Cara Mudah Bebas dari Api Neraka Beri Makanan untuk Berbuka Puasa

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2020 09:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 20 614 2216840 cara-mudah-bebas-dari-api-neraka-beri-makanan-untuk-berbuka-puasa-qolR5tnrcg.jpg Ilustrasi buka puasa. (Foto: Dok Okezone)

RAMADHAN adalah bulan penuh keberkahan, setiap Muslim berlomba-lomba dalam kebaikan untuk memperoleh pahala melimpah, serta mempererat silaturahmi. Salah satunya dengan memberi makan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa.

"Memberi makan kepada orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, maka akan diberikan pahala berlimpah," kata Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin saat dihubungi Okezone, Senin 18 Mei 2020.

Baca juga: Cegah Corona, Arab Saudi Sterilisasi Udara di Masjidil Haram 

Lebih lanjut Ustadz Ainul Yaqin mengatakan, salah satu pahala yang akan didapat adalah sama seperti orang berpuasa yang diberikannya makan. Sebagaima dalam salah satu riwayat hadis, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: "Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR Tirmidzi No. 807, Ibnu Majah 1746, dan Ahmad 5: 192, Al Hafizh Abu Thahir).

Ilustrasi buka puasa. (Foto: Istimewa)

Kemudian Abu Bakar Sidiq RA juga telah menggabungkan anjuran memberi makan yang sedang berpuasa dengan amalan lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), 'Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?', Abu Bakar berkata, 'Saya.'

Rasulullah bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?" Maka Abu Bakar berkata, "Saya."

Nabi kembali bertanya, "Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, "Saya."

Lalu ia bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, "Saya."

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, "Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga." (HR Muslim No. 1028)."

Baca juga: 3 Cara Meraih Kemuliaan di 10 Hari Terakhir Ramadhan Menurut UAS 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Oleh karena itu, sebagian dari masyarakat ketika Ramadhan tiba banyak yang mengeluarkan sedekah, khususnya memberikan makan kepada orang berpuasa. Misalnya, membagikan makanan kepada orang-orang tidak mampu di jalanan, sebelum pandemi virus corona (covid-19) muncul, kegiatan sahur on the road (SOTR) banyak dilakukan, dan lainnya.

Baca juga: 4 Orang yang Wajib Membayar Fidyah, Siapa Saja? 

Sementara itu, dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni-Salafiyah KTB (PISS-KTB), terdapat riwayat hadis yang menjelaskan tentang keutamaan memberikan makan kepada orang yang sedang berpuasa. Diriwayatkan dari Salman Al Farisi RA, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخُصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ كَمْنَ أَدَّى فَرِيضَةً فِيما سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، والصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ، وَشَهْرُ المُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ،

قَالُوْا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ،

فَقَالَ رسولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا : فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.

Artinya: "Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan khutbah kepada kami: Wahai manusia telah menaungi di atas kalian bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr), dan di bulan itu Allah jadikan puasa di siang harinya menjadi kewajiban (bagi yang mampu), dan bangun malam/sholat di malam harinya merupakan hal yang disunahkan. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan satu kebaikan di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan Ramadhan.

Ilustrasi buka puasa. (Foto: Istimewa)

Dan barang siapa melakukaan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan. Dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga, dan bulan itu adalah bulan yang penuh simpati (tolong-menolong), dan bulan ditambahnya rizki orang mukmin.

Barang siapa yang memberikan buka puasa untuk orang yang berpuasa di bulan itu maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka, serta baginya pahala puasa seperti orang yang berpuasa dan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Ketika mendengar hal itu, para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa", maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Pahala ini diberikan oleh Allah kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berpuasa dengan sebutir kurma atau seteguk air atau susu".

Dan bulan Ramadhan awalnya adalah rahmah (kasih sayang) Allah, dan pertengahannya adalah pengampunan Allah, serta akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Barang siapa yang meringankan (pekerjaan) budaknya di bulan Ramadhan maka Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah di bulan itu (untuk melakukan) 4 hal, 2 hal yang pertama membuat Tuhan kalian (Allah swt) ridha, dan 2 hal yang lainnya merupakan sesuatu yang kalian butuhkan. Dua hal yang membuat Tuhan kalian (Allah Subhanahu wa ta'ala) ridha adalah: mengucapkan syahadat (أشهد ألا إله إلا الله ), dan kalian meminta ampunan kepada-Nya dengan membaca (أستغفر الله العظيم ),

Adapun dua hal yang kalian butuhkan terhadap keduanya adalah: kalian meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari api neraka.

Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan hingga kenyang, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (telaga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam) di mana seteguk air itu menjadikannya tidak akan merasa haus selama-lamanya hingga ia masuk ke surga". (HR Ibnu Khuzaimah No. 1780, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al Maktabah Asy-Syamilah, bab jima’u abwaabi fadhaaili syhrish shiyaami wa shiyaamihii, juz 7 hal 115).

Baca juga: Tausiyah Ramadhan: Sampai Kapan Kita Harus Beribadah? 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini