nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Alquran Diproduksi pada Masa Lampau

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 03:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 14 614 2152880 begini-alquran-diproduksi-pada-masa-lampau-MekwJzfT8E.jpg Alquran pada masa lampau (Foto: BBC)

Kertas yang digunakan untuk menyalin Alquran pada masa lampau merupakan kertas Eropa. Disebut kertas Eropa karena kertas itu dibuat di Eropa dan dipasarkan di Nusantara.

Pada umumnya, kertas Eropa yang digunakan untuk menyalin Alquran diproduksi dari negara Belanda, Inggris, dan Italia. Lalu bagaimana cara kita agar mudah mengenali kertas Eropa?

 Alquran zaman dulu

Hal ini bisa diketahui dengan menerawang kertas di mana terdapat garis tebal berjarak sekitar 2,5 cm, dan garis tipis berjarak sekitar 1 mm. Secara fisik, kertas Eropa mirip dengan kertas merek Conqueror pada zaman sekarang.

Sedangkan kertas yang digunakan pada mushaf dari Langitan, Tuban, juga merupakan kertas Eropa. Berbeda dengan kertas yang berasal dari Nusantara. Ada yang disebut dengan istilah dluwang.

Dluwang terbuat dari kulit pohon. Berbeda dengan kertas Eropa dibuat dari bubur kertas, dan jika mengikuti definisi itu, maka sesungguhnya dluwang tidak bisa disebut kertas, karena prosesnya sangat berbeda, karena benar-benar dibuat hanya dari kulit pohon.

Cara membuat dluwang biasanya dengan dipukul-pukul, berbunyi, "Dhok-dhok." Oleh karena itu di Jawa Timur biasa dikenal sebagai kertas gedhok. Nama Latin pohonnya adalah broussonetia papyrifera vent, atau paper mulberry dalam bahasa Inggris, yang dalam budaya lain sering dibuat tapa sebagai pakaian tradisional.

Seperti dilansir dari Suara Muhammadiyah, di Sunda disebut pohon saeh, semacam pohon waru di Jawa, yang memang mempunyai serat kuat pada kulitnya.

Sebagian masyarakat tidak mengetahui dluwang, dan menyangkanya sebagai kulit binatang seperti kulit kambing atau onta. Pada tahun 2009, di museum di Kelantan, Malaysia, seorang petugas tergopoh-gopoh menunjukkan sebuah koleksi Alquran yang disebutnya terbuat dari kulit onta.

Namun saat dilihat bisa dipastikan itu adalah dluwang bukan kulit onta. Alquran kuno yang ditunjukkan tersebut kemungkinan besar berasal dari Jawa.

Dalam mushaf dari Langitan ini, dluwang hanya digunakan untuk melapisi sampul bagian dalam, sementara semua teks dalam Alquran ditulis dengan kertas Eropa. Penggunaan dluwang untuk melapisi kulit mushaf bagian dalam karena dluwang memang lebih kuat dibandingkan kertas Eropa.

Kertas Eropa dibuat dari bubur kertas, oleh karena itu cukup rawan sobek, sedangkan dluwang dibuat dari serat kulit kayu yang cukup kuat. Lapisan dluwang untuk sampul akan memperkuat mushaf ini, karena mushaf sering dibuka-tutup untuk dibaca pemiliknya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini