nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Zuhud ala KH Samsul Hadi Abdan

Sabtu 23 Mei 2020 00:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 05 22 616 2217968 zuhud-ala-kh-samsul-hadi-abdan-HqPMzKsbV4.jpg

Tidak ada perjalanan yang lebih indah, dari perjalanan ke Baitullah dan kota Rosulullah Madinah, karena saat itulah kita dapat bersimpuh di depan Ka'bah, Multazam, Roudhoh dan tempat tempat mustajabah lainnya. Saat itulah kita akan merasakan halawatul iman.

Yang lebih indah dalam perjalanan ibadah Umroh Ramadhan tahun 2019 lalu, adalah kami bersama orang tercinta, ayahanda KH. Syamsul Hadi Abdan Rohimahullah. Beliau sudah tutup usia pada 18 Mei 2020.

Beliau adalah sosok kiai yang selalu mengedepankan keikhlasan dalam segala gerak dan langkahnya. berjuang li i'laai kalimatillah dan maslahah ma'had yang berada di atas segalanya bagi beliau.

Keseharian beliau penuh dengan kesederhanaan, menunjukkan kezuhudan beliau. Sebuah contoh yang sangat layak untuk kita jadikan figur sang kiai yang selalu dibanggakan dan ditiru oleh para santrinya.

Sejak hari pertama kami tiba di Madinah, beliau minta untuk disamakan dalam segala hal dengan seluruh jamaah yang lainnya, dan jangan ada yang dibedakan. Sehari-hari, beliau habiskan waktu untuk i'tikaf di Masjidilharom dan Masjid Nabawi, bahkan beliau tidak akan pulang ke hotel setelah Shalat isya' kecuali telah mengkhatamkan tilawah Al-Qur'an setiap hari, sembari mengangkat tangannya. Beliau selalu membasahi lisannya dengan tetesan air mata saat mendo'akan Gontor dan para pejuang pondok yang beliau pimpin hingga akhir hayatnya.

Roudhoh dan Multazam adalah tempat yang paling beliau idolakan, dengan susah payah mengikuti antrian panjang, serta padatnya jamaah Umroh dari seluruh dunia. Diusianya yang ke-75, semangat beliau untuk selalu berada di dua tempat tersebut tak kalah dengan kita kita yang masih kepala tiga.

Ustadz Dr Fairus Subakir Ahmad dan ustadz Rif'at Husnul Ma'afi. MA adalah teman sejatinya saat beliau bersama merasakan nikmat dan manisnya iman, dan beribadah di Roudhoh. Beliau bertiga selalu berlomba lomba dalam beribadah. Tak jarang beliau terlelap sejenak di dalam masjid untuk istirahat kemudian bangun kembali mengajak thawaf sunnah, kemudian istirahat sejenak, kemudian Thawaf Sunnah lagi, sembari menangis dalam berdoa setiap thowaf.

Lalu kami bertanya, ustadz antum kok banyak sekali thawaf sunnah, apa tidak lelah, bagaimana kalau kita istirahat di hotel dulu. Jawaban beliau, saya ini menthowafkan pondok dan pejuang pondok, tidak masalah kalau saya harus mati di sini, Njajal Awak Mendah Matio. Perjuangan ini belum sebanding dengan perjuangan para Trimurti yang bahkan hidupnya pun ditaruhkan untuk pondok pesantren (sambil meneteskan air mata beliau teringat Almarhum Trimurti, kemudian mendoakan beliau bertiga).

Bersama Ustadz Fathan Aziz putra beliau dan Ustadz Hamas putra KH. Hasan Abdullah Sahal, kami mendampingi beliau saat Umroh pertama, kemudian beliau membadalkan di umroh ke dua dan ke tiga.

Napak tilas Rosul di kota Thaif seakan menjadi saksi, bagaimana beliau menanamkan Ukhuwah kepada para santrinya, setelah seharian kita Ziyaroh kota Thaif, tiba saatnya makan siang bersama di Mat'am Elhada, dengan jamuan ala Arab yang menghidangkan menu Mandhi kambing Khas Arab di atas nampan yang lebar, lalu kami kembali bertanya: Ustadz untuk antum kami pesankan pakai piring njeh?

Jawaban beliau: Sebelum nyantri di Gontor, saya belajar di pondok Salaf, dan makannya pakai nampan seperti ini. Awalnya kami canggung tajammuk senampan bersama pak kiai, ternyata satu nampan Nasi Mandhi Dajaj Fahm masih kurang, akhirnya kami tambah 1 Nampan Nasi Mandhi Lahem, Alhamdulillah tak sebutir nasipun tersisa di seluruh nampan kami.

Sambil tersenyum beliau berkata: enak juga makanan Arab, sampai habis dua nampan, kami pun tertawa bersama sama, sambil meminum syahi 'adni (teh ala arab).

Kedisiplinan adalah nafas beliau, diseluruh kegiatan beliau pasti datang lebih awal dibanding jamaah Umroh lainnya, dan saat kami menyampaikan beberapa hal tentang Itinerary selama umroh, beliau selalu mengiyakan sembari berkata: saya sekarang menjadi Makmun, Antum imamnya, silahkan saya beri kebebasan kepada antum untuk mengatur seluruh kegiatan dengan baik.

Setiap selesai acara kami datang untuk meminta arahan dan evaluasi, beliau selalu menjawab Alhamdulillah sudah sangat baik, namun tetap harus ditingkatkan di kegiatan selanjutnya, supaya husnul khotimah dan Umroh kita semua menjadi Umroh Mabruroh.

Lagi lagi beliau mengajarkan kepada para santrinya jiwa berdikari dan jiwa bebas yang ter-arah dalam setiap langkahnya. Dan kami semua banyak belajar dari beliau saat melaksanakan ibadah Umroh tentang ibadah dan jiwa kepondok Modern-an.

Allahumma Syahadnahu min ahlil Ibadah, wa Ahlil-Qur'an, wa Ahlil-khoer, Ij'alhu bijiwarik fil jannah yarab.

Oleh: Munif Farid Attamimi

Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Tahun 2000

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini