nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Hukum Melaksanakan Salat Fardhu 2 Kali?

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 05 Februari 2020 12:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 05 330 2163649 bagaimana-hukum-melaksanakan-salat-fardhu-2-kali-4CYuAnaMTz.jpg Salat berjamaah (Foto: Askgramps)

Terkadang seseorang bisa saja melakukan salat fardhu sebanyak dua kali. Mungkin ini terjadi karena orang tersebut ada suatu urusan atau ingin mendapat lebih banyak pahala.

Lalu bagaimana hukum Salat Subuh (fardhu) dua kali untuk membantu orang yang tidak sempat berjamaah supaya orang tersebut dapat pahala berjamaah, sementara kita sudah selesai Salat Subuh bersama jamaah yang lain?

 salat

Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, Ustadz Jailani menjelaskan, melakukan salat yang kedua kalinya (I’adah Shalat), untuk membantu orang lain agar juga mendapatkan pahala berjamaah hukumnya sunah. Baik dalam salat yang pertama ia salat sendirian maupun salat berjamah.

Hal tersebut sebagaimana yang tertera dalam Kitab Fathul Mu’in halaman 127:

وتسن إعادةالمكتوبة بشرط أن تكون في الوقت وأن لا تزاد في إعادتها على مرة

“Disunnahkan mengulangi salat fardhu dengan syarat masih dilaksanakan dalam waktunya, dan pengulangan salat tersebut tidak lebih dari satu kali.”

Adapun mengenai tata cara niat dalam salat yang kedua sebagaimana berikut:

أٌصَلِّي فَرضَ الظُهرِ أَربَعَ رَكَعَاتٍ إِمَاماً مَأمُوماً إِعَادَةً فَرضًا لِلّهِ تَعَالَى

Jadi walaupun salat yang kedua hukumnya sunah, dalam niatnya tetap menggunakan niat fardhu, (فَرضًا). Kemudian menggunakan lafadzإِعَادَةً , bukan lafadz أَدَاءًا.

Hal ini diambil dari keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Mu’in sebagaimana berikut:

ولو صليت الأولى جماعة مع آخر ولو واحدااماما كان أو مأموما في الأولى أو الثانية بنية فرض وإن وقعت نفلا فينوي إعادة الصلاة المفروضة

“Apabila salat yang pertama dilakukannya dengan berjamaah, baik ia menjadi ma’mum atau imam, maka dalam salat yang kedua tetap menggunakan niat fardhu, walaupun hukum salat yang kedua sunah. Kemudian ia niat mengulangi salat.”

Sedangkan hukum kesunahan mengulangi salat agar mendapatkan pahala berjamaah merujuk pada suatu hadis yang diriwayatkan Imam Syafi’I dalam kitab Al-Umm Juz 7 halaman 217:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ “عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي الدِّيلِ يُقَالُ لَهُ بُسْرُ بْنُ مِحْجَنٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ فِي مَجْلِسٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُذِّنَ بِالصَّلَاةِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ فَصَلَّى وَمِحْجَنٌ فِي مَجْلِسِهِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مَنَعَك أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ النَّاسِ؟ أَلَسْت بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ؟ قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنِّي قَدْ صَلَّيْت فِي أَهْلِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا جِئْت فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ، وَإِنْ كُنْت قَدْ صَلَّيْت.

Imam Syafi’i berkata, Malik telah menceritakan kepadaku, dari Zaid bin Aslam, dari seorang laki-laki dari bani Dil (nama daerah), ia biasa disebut dengan nama Busro bin Mihjan, dari ayahnya: bahwa suatu ketika ayahnya berada di majelis bersama Rasulullah, maka adzan dikumandangkan untuk melakukan salat. Lalu Rasulullah berdiri, sedangkan Mihjan masih duduk di majelis tersebut. Maka kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Apa yang mencegahmu untuk salat bersama semua orang? Bukankah kamu seorang muslim? Lalu Mihjan berkata, iya wahai Rasulullah, tetapi saya melaksanakan salat bersama keluargaku. Maka Rasulullah berkata, “Jika kamu datang ke sini, maka salatlah bersama semua orang, walaupun kamu telah melakukan salat.”

Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Tebuireng, dari hadist tersebut para ulama fikih khususnya Imam Syafi’i berkesimpulan bahwa mengulangi salat agar mendapatkan pahala berjamaah hukumnya sunah asalkan pengulangan tersebut tidak lebih dari satu kali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini