nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Quraish Shihab: 3 Kunci Menerapkan Moderasi Beragama, Pertama Pengetahuan

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 08:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 02 614 2136749 quraish-shihab-3-kunci-menerapkan-moderasi-beragama-pertama-pengetahuan-FU7wNMzMvd.jpg Quraish Shihab. Foto: dok.Okezone

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) sedang gencar-gencarnya menggaungkan wasathiyah atau moderasi beragama. Moderasi tersebut diperlukan agar tercipta kehidupan sosial yang tenteram dan damai.

Sementara itu Pakar Tafsir Alquran Indonesia, Quraish Shihab menjelaskan tiga faktor penting untuk mensukseskan moderasi beragama.

Menurutnya, ada tiga kunci seseorang bisa menerapkan wasathiyah atau moderasi beragama. Tiga kunci itu ialah pengetahuan, mengganti emosi keagamaan dengan cinta agama, dan selalu berhati-hati.

Pengetahuan yang dimaksud adalah mengetahui tentang ajaran agama dan kondisi masyarakatnya. "Tanpa mengetahui itu, tidak akan bisa (menerapkan moderasi). Semua (perbedaan) bisa ditampung oleh wasathiyah," ujarnya.

Contoh pengetahuan tentang ajaran agama, ialah seperti zakat fitrah dengan menggunakan uang. Kata Quraish Shihab, boleh tidaknya uang untuk zakat fitrah terjadi perbedaan di antara ulama madzhab.

Madzhab Hanafi membolehkan, sementara mazhab Syafi'i tidak membolehkan. Perbedaan antara kedua mazhab juga terjadi misalnya dalam hal apakah qunut saat saalat subuh itu sunnah atau bukan.

Menurutnya, untuk menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada, maka seseorang diharuskan memiliki pengetahuan, sehingga nantinya tidak mudah menyalahkan.

Baginya, selama prinsipnya sama, seperti Tuhan itu Esa, Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan menyakini kebenaran Alquran, maka seseorang atau sekelompok orang tidak perlu saling menyalahkan.

Kunce kedua moderasi beragama, yaitu mengganti emosi keagamaan dengan cinta keagamaan. Penulis Tafsir Al-Misbah ini menyatakan, emosi keagamaan bisa menjadikan seseorang melanggar agamanya. Ia mencontohkan, seseorang rajin salat tahajud dan yang lainnya tidak.

Menurutnya, jika orang yang gemar tahajud ini tidak bisa mengubah emosi keagamaan menjadi cinta keagamaan, maka akan mudah menyalahkan orang yang tidak rajin salat tahajud.

Ketiga, selalu berhati-hati. Ia mengatakan, tidak ada satu kegiatan positif yang setan tidak datang kepada seseoeang, kecuali meminta seseorang tersebut untuk melebihkan atau menguranginya.

Quraish Shihab memberi contoh, saat seseorang hendak memberikan uang Rp50 ribu ke pengemis, setan datang dengan membisiki. Bisikan itu berupa permintaan untuk melebihi atau mengurangi nilainya.

"Boleh jadi dia (setan) berkata begini, Rp50 ribu, waduh terlalu sedikit, tambah, dong. Bisa jadi juga mengurangi, terlalu banyak (red. Rp50 ribu itu). Itu setan begitu. Jadi harus hati-hati. Kalau tidak Anda tidak bisa menerapkan wasathiyah," ucapnya sebagaimana dikutip dari NU Online pada Senin (2/12/2019).

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini