nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alquran dan Sains, di Balik Proses Reproduksi Manusia

Nada Husna, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 17:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 02 614 2137026 alquran-dan-sains-di-balik-proses-reproduksi-manusia-oBFmQNpWVn.jpg Proses pembuahan dalam reproduksi manusia (Foto: Boldsky)

Sebagaimana kita ketahui bersama manusia berkembang biak melalui sistem reproduksi. Tapi jauh sebelum ilmu pengetahuan menemukan jawaban, Alquran sudah terlebih dahulu menguraikan detail proses reproduksi manusia dalam berbagai surat dan ayat.

Di era Plato dan Aristoteles muncul teori terciptanya embrio untuk menjelaskan proses reproduksi manusia. Namun teori ini menuai pro dan kontra. Penganut dua teori ini juga sama-sama belum tahu bahwa sperma dan indung telur mempunyai peran yang sama dalam pembentukan embrio.

Pengetahuan berkembang pesat setelah Morgan pada 1912 menguraikan peranan gen dalam penurunan sifat. Kemudian baru pada abad 18 manusia mengetahui teori perkembangbiakan manusia, saat itu pembuktiannya belum sepenuhnya dilakukan.

Teori-teori tersebut lalu dikonfirmasi oleh pembuktian-pembuktian yang didasarkan pada temuan-temuan baru pada permulaan abad 20. Teori yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan pada abad 20 itu justru sudah diuraikan jauh ratusan tahun sebelumnya dalam Alquran.

Dalam buku berjudul “Tafsir Ilmi : Penciptaan Manusia dalam Perspektif Alquran dan Sains” disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, uraian tersebut salah satunya ada dalam Alquran ayat ke-2 surah Al-Insan.

Ayat ke-2 surah Al-Insan mengindikasikan adanya campuran antara unsur yang datang dari laki-laki dan wanita dalam pembentukan embrio.

Allah SWT berfirman :

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan 76: Ayat 2)

Kata “setetes mani” pada ayat di atas adalah terjemahan dari bahasa Arab nutfatin amsyaj yang artinya bercampur, yaitu bercampurnya air mani yang berasal dari laki-laki dan perempuan.

Kata nabtalihi pada ayat di atas dalam bahasa Arab yang artinya yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), yakni Kami menciptakannya karena Kami ingin mengujinya dengan kebaikan dan keburukan serta dengan beban syariat.

Kemudian kata faja'alahu sami’an basira pada ayat di atas dalam bahasa Arab artinya karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat, yakni Kami menciptakan baginya panca indra agar memudahkannya untuk memahami, sehingga memungkinkan untuk diberi ujian dan cobaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini