Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengamalkan Teologi Al 'Ashr saat Pandemi Corona

Mengamalkan Teologi Al 'Ashr saat Pandemi Corona
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto (Foto: Ist)
A
A
A

SAAT situasi krisis akibat pandemik Corona, membuat seluruh umat manusia di muka bumi mengalami berbagai kesulitan. Tidak hanya kesulitan ekonomi, berbagai masalah sosial keagamaan kita juga mengalami perubahan yang signifikan. Tak terkecuali umat Islam di Indonesia.

Sejak awal kemunculan di Tanah Air pada 2 Maret lalu, per 5 Juni 2020, setidaknya sudah 1.770 orang kehilangan nyawa akibat terjangkit virus asal Kota Wuhan, China itu. Wabah yang sudah menjangkiti 29.521 orang Indonesia ini sudah memporak-porandakan situasi psikologis, ekonomi, politik dan tradisi keagamaan kita.

Imbauan beraktivitas di rumah, larangan Shalat Jumat dalam 3 bulan terakhir, tradisi pengajian keagamaan harus dilakukan secara daring. Semua orang cenderung kehilangan akal, stress dan kebingungan dalam menghadapi makhluk Allah yang sangat kecil ini (Corona).

Dalam situasi yang belum jelas kapan berakhirnya Covid-19 ini, saya jadi teringat tentang ajaran pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Saat dakwah dimulai di Kampung Kauman Yogyakarta (sekitar tahun 1914). Kiai Ahmad Dahlan mengawali pengajian dengan mengulangi pembahasan Surat Al ‘Ashr hampir meakan waktu selama 7-8 bulan. Itu dilakukan jauh sebelum mengulang pengajian Surat Al Ma’un selama 3 bulan lamanya.

Jika kita kontekskan pada saat ini, sepertinya boleh dikatakan sama. Saat itu bangsa Indonesia terjajah, masyarakat kesulitan ekonomi dan kehilangan arah. Kali ini akibat pandemi corona, seluruh masyarakat kebingungan, ekonomi lumpuh, pengangguran bertambah signifikan dan tradisi sosial keagamaan yang berubah sedemikian dahsyat.

Allah berfirman yang artinya: 1. Demi Masa, 2. Sungguh manusia berada dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Saat kita membaca surat Al ‘Ashr, adalah benar bahwa ada mutiara hikmah yang sedemikian luas dalam Surat ‘Ashr. Dalam Surat itu, Kiai Ahmad Dahlan memberikan makna yang sangat kuat. Bahwa sebagai seorang muslim kita harus memanfaatkan amanah waktu kehidupan kita dengan penuh keimanan. Bukan hanya itu, sebagai seorang muslim beriman kita harus memanifestasikan teologi Al ‘Ashr dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Makna yang lebih dahsyat lagi adalah kita disadarkan bahwa Allah telah memerintahkan untuk saling menasihati dalam hal kebaikan dan dengan penuh kesabaran umat Islam diperintahkan untuk saling memperkuat kerja kolektif dalam menegakkan kebenaran. Karakter yang sangat dibutuhkan untuk memenangkan diri dari musibah wabah corona ini.

Bangsa Indonesia saat ini mengalami berbagai tantangan nyata, prediksi pertumbuhan ekonomi tidak lebih dari 2.9 persen, lahirnya jutaan pengangguran baru, meningkatnya kemiskinan, ketimpangan ekonomi semakin menganga dan tata kehidupan tidak normal lainnya. Teologi Al ‘Ashr yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan sepertinya sangat relevan untuk dikatakan sebagai salah satu solusi.

Indonesia yang sebagaian populasi penduduknya bergama Islam haruslah benar-benar memaknai bahwa manusia hidup itu harus memanfaatkan waktu dengan penuh keimanan. Dalam berbagai bidang kehidupan, sebagai rakyat, sebagai umat, sebagai pejabat, sebagai abdi negara, pelaku usaha dan bahkan berbagai ruang profesi lainnya.

Tidak berlebihan kemudian, jika ajaran teologi Al 'Ashr akan bersenyawa dalam bentuk kerja-kerja amal sholih yang konkret. Seluruh umat Islam Indonesia akan memiliki etos kerja yang luar biasa. Tidak akan ada rasa stress apalagi saling menyalahkan. Manusia Indonesia dengan penuh keimanan memeras otak dan tenaganya untuk mengambil nilai positif dari musibah yang telah mematikan ratusan ribu umat manusia di muka bumi.

Dalam konteks politik kenegaraan, pejabat yang memegang ajaran dalam Surat Al aAshr sudah bisa dipastikan amanah, kebijakannya tidak akan membuat publik gaduh. Tidak ada kerja penumpang gelap yang memanfaatkan wabah ini hanya untuk pencitraan semata. Berbagai program yang ditelurkan untuk menangani Covid-19 semata-semata hanya untuk menyelamatkan nyawa dan kesejahteraan rakyat.

Mulai Presiden, menteri, Gubernur, Bupati Walikota bahkan hingga Ketua RT. Pejabat yang mengamalkan ajaran Al ‘Ashr tidak akan memiliki ruang waktu untuk bersitegang di hadapan publik, apalagi saling sikut. Bekerja untuk kebaikan yang hakiki, menguatkan dalam penegakan kebenaran akan menjadi sikap sebagai anak bangsa. Bekerja setulus hati untuk diingat oleh sejarah dan membuka seluas-luasnya ruang amal jariyah. Sungguh hikmah yang sangat menginspirasi.

Misalnya saja program pemulihan ekonomi Nasional (PEN) yang digagas Presiden Joko Widodo (Jokowi) bernilai Rp677 triliun itu. Setiap bagian pemerintah, benar-benar diupayakan sedemikian rupa terdistribusi sesuai peruntukannya. Tidak ada kemudian gelontoran dana Rp123,6 triliun untuk para pelaku UMKM justru dimanfaatkan oleh para penumpang gelap.

Dengan mengharap ridho Allah, Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin menyasar pelaku UMKM terdampak. Jika demikian, tidak perlu nanti kita dihadapkan oleh oknum pejabat yang justru mengkorupsi dana rakyat. Rayat terurus, ekonomoi tumbuh dan peradaban semakin berkemajuan.

Saat kita menjadikan Al ‘Ashr sebagai kompas peradaban bangsa, masyarakat Indonesia akan selalau sabar, gigih dalam memperjuangkan diri dan komunitasnya. Antar masyarakat berjibaku bersama-sama keluar dari pandemik corona ini. Tidak hanya jaga jarak atau berdiam di rumah. Yang berkecukupan akan selalu membantu masyarakat lainnya. Kelompok sosial yang mendapatkan banyak kemudahan akan berkomitmen menolong mereka yang kesulitan.

Akhir kalam, sepertinya pada situasi sulit ini, menjadi benar bahwa setiap musibah betatapun sangat berat, pasti sekaligus dengan jalan keluarnya. Dengan wabah Covid-19 ini, bangsa dan peradaban kita akan semakin berkemajuan. Pandemi Covid-19 pada akhirnya akan melahirkan umat-umat yang teguh imannya, kuat menegakkan kebenaran dan luas ladang kesabarannya.

Semoga kita senantiasa dapat mengamalkan Teologi Surat ‘Ashar sesuai yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan. Menjadi bangsa terpilih dengan karakter iman, sabar dan bersatu-padu dalam hal kebaikan dan kebenaran Allah Azza wajalla. Wallahu'alam bisshiwab.

Oleh: Sunanto

(Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah)

(Rizka Diputra)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement