Menguak Makna Ukiran Aksara Kuno di Masjid Gamel Cirebon

Fathnur Rohman, Jurnalis · Rabu 17 Juni 2020 17:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 17 615 2231746 menguak-makna-ukiran-aksara-kuno-di-masjid-gamel-cirebon-ndJ1xuCbZB.JPG Ruang sholat di Masjid Gamel, Cirebon, Jawa Barat (Foto: Okezone.com/Fathnur Rohman)

SEBAGAI salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat pada era Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat memiliki beberapa masjid berusia ratusan tahun. Salah satunya adalah Masjid Kuno Gamel yang terletak di Desa Gamel, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Masjid yang termasuk ke dalam masjid 'keramat' ini diperkirakan berdiri pada awal abad ke 12 Masehi. Masjid ini sudah mengalami sejumlah renovasi. Namun, beberapa bangunan masjid yang berusia ratusan tahun masih dipertahankan keasliannya.

Bila diperhatikan secara seksama, ada satu keunikan yang dimiliki masjid ini dibanding masjid-masjid tua lainnya di Cirebon. Yakni, di masjid tersebut terdapat tulisan aksara arab dan tulisan 'rikasara', atau huruf aksara asli Cirebon di salah satu kayu penghubung antar tiang di area dalam masjid.

Menurut salah seorang budayawan sekaligus warga asli Gamel, Cirebon, bernama Arida, tulisan aksara yang terdapat di kayu penghubung antar tiang di dalam Masjid Kuno Gamel itu menandakan tahun pendirian bangunan masjid tersebut.

Baca juga: Hukum Memanggil Orang dengan Sebutan Binatang Menurut Pandangan Islam

Arida menjelaskan, banyak warga sekitar Masjid Kuno Gamel meyakini kalau tulisan aksara itu memiliki arti, bahwa Masjid Kuno Gamel dibangun pada tahun 1111 M. Sedangkan, menurut catatan yang ia baca Masjid Kuno Gamel diperkirakan dibangun pada tahun 1110 M.

"Masyarakat di sini meyakini dibangun tahun 1111 M. Akan tetapi, menurut catatan yang saya baca diperkirakan dibangun sekitar tahub 1110 M. Atau pada awal abad ke 12. Zamannya Sulaiman Baghdadi atau Syaikh Zainal Kabir," ujarnya kepada Okezone, Rabu (17/6/2020).

Masjid Gamel Cirebon

Syaikh Zainal Kabir, sambung Arida, merupakan tokoh penyebar agama islam di daerah Gamel dan sekitarnya. Ia menambahkan, sosok Syaikh Zainal Kabir memiliki beberapa nama. Seperti Syaikh Nurjati pertama, Syaikh Semuningaran, Syaikh Sanghyang Semar, dan lain sebagainya.

Dari cerita yang ada, pada mulanya Syaikh Zainal Kabir bisa mendirikan Masjid Kuno Gamel karena mendapat dukungan dari Kerajaan Sunda. Selain mendapat dukungan, Syaikh Zainal Kabir juga diberikan bahan baku berupa kayu jati purba untuk pembangunan Masjid Kuno Gamel.

Awalnya, lanjut Arida, Masjid Kuno Gamel hanya berukuran sekira dua kali empat meter persegi. Kemudian, masjid itu mengalami pemugaran hingga menjadi seperti sekarang. Kalau dilihat dari luar, Masjid Kuno Gamel nampak seperti masjid biasanya. Namun, setelah masuk ke dalamnya, maka bagian-bagian utama Masjid Kuno Gamel yang berusia sangat tua masih dipertahankan.

"Zamannya Syaikh Asyufi atau dikenal juga Buyut Asup masjid ini dipugar sehingga jadi lebih besar. Ada 16 tiang (saka)," katanya.

Baca juga: Perlu Pemikiran Segar Kaum Milenial Cegah Radikalisme

Makna Tulisan Rikasara

Selain tulisan aksara arab, pada salah satu kayu penghubung antar tiang di area dalam Masjid Kuno Gamel juga terdapat tulisan rikasara. Di mana menurut Arida, tulisan rikasara adalah aksara asli Cirebon.

Dirinya menerangkan, tulisan rikasara tersebut berbunyi 'Mar Adhi Ngawas, Angmung Ngewalen'. Tulisan itu memiliki arti 'turun langsung raja untuk mengawasi, hanya mengawasi'. Terdapat juga tulian rikasara yang berjumlah tiga baris. Tulisan itu berbunyi 'Bengiye Hadhi Menepis Nata Lawan, Rugaba Bahana Sinagasa Kuwasan Hulih'.

Munculnya tulisan rikasara ini ternyata memiliki nilai historis tersendiri. Arida mengatakan, tulisan tersebut muncul setelah adanya peristiwa Prabawa III. Yakni dinonaktifkannya peran penting sultan oleh Belanda, serta terpecahnya Kesultanan di Cirebon menjadi dua, yaitu Kesultanan Kanoman dan Kesultanan Kasepuhan.

Saat peristiwa Prabawa III terjadi, Belanda meminta agar sultan yang menjabat saat itu menyerahkan kekuasaannya. Akan tetapi, pihak Sultan Kanoman enggan melakukan hal tersebut. Lalu pihak Sultan Kanoman meminta supaya wilayah Gamel tetap berada dibawah kekuasaan Kesultanan Kanoman.

Aksara Kuno Masjid Gamel Cirebon

Arida melanjutkan, permintaan yang dilayangkan kepada pihak Gamel kemudian disetujui. Oleh karena itu Sultan Kanoman pun masih menjabat dan Kesultanan Kanoman masih memiliki daerah kekuasaan. Sebagai ucapan terimakasih, Sultan Kanoman lalu melakukan pembesaran atau pemugaran atap Masjid Kuno Gamel.

Secara keseluruhan, Arida menyebut tulisan rikasara di Masjid Kuno Gamel bercerita perihal perbaikan atap masjid yang dilakukan Sultan Kanoman.

"Sebagai ucapan terima kasih. Malam harinya sultan memberikan penjelasan detail cara membuat atap masjid. Kalau huruf rikasara itu huruf yang dimusnahkan dan diganti dengan huruf caraka," tutur Arida.

Mengingat Masjid Kuno Gamel memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, utamanya tentang peristiwa Prabwa III, maka masjid ini bisa menjadi pilihan destinasi wisata sejarah di Kabupaten Cirebon. Selain itu, lokasi masjid ini berdekatan dengan Pasar Batik Trusmi. Sehingga masyarakat yang datang bisa sekalian berburu batik khas Cirebon.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini