nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tata Cara Sumpah Pelaku Rukyatul Hilal

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 22 Mei 2020 16:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 05 22 614 2217975 tata-cara-sumpah-pelaku-rukyatul-hilal-HZMI6xIhvI.jpg Ilustrasi pengamatan rukyatul hilal. (Foto: Dok Okezone)

RUKYATUL hilal atau melihat hilal untuk menentukan awal bulan, khususnya penetapan 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri. Ketika memutuskannya, sebelumnya terdapat sumpah bagi para pelaku rukyatul hilal.

Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) KH Nahari Muslih mengatakan perukyat atau orang memantau posisi bulan yang telah berhasil melihat hilal maka ia akan menyatakan dan mengaku di pengadilan atau melakukan sumpah.

Baca juga: Mahfud MD: Mari Sholat Idul Fitri di Rumah dan Halal Bihalal Secara Virtual 

"Tata caranya, setelah perukyat dimaksud mengaku dan menyatakan atau bersumpah melihat hilal maka dilaksanakanlah sidang di tempat itu. Sidangnya dipimpin oleh hakim dari pengadilan agama setempat," ujar Kiai Nahari saat dihubungi Okezone, Jumat (22/5/2020).

Lebih lanjut ia menjelaskan, nantinya hakim akan berpedoman pada hasil hisab yang telah disepakati jumhur atau mayoritas ulama ahli hisab, yakni untuk membuat kesepatakan bahwa hilal yang telah dilihat posisinya sudah tepat atau belum.

Namun di sini hakim akan tetap berpedoman pada hasil hisab yang sebelumnya telah disepakati jika tidak sesuai dengan hitungan hisabnya. Serta hakim yang memutuskan tentang kesepakatan tersebut yakni hakim dari pengadilan agama.

Sementara itu, dikutip dari laman resmi Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang ditulis oleh mantan Ketua PP Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), KH Ahmad Ghazalie Masroeri, pandangan NU sendiri tentang rukyat adalah sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah didasarkan atas pemahaman.

Baca juga: Wamenag Ajak Umat Islam Kumandangkan Takbir di Malam Idul Fitri 

Pemahaman tersebut merupakan nash-nash (munculnya segala sesuatu yang tampak) tentang rukyat itu bersifat ta’abbudiy (ibadah). Kemudian ada nash Alquran yang dapat dipahami sebagai perintah rukyat, terdapat di dalam Surah Al Baqarah Ayat 185 (perintah berpuasa bagi yang hadir di bulan Ramadhan) dan Al Baqarah Ayat 189 (tentang penciptaan ahillah).

Selain itu, terdapat juga 23 hadis tentang rukyat, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain.

Dasar rukyat ini dipegangi oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in, serta empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali).

Metode rukyat atau pengamatan hilal akan menambah kekuatan iman, yakni pengamatan terhadap benda-benda langit termasuk bulan adalah bagian dari melaksanakan perintah untuk mengingat akan ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala, lebih dalam mengetahui kebesaran-Nya, sehingga memperkuat keimanan.

"Rukyat mempunyai nilai ibadah jika digunakan untuk penentuan waktu ibadah seperti shiyam, Id, gerhana, dan lain-lain. Rukyat adalah ilmiah. Rukyat atau pengamatan/penelitian/observasi terhadap benda-benda langit melahirkan ilmu hisab. Tanpa rukyat tidak akan ada ilmu hisab," kata Kiai Ghazalie.

Baca juga: Contoh Khotbah Singkat Sholat Idul Fitri, Cocok Buat di Rumah Saja 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini