nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melongok Kehidupan Muslim Tepi Sungai, Berjuang Cari Sumbangan Demi Musala

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 19:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 02 614 2136991 melongok-kehidupan-muslim-tepi-sungai-berjuang-cari-sumbangan-demi-musala-UYCeHDIT9M.jpg Masyarakat tepi sungai (Foto: Kemenag)

Indonesia memiliki masyarakat yang majemuk, mereka ada yang hidup di kota-kota. Namun ada juga masyarakat muslim yang hidup di tepi sungai.

Kali ini kita akan berkisah mengenai masyarakat muslim yang hidup di tepi sungai. Tepatnya Sungai Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk, Banjar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Bagi urang banua banjar, sungai memiliki arti mendalam. Di sanalah urat nadi masyarakat Banjar bermula. Tak heran jika kemudian pasar terapung menjadi ikon yang tak terlepaskan dari Banjarmasin.

Sejarah dimulainya Pasar Terapung Lok Baintan tak lepas dari keberadaan Kesultanan Banjar. Perkembangan Islam yang cukup pesat pada masa Kesultanan juga turut mewarnai kehidupan masyarakat Lok Baintan.

Beberapa kisah menyebutkan, kebiasaan akad dalam transaksi ekonomi masyarakat yang hidup dari sungai seperti Pasar Terapung Lok Baintan menjadi adat kebiasaan yang dicetuskan oleh Syekh Muhammad Al-Arsyad Banjari dalam Kitab Sabilal Muhtadin.

Warna Islam pun begitu terasa bila kita bertandang ke perkampungan yang berada di sekitar sungai Lok Baintan ini.

“Masyarakat tepi sungai di sini 100 persen beragama Islam. Musala-musala di sini pun aktif dan rutin mengadakan pengajian mingguan,” ujar salah seorang penduduk tepi Sungai Lok Baintan, Nafiah.

Menurut Nafiah yang merupakan pria paruh baya ini, kehidupan keagamaan di Lok Baintan banyak dilakukan oleh masyarakat setempat. Untuk biaya keberlangsungan musala diperoleh dari dana yang dikumpulkan dari masyarakat. “Orang yang azan di sini (muadzin) digaji Rp50 ribu per bulan.”

Seiring waktu, kebutuhan untuk penyediaan sarana ibadah pun bertambah. “Beberapa kali bantuan daerah dan dana desa juga diterima untuk pembangunan musalla dan madrasah. Namun, kebutuhan fasilitas masyarakat desa sekitar sungai terus bertambah sehingga perlahan beberapa musala perlu dibangun atau direnovasi,” terang Nafsiah.

 mencari sumbangan

Kebutuhan musala dan madrasah, lanjut dia, sangat tinggi. "Jadi kami bergotong-royong, termasuk mengumpulkan dana melalui pasar apung ini.”

Nafiah juga ikut membantu mencari dana bagi perbaikan musala. Kapalnya bertuliskan, "Mohon sumbangan untuk pembangunan pelabuhan dan pagar musala Bahrunnur."

Pasar terapung Sungai Lok Baintan hanya buka mulai pukul 06.00 - 08.00 WITA ini dimanfaatkan Nafiah untuk mengumpulkan dana pembangunan musala sebesar Rp75 juta. “Masih perlu banyak, tapi Alhamdulillah usaha dengan meminta sumbangan di pasar apung ini amat membantu sekali, sekitar 500 ribu dapat dalam sehari” jelasnya.

Nafiah menerangkan, keberadaan rumah ibadah menjadi hal penting bagi masyarakat Lok Baintan yang religius.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Madrasah Raudhatul Islamiyah Lok Baintan, M. Rafi’i. Tak hanya musala atau masjid, madrasah juga telah menjadi pusat kegiatan masyarakat Lok Baintan sejak lama.

Ia pun mengisahkan, Madrasah Raudhatul Islamiyah telah berdiri di desa tersebut sejak 62 tahun yang lalu. Dimulai dengan membangun Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1957, dilanjutkan dengan pembangunan Madrasah Tsanawiyah (MTS) pada tahun 1983 dan Madrasah Aliyah (MA) pada tahun 2013. Selama itu pula, madrasah ini menjadi tempat utama masyarakat Lok Bintan menuntut ilmu.

Di tempat ini, terang Rafi'i, orangtua yang mayoritas adalah pedagang dan petani menitipkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan lainnya. “Masyarakat di sini sangat agamis dan religius. Keberadaan madrasah di sini sangat mendukung,” katanya.

Tingkat religiusitas yang cukup tinggi ini yang menurut Rafi’i membuat masyarakat lebih memilih pendidikan madrasah dibandingkan sekolah umum. “Masyarakatnya memang religius, oleh karena itu di sini madrasah lebih laku daripada SD negeri,” imbuhnya.

Seperti dilansir dari website Kemenag, keberadaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menurut Rafi’i juga telah membantu keberlangsungan madrasah ini. Selain itu, Rafi’i juga tak menutup mata dengan adanya sumbangan yang diberikan para wisatawan yang berkunjung di pasar apung.

 mencari sumbangan

“Dalam lima hari, kita biasanya mendapatkan sumbangan sekitar 700 ribu dari aktivitas di pasar apung,” kata Rafi’i.

“Ini sangat mendukung, seperti orang tua miskin yang ingin menyekolahkan di sekolah agama, anaknya bisa sekolah ke MTS ini karena biaya SPP nya pun gratis,” tambah Rafi’i.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini