebelum malam berlalu, ia akan hadir di hadapan Rasulullah dan duduk di sisi beliau, berbisik, dan menyampaikan apa yang ia harapkan.

Raja Najasyi pun merintahkan para istrinya untuk memberikan segala wewangian yang mereka miliki kepada Ummu Habibah. Pada keesokan harinya, datanglah dari mereka kayu wangi, daun waras, minyak anbar, dan banyak macam wewangian lainnya. Dengan memakai semua itu, Ummu Habibah mendatangi Nabi Muhammad SAW. la berkata, "Beliau melihat segala yang aku pakai dan beliau tidak mengingkarinya."

Ketika Ummu Habibah tiba di Madinah, Rasulullah SAW menyuruh Bilal untuk segera memegang tali kekang hewan tunggangan yang ditunggangi oleh Ummu Habibah dan menurunkannya di rumah Rasulullah sebagaimana yang diperintahkan oleh beliau. Setelah itu, Rasulullah diizinkan untuk menemui Ummu Habibah.

Ketika masuk menemui Ummu Habibah dan mencium aroma wewangian yang dipakai, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya mereka adalah para wanita Quraisy tulen, orang-orang desa, bukan badui maupun a'robi.

Demikianlah, Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Ummu Habibah yang mulia, jujur, dan beriman pada tahun ke-7 H setelah perjanjian Hudaibiyah. Ummul Mukminin itu pun memasuki rumah Nabi untuk hidup di antara cahaya Islam dan sinaran iman, serta menemani perjalanan hidup Rasulullah SAW.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini