nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bolehkah Menjamak Salat Magrib dengan Isya karena Terjebak Macet?

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2020 17:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 06 330 2164412 bolehkah-menjamak-salat-magrib-dengan-isya-karena-terjebak-macet-w1HrlPoIdh.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

SALAT Magrib atau salat fardhu yang lain wajib hukumnya untuk dilaksanakan, dan apabila sedang berhalangan seperti sakit maka ibadah itu harus diqada atau dilunasi. Hukum ini juga berlaku bagi orang yang sedang bepergian jauh.

Lalu bagaimana dengan para pekerja yang terjebak macet saat pulang kerja pada petang hari, dan akhirnya harus menundanya Salat Magrib?

Dosen Hukum Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta, Ustadz Khoirul Anam, mengatakan bagi para pekerja yang terpaksa harus menunda Salat Magrib, dimubahkan atau boleh menjamaknya.

"Jadi bagi para pekerja yang pulang kantor setelah Salat Ashar dan sampai rumah setelah waktu Magrib habis, ia bisa menjamak Salat Maghrib tersebut dengan Isya," katanya saat dihubungi Okezone, Rabu (5/2/2020).

Lebih lanjut, kata dia, Magrib adalah waktu salat yang paling singkat. Pekerja beragama Islam yang tinggal di Ibu Kota sering terpaksa menunda Salat Magrib karena terjebak macet di jalan dan kesulitan menjangkau masjid atau musala terdekat.

"Salat yang paling rawan bagi para pekerja di ibu kota adalah Magrib. Pulang kerja sehabis Salat Ashar lalu macet di jalan, beberapa saudara Muslim kita mungkin memilih tidak melakukan Salat Magrib karena tidak tahu caranya (menjamak)," terangnya.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah menjamak salat Dzuhur dengan Ashar, serta Magrib dengan Isya ketika berada di Madinah.

"Padahal tidak dalam kondisi bepergian jauh ke luar daerah atau dalam kondisi hujan deras," terangnya.

Sementara dikutip dari laman NU Online, berikut penjelasan tentang menjamak salat berdasarkan keterangan kitab Kifayatul Akhyar:

قال النووي: القول بجواز الجمع بالمرض ظاهر مختار، فقد ثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم {جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر} قال الاسنائي: وما اختاره النووي نص الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى أيضاً فإن المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع أولى بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال أبو إسحاق المروزي ونقله عن القفال وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر من أصحابنا وبه قال أشهب من أصحاب مالك، وهو قول ابن سيرين، ويشهد له قول ابن عباس رضي الله عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم {جمع با لمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر} فقال سعيد بن جبير: لم يفعل ذلك؟ فقال:لئلا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره

Artinya: "Menurut Imam Nawawi, pendapat yang membolehkan jamak sembahyang bagi orang sakit, sudah terang. Dalam shahih Muslim, Nabi Muhammad SAW menjamak sembahyang di Kota Madinah bukan dalam kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan sakit. Menurut Imam Asna’i, Pilihan Nawawi didasarkan pendapat Imam Syafi‘i yang tercantum dalam Kitab Mukhtasar Imam Muzanni. Pendapat ini diperkuat oleh suatu perbandingan dimana alasan sakit layaknya perjalanan jauh menjadi alasan sah orang untuk membatalkan puasa. Kalau puasa saja boleh dibatalkan, maka penjamakan sembahyang lebih mendapat izin. Bahkan sekelompok ulama membolehkan jamak bagi hadirin untuk sebuah hajat. Dengan catatan, ini tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan. Abu Ishak Almaruzi memegang pendapat ini. Ia mengutipnya dari Syekh Qaffal yang diceritakan oleh Alkhatthabi dari ahli hadis. Ibnul Munzir Syafi‘i dan Syekh Asyhab Maliki menganut pendapat di atas.

Berikut ini pendapat Ibnu Sirin yang diperkuat oleh cerita Ibnu Abbas. Ketika sebuah hadis mengatakan bahwa Rasulullah SAW menjamak sembahyang Dzuhur dengan Asar, dan Magrib dengan Isya, bukan dalam kondisi terganggunya keamanan maupun hujan lebat, Ibnu Abbas berkomentar bahwa dengan jamak itu, Rasulullah SAW tidak mau menyusahkan umatnya. Saat Said bin Jubair bertanya, ‘Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?’ Ibnu Abbas menanggapi, ‘Rasulullah SAW tidak mau merepotkan umatnya. Karena itu, Nabi melakukannya tanpa sebab sakit atau alasan lain."

Penjelasan tersebut dimaksudkan supaya tidak memberatkan Muslim yang harus menjamak salatnya. Hal ini juga sekaligus sebagai illat atau rambu-rambu, bahwa menjamak salat harus disertai dengan alasan kuat dan dibenarkan.

Lebih lanjut, menyambung jawabab dari Khoirul Anam, ia mengimbau agar Muslim tidak menggampangkan syarat menjamak salat.

"Agar kita tidak menggampangkan. Misalnya keringanan ini berlaku bagi dokter yang sedang mengobati pasien rumah sakit, atau bagi pekerja yang kena macet atau naik kendaraan umum yang tidak memungkinkan berhenti di tengah jalan untuk mencari tempat salat," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini