Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masjid Lautze, Simbol Toleransi Muslim Tionghoa di Tanah Air

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Jum'at, 15 Mei 2020 |22:23 WIB
Masjid Lautze, Simbol Toleransi Muslim Tionghoa di Tanah Air
foto: Okezone
A
A
A

BANGUNAN dengan kombinasi warna merah, kuning dan hijau yang berada di pusat Kota Jakarta sering dianggap banyak orang sebagai sebuah rumah. Namun siapa sangka, bangunan dengan arsitektur khas Tionghoa tersebut adalah rumah ibadah bagi umat muslim, yaitu Masjid Lautze.

Struktur khas Masjid Lautze menegaskan contoh yang positif tentang masyarakat Indonesia berketurunan Tionghoa. Mereka mampu berbaur dengan tetangga di sekelilingnya yang mayoritas penduduknya Muslim.

“Banyak yang mengira masjid sebagai kuil China. Jadi dua tahun lalu, kami memasang tanda bertuliskan nama masjid," ujar Imam Naga Kunadi, seperti dikutip The Parrot, Jumat (15/5/2020).

Masjid yang terdiri dari tiga lantai ini merupakan salah satu deretan bangunan di kawasan perdagangan yang sibuk di sepanjang Jalan Lautze. Karena faktor lokasi, masjid ini hanya buka pada siang hari.

“Di bulan Ramadhan, kami biasanya buka setiap Sabtu, dimulai pada waktu Ashar. Karena kami memiliki tipe umat yang khusus dan banyak anggota tinggal jauh dari masjid. Kami akan menyediakan menu berbuka puasa dan mengadakan sholat tarawih,” lanjutnya.

Namun tahun ini, Masjid Lautze mengalami perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Pasalnya, Masjid Lautze ditutup untuk umum karena aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi virus corona (COVID-19).

Pria yang memiliki nama Tionghoa, Qiu Xue Long itu mengatakan, masjid akan tetap beroperasi untuk pengumpulan dan distribusi sedekah, atau untuk membantu masyarakat yang ingin masuk agama Islam. Meski demikian seluruh pengurus masjid akan bertindak sesuai dengan prosedur physical distancing.

“Kami memahami kebutuhan spesifik mualaf Tionghoa. Kami memahami apa yang mereka alami karena kami pernah mengalaminya,” tutur Kunadi, yang mulai memeluk agama Islam sejak 2002.

Masjid asli awalnya ditempati ruko dan beberapa tahun kemudian diperluas setelah memperoleh bangunan yang berdekatan untuk menampung 300 anggota jamaah.

"Eksterior bangunan bergaya Tionghoa juga menunjukkan bahwa mereka masih mempertahankan warisan budaya China meskipun telah masuk Islam," kata Kunadi.

Sekadar diketahui, Masjid Lautze didirikan pada 1991 oleh Yayasan Haji Abdul Karim Oei. Nama ini berasal dari seorang nasionalis Muslim Tionghoa-Indonesia, yakni almarhum Abdul Karim Oei Tjeng Hien. Tujuannya untuk memfasilitasi asimilasi komunitas etnis Tionghoa dan muslim pribumi, terutama orang-orang etnis Tionghoa yang ingin memeluk agama Islam.

Muhammad Ali Karim Oei, putra Oei Sr, mengatakan bahwa fasad (sisi luar bangunan) itu dirancang untuk membuat masjid lebih ramah bagi orang-orang etnis Tionghoa yang ingin masuk dan bertanya tentang Islam.

“Mereka bebas bertanya apa saja dan belajar tentang Islam di sini, bahkan beberapa pertanyaan yang sensitif dan mungkin enggan mereka tanyakan di masjid lain. Itu adalah alasan lain kami memilih nama Lautze yang dalam bahasa China artinya guru, ” kata Oei Jr.

Masjid ini telah digunakan lebih dari 1.000 orang Tionghoa Indonesia yang memeluk Islam. Selain menjadikan orang Tionghoa sebagai bagian dari mayoritas Muslim di Indonesia.

Reputasi masjid ini sebagai tempat yang tidak menghakimi orang Tionghoa-Indonesia yang ingin belajar Islam, dan bagi orang-orang yang baru bertobat, serta umat Islam Tionghoa lainnya untuk menjalankan kepercayaan, membuat Masjid Lautze 2 didirikan di Bandung, Jawa Barat pada 1997.

“Ada kebutuhan akan masjid yang mengakomodasi meningkatnya jumlah Muslim Tionghoa-Indonesia di kota ini. Mereka merasa masih ada celah ketika mereka sholat di masjid-masjid biasa. Orang akan memandang mereka secara berbeda, meskipun mereka sudah menjadi bagian dari saudara-saudara muslim,” tambahnya.

Hernawan Mahfudz, seorang pengurus dari Yayasan Masjid 2 Masjidze mengatakan agar mereka merasa lebih betah, anggota sidang dianjurkan untuk saling memanggil "koko" dan "cici," yang dalam bahasa Tionghoa memiliki arti kakak dan adik.

Seperti pendahulunya di Jakarta, Masjid Lautze mempertahankan gaya Tionghoa yang tampak jelas dengan deretan lentera merah khas Negeri Tirai Bambu.

Lantai dasar berfungsi sebagai ruang doa dan bisa menampung 200 orang, sementara lantai atas berfungsi sebagai tempat bagi mualaf. Meskipun masjid saat ini sedang ditutup, Mahfudz mengatakan mereka akan menjaga tradisi Ramadhan tetap hidup bahkan tanpa pertemuan komunal.

“Kami masih menyediakan makanan buka puasa setiap hari tetapi alih-alih memilikinya di masjid, kami membagikan makanan langsung ke penerima manfaat. Kami juga melakukan pengajian dan khotbah Alquran menggunakan aplikasi konferensi video,” tuntasnya.

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement