nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Inggris, Salawat Menggema dari London hingga Edinburg

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 29 November 2019 18:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 29 614 2136123 di-inggris-salawat-menggema-dari-london-hingga-edinburg-fWg11R9Cus.jpg Salawat menggema di London (Foto: Visit London)

Umat Islam menunjukkan rasa cintanya kepada Rasulullah SAW dengan sering melantunkan salawat.

Melantunkan salawat merupakan bentuk pengakuan cinta, pengikraran kasih kepada Nabi Muhammad SAW. Salawat bukan hanya sekedar bacaan biasa saja, namun sebenarnya sangat luar biasa bagi yang mengetahui apa tujuan dan nilai di dalamnya

 London

Sekretaris PCINU United Kingdom, Koordinator Jaringan Media PCINU Sedunia, Munawir Aziz mengatakan, kerinduan terhadap sosok Kanjeng Nabi Muhammad tidak pernah pudar di kalangan santri, warga Nahdliyin, walaupun tinggal di berbagai negara yang jauh dari Indonesia.

"Di Inggris, negerinya Ratu Elisabeth salawat menggema dari London hingga Edinburg, dari United Kingdom hingga Skotlandia," ujarnya.

Kebetulan, terang Munawir, PCINU United Kingdom kehadiran lima ustadz dan ustadzah dari Jawa Barat, yang dipimpin oleh Kiai Ridwan Subagya.

Mereka mengunjungi beberapa kota di Inggris, bertemu banyak kelompok, lintas agama, lintas komunitas. Teman-teman NU Inggris dan komunitas muslim lain saling membantu menyiapkan agenda, merumuskan acara.

Salawat bergema di sepanjang bulan Maulid. Keberkahan yang tidak direncanakan sebelumnya. Semua larut dalam lantunan Shalawat.

Bahkan, rombongan pendakwah Islam Indonesia ini juga berkesempatan berdialog dengan komunitas Yahudi dan Kristen Anglikan. Di Inggris, mereka berkesempatan dialog dengan teman-teman lintas agama, lintas komunitas yang ikut membangun jembatan persaudaraan.

Mereka, ujar Munawir, ikut mengenalkan Islam Indonesia yang berkarakter damai, toleran, moderat, membantu identifikasi citra Islam global yang penuh rahmah, di antara orang-orang Barat.

Selama ini, kata dia, wajah Islam internasional tidak sepenuhnya tersenyum. Masih ada nuansa kebencian, teror, sekaligus kengerian di antara orang-orang Eropa ketika memahami Islam.

Orang Eropa menatap wajah Islam dari televisi, media massa dan yang termutakhir media sosial. Ironisnya, wajah Islam yang muncul dari sebagian besar pemberitaan media, framing redaksi, serta pemaknaan isu dari jaringan kantor berita lebih senang menyorot konflik di Timur Tengah.

Seperti dilansir NU Online, kisah-kisah pemberontakan, demonstrasi, kudeta dan beragam konflik sosial-politik di negara-negara Timur Tengah menghiasi media-media di Eropa. Pemaknaan terhadap politik negara-negara berpenduduk Islam di kawasan Timur Tengah inilah yang selama ini menjadi konsumsi warga Eropa.

"Maka, tidak heran apabila mereka memandang Islam dengan sepenggal, hanya dari sorotan media. Maka, alangkah indahnya ketika warga Inggris Raya menikmati alunan salawat, nada-nada yang selama ini asing di telinga mereka," terang Munawir.

Misi dakwah dari ustadz dan ustadzah dari Jawa Barat memberikan wajah Islam yang berbeda, Islam yang lebih segar, Islam yang lebih ramah. Berkah Maulid juga semarak di negara-negara lain.

"Teman-teman PCINU mengorganisir agenda silaturahmi, konsolidasi, pertemuan rutin yang merekatkan persaudaraan. Salawat menggema di pertemuan-pertemuan ini. Kerinduan terhadap sosok Kanjeng Nabi Muhammad yang membuncah, kangen yang tidak tertahankan," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini