nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Seruan Sholat Idul Fitri di Rumah Tak Langgar Kebebasan Beragama

Sabtu 23 Mei 2020 12:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 05 23 614 2218433 seruan-sholat-idul-fitri-di-rumah-tak-langgar-kebebasan-beragama-iMocUyhUPo.jpg Ilustrasi Sholat Idul Fitri di rumah. (Foto: Istimewa)

DAMPAK pandemi global corona virus disease (covid-19) membuat pemerintah dan semua pihak melakukan pengetatan dalam beraktivitas. Termasuk mengimbau masjid-masjid untuk sementara tidak menggelar sholat berjamaah. Kemudian juga tidak melaksanakan Sholat Idul Fitri di masjid atau lapangan.

Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Maria Ulfah Anshor, menilai apa yang dilakukan pemerintah terkait larangan melakukan sholat berjamaah di tengah pandemi corona tidak menyalahi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan karena demi kemaslahatan orang banyak.

"Dari sisi keagamaan bahwa pembatasan hak kebebasan beragama berkeyakinan bisa dibenarkan karena kita semua punya kewajiban untuk menjaga jiwa, akal pikiran, harta, keturunan, dan agama. Dalam beberapa hal pembatasan hak kebebasan beragama berkeyakinan dimaksudkan untuk itu," kata Maria dalam diskusi daring bertema Covid-19 dan Peran Agamawan di Indonesia, Jumat 22 Mei 2020, dikutip dari VOA.

Maria mengungkapkan berdasarkan kovenan (perjanjian), hak kebebasan beragama dan berkeyakinan dapat dibatasi. Pembatasan itu, jelas dia, harus berdasarkan hukum yang melindungi lima hal, yakni keselamatan, ketertiban, kesehatan, moral dan kebebasan mendasar masyarakat.

"Dalam konteks penanganan virus corona maka pembatasan ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Maka bisa dilakukan," ujarnya.

Supaya tidak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, menurut Maria, peran tokoh agama dan organisasi keagamaan sangat dibutuhkan dalam mensosialisasikan kebijakan penanganan virus corona.

"Perannya adalah kontribusi teologis agama seperti penerbitan fatwa atau imbauan keagamaan. Kemudian, filantropi keagamaan (penggalangan donasi). Peran pendidikan dan penyadaran masyarakat itu dilakukan oleh tokoh agama," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily. Menurut dia, penting juga para agamawan mengetahui secara utuh tentang anatomi dari virus corona dan kenapa kerumunan seperti di tempat ibadah untuk dihindari. Ini penting untuk dijelaskan ke masyarakat.

"Agamawan harus mampu untuk tetap menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dari agama kita semua. Itu harus tercermin dalam upaya kita menghadapi virus corona," tambah Ace yang juga menjadi pembicara dalam diskusi daring tersebut.

Ia mengatakan, Komisi VIII DPR yang memiliki ruang lingkup tugas di bidang keagamaan dan sosial ini juga beberapa kali mendorong Gugus Tugas Penanganan Virus Corona agar melibatkan agamawan. Setidaknya dalam memberikan imbauan soal kegiatan keagamaan.

"Kami melakukan upaya yang serius dalam konteks melibatkan agamawan. Pelibatan agamawan ini sangat penting. MUI, NU, dan Muhammadiyah luar biasa memberikan dukungan penanganan virus corona setidaknya imbauan mereka yang lakukan termasuk protokol kegiatan-kegiatan keagamaan," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Ihsan Ali-Fauzi mengatakan selama ini tidak ada kerja sama yang meningkat antara pemerintah dan agamawan dalam rangka mengatasi virus corona. Padahal banyak alasan yang membuat pelibatan agamawan itu sangat penting dilakukan.

"Saya tidak melihat negara memanfaatkan agamawan seoptimal mungkin," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini