nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kiai Abdullah bin Nuh, Ulama yang Mengisahkan Keindahan Tanah Pasundan hingga ke Negeri Arab

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 14 Januari 2020 14:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 14 614 2152719 kiai-abdullah-bin-nuh-ulama-yang-mengisahkan-keindahan-tanah-pasundan-hingga-ke-negeri-arab-yZX1W46sJM.jpg Keindahan Tanah Pasundan (Foto: Pixabay)

Kiai Abdullah bin Nuh merupakan seorang ulama, penyair juga penyiar kemerdekaan Indonesia. Selain alim dalam berbagai literatur keagamaan Islam, ia juga penyair yang menulis ribuan bait puisi berbahasa Arab.

Pengurus Pondok Al-Ghazali di Bogor, Turmudzi mengatakan, Diwan Ibn Nuh yang ditulis oleh Kiai Abdullah bin Nuh terdiri dari 8.000 bait. Kepiawaiannya menulis syair-syair berbahasa Arab itu diperolehnya sejak masih kecil.

"Saat berusia 13 tahun, Kiai Abdullah bin Nuh pernah meraih juara puisi Arab di Mesir," kata Turmudzi sembari menunjukkan kitab kumpulan puisi Kiai Abdullah tersebut.

Turmudzi menjelaskan, Kiai Abdullah adalah seorang poliglot karena mampu berbicara sembilan bahasa. Ia juga ulama yang produktif menulis. Masih banyak karyanya dalam bentuk manuskrip yang belum tersentuh penelitian dan belum dicetak.

Keindahan Tanah Pasundan

Sementara itu, Penulis Mahakarya Ulama Nusantara, Ahmad Ginanjar Sya'ban mengatakan, puisi-puisi Kiai Abdullah berisi tentang keindahan Tanah Pasundan. Oleh karena itu tak heran jika bangsa Arab tertarik untuk berkunjung ke Jawa Barat.

Bahkan, terang Ginanjar, suatu ketika ada orang Arab yang hendak menemuinya. Ia mengira Kiai Abdullah adalah orang Arab mengingat syair-syairnya yang begitu puitis dan sarat makna.

Selain itu, puisi-puisi berima rojaz itu juga berisi tentang tokoh-tokoh dan institusi pendidikan di Tanah Arab.

Ginanjar dalam kesempatan tersebut juga mendeklamasikan puisi tentang Al-Azhar Al-Syarif, sebuah institusi pendidikan penting yang berlokasi di Kairo, Mesir. Syair-syair ulama yang begitu menggemari Imam Al-Ghazali itu juga berisi tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Seperti dilansir NU Online, Kiai Abdullah juga dikenal sebagai pejuang yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia ke Timur Tengah melalui radio. Dengan kemahirannya dalam berbahasa Arab, ia menerjemahkan berita tersebut ke bahasa Arab.

Dalam sebuah karyanya, Ngatawi Al-Zastrouw membacakan bahwa kiai yang lahir di Cianjur pada 30 Juni 1905 itu menyatakan Pancasila sebagai jalan tengah di tengah liberalisme dan sosialisme.

Di samping itu, masih banyak karya lainnya, seperti terjemah Ihya Ulumiddin, Ana Muslim Ana Sunni Ana Syafi'i, Al-Tarikh Al-Islami dan Imam Al-Muhajir yang ditulisnya bersama Muhammad Dhiya Syahab, hingga sebuah tulisan yang berisi komentarnya atas pemikiran-pemikiran Barat.

Kiai Abdullah bin Nuh wafat pada 26 Oktober 1987 di Bogor dan dimakamkan di Cianjur berdampingan dengan ayahnya, KH R Muhammad Nuh. Namun, ketika istrinya meninggal pada tahun 2012, jasadnya dipindahkan dari Cianjur ke Bogor di dalam komplek Pondok Pesantren Al-Ghazali. Meski sudah 25 tahun dikebumikan, jasadnya masih utuh.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini