nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Hukum Menyusui Bayi di Tempat Umum?

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 05 Februari 2020 10:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 05 330 2163573 bagaimana-hukum-menyusui-bayi-di-tempat-umum-n8HQuMTbjy.jpg Ibu terkadang menyusui anak di ruang publik (Foto: Babyi Centre)

Terkadang ibu-ibu tak sengaja menampakkan payudaranya di depan orang lain karena menyusui sang bayi di tempat umum. Kejadian ini bisa terjadi saat di tempat umum seperti di mal, pasar, bahkan angkutan umum.

Saking lumrahnya, bahkan masyarakat sering tak mempersoalkan ibu-ibu yang menyusui bayinya di tempat umum.

 bayi menangis karena lapar

Lalu bagaimanakah hukum menyusuai bayi di tempat umum hingga tampak auratnya? Bagaimanakah solusinya?

Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, Fitrianti Mariam Hakim menjelaskan, guna menjawab beberapa permasalahan tersebut, kita harus tahu bahwasanya ijma (konsensus) ulama telah menetapkan kewajiban menutup aurat bagi perempuan.

Ijma’ ini didasarkan terhadap firman Allah SWT,

يا أيها النبي قل لأزواجك و بناتك و نساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدني أن يعرفن فلا يئذين و كان الله غفورا رحيما

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya nereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Berdasarkan ayat di atas, perempuan diperintahkan untuk menutup seluruh auratnya. Jilbab yang dimaksud dalam ayat ini adalah baju kurung yang bisa menutupi seluruh anggota badan.

Berdasarkan konteks sebab turunnya ayat ini, penggunan jilbab bertujuan sebagai penanda bahwa perempuan tersebut adalah perempuan merdeka (al-hurrah). Karena di zaman Nabi, perempuan jarang sekali menggunakan busana yang menutupi seluruh anggota badannya selain wajah dan telapak tangan. Akibatnya, mereka sulit untuk dibedakan antara perempuan merdeka atau budak.

Dengan menutupi seluruh tubuhnya, perempuan tersebut akan terpelihara dari berbagai gangguan tangan usil, kata-kata tidak pantas, senonoh, dan niat jahat. Ini berdasarkan keterangan dalam kitab Fath al-Qadir hal. 79.

Menurut Imam al-Qurthubi ayat yang seirama dengan kewajiban di atas adalah firman-Nya :

يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباسايواري سوآتكم وريشا

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.”

Sedangkan yang dimaksud dengan aurat (عورات) secara semantis terambil dari kata (عار) yang berarti aib atau sesuatu yang tidak pantas. Dari segi hukum, aurat adalah bagian tubuh dari manusia yang wajib ditutup.

Akan tetapi para ulama berbeda pendapat terkait batasan aurat perempuan. Menurut jumhur ulama, aurat perempuan di dalam salat maupun di hadapan laki-laki ajnaby (bukan suami atau mahram) adalah seluruh badannya kecuali muka dan dua telapak tangan. Salah satu dasar argumentasi jumhur adalah hadist nabi yang dijelaskan dalam kitab Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, juz 2 hal. 226.

إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا و هذا

“Sesungguhnya apabila perempuan telah sampai pada usia haid, maka dia tidak boleh untuk dilihat. Kecuali ini (Nabi menunjuk muka dan dua telapak tangan.”

Berdasarkan alur berpikir di atas, maka bisa ditarik sebuah jawaban bahwa perempuan yang menampakkan payudaranya di hadapan ajnabiy ketika menyusui bayinya adalah haram. Karena kalau kita mengikuti pendapat jumhur terkait dengan batasan aurat perempuan, maka payudara termasuk aurat yang wajib ditutupi.

Akan tetapi boleh saja menampakkan payudara asalkan di hadapan mahramnya. Karena aurat perempuan di hadapan mahramnya adalah anggota badan yang berada di antara pusar dan lutut. Kebolehan melihat selain aurat di sini berlaku jika tidak timbul syahwat, jika timbul syahwat maka haram. Syahwat yang dimaksud adalah tergeraknya hati terhadap keinginan untuk berjima’ baik dibarengi dengan istinsyar-nya dzakar atau tidak, serta baik dibarengi dengan tampaknya madzi atau tidak.

Lantas bolehkah menampakkan payudara di tempat-tempat umum dengan alasan hajat atau darurat?

Pada dasarnya syara’ memberikan ruang gerak kepada kaum hawa untuk membuka aurat di saat dalam kondisi emergency (darurat). Seperti untuk keperluan pengobatan dan khitan. Dalam terminologi fikih, darurat adalah suatu kondisi yang apabila tidak dilakukan, maka seseorang akan ditimpa kesulitan di mana tidak ada sesuatu apapun yang bila mengganti hal tersebut kecuali melakukan hal itu. Sebagian pakar fikih juga mendefinisikan darurat sebagai suatu kondisi yang bisa mengakibatkan hilangnya nyawa atau hilangnya anggota badan. Sebuah kaidah fikih yang mengatakan:

الضرورات تبيح المحظورات

“Kemudharatan bisa membolehkan perbuatan yang dilarang.”

Berdasarkan kaidah ini, perempuan boleh saja membuka auratnya dalam situasi darurat. Dijelaskan dalam Nadham al-Qawa’id al-Fiqhiyyah hal. 59, bahwa ulama juga membolehkan membuka aurat karena ada kebutuhn (al-hajah), seperti ketika mandi, membuang air kecil dan besar, serta berhias. Namun, kebolehan itu berlaku ketika tidak ada orang sama sekali (khalwat). Hajat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang menuntut pada kemudahan untuk mencapai tujuan. Kedudukan hajat terkadang diposisikan sama seperti darurat. Sebuah kadiah fikih berbunyi:

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة

“Kebutuhan terkadang diposisikan seperti darurat, baik secara umum maupun khusus.”

Dari kaidah ini bisa ditarik kesimpulan bahwa terkadang hajat juga bisa membolehkan sesuatu yang dilarang sebagaimana darurat. Lalu bagaimana dengan menampakkan payudara untuk kepentingan menyusui anak. Apakah termasuk dalam kategori darurat atau yang lainnya? Jawabnya dipilah.

Artinya menyusui anak di tempat umum, di depan khalayak ramai bisa saja dalam kategori darurat. Misalkan kalau sampai tidak menyusui bayi akan terus menerus menangis sehingga akan mengganggu orang-orang di sekitarnya. Maka dalam situasi seperti ini, si ibu boleh-boleh saja menyusui sang anak.

Tetapi menurut az-Zarqa’, kasus ini bisa masuk dalam kategori hajat yang hanya sekadar menuntut kemudahan sama seperti aurat untuk kepentingan mandi, membuang air kecil dan besar serta berhias. Dalam konteks ini, menampakkan payudaranya untuk menyusui anak adalah diperbolehkan selama ia tidak dilihat oleh orang lain (ajnabiy).

Adapun titik keharaman melihat aurat perempuan adalah adanya kekhawatiran akan terjadi fitnah. Baik kekhawatiran itu jarang terjadi atau sering terjadi. Standarisasi kekhawatiran adalah kekhawatiran adanya dorongan terhadap diri seseorang untuk menyentuh atau berkhalwat berdua-duaan dengan perempuan tersebut.

Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Tebuireng, kesimpulannya, untuk ibu-ibu yang menyusui sang buah hati, hendaknya menjaga diri dengan semaksimal mungkin auratnya agar tidak kelihatan oleh siapapun di tempat umum. Caranya adalah dengan menggunakan busana yang bisa menutupi payudara dari pandangan orang lain. Sang ibu dianjurkan untuk menyediakan DOT sebagai asi alternatif.

Begitupun dengan kaum adam, menjaga pandangan adalah sikap terbaik yang harus lakukan. Jika pun sudah terpaksa melihat sebaiknya segera memalingkan diri. Sebab pencegahan adalah lebih baik daripada menghilangkan. Wallahu a’lam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini