RAMADHAN tinggal menghitung jam saja. Masyarakat pun beramai-ramai mengirim ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Namun, tak sedikit juga yang menambahkan permintaan maaf di akhir pesannya.
Meminta maaf sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan sepertinya sudah menjadi kebiasaan banyak umat Islam sekarang. Mungkin, niatnya supaya menjalankan ibadah dengan hati yang bersih dan terbebas dari kesalahan sebelumnya.
Lantas, apakah mengucapkan maaf sebelum Ramadhan itu harus? Hukumnya apa ya menurut Islam?
Ustadz Muhammad Danial Royyan mengatakan, permintaan maaf itu disyariatkan dalam Islam. Permintaan maaf itu ada yang sunah dan ada yang wajib.
Pemintaan maaf yang sunah yaitu permintaan maaf setiap bertemu orang dalam rangka mulathofah yakni basa basi untuk menyenangkan orang lain. Sedangkan yang wajib yaitu permintaan maaf dari orang yang melakukan kedzaliman kepada orang lain.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه
“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal salih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi”. (HR. Bukhari no.2449).
Permintaan maaf menjelang Ramadhan itu menjadi fadlilah atau keutamaan karena sebagai usaha agar pribadi kita menjadi suci ketika memasuki bulan suci.
Ada hadits yang menjadi dalil bagi permintaan maaf menjelang Ramadhan sebagai berikut,
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين قال الأعظمي : إسناده جيد
“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah menghinakan seorang hamba -atau dia jauh dari Allah- yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah menghinakan seorang hamba -atau dia jauh dari Allah- yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah menghinakan seorang hamba -atau dia jauh dari Allah- yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin’. Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.
Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/114, 406, 407, 3/295), oleh Adz Dzahabi dalam Al Madzhab (4/1682), juga oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Qaulul Badi (212).
Seperti dilansir dari website Laduni.id, doa Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada).
2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antarsuami istri.
3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
(Fahmi Firdaus )