DALAM sebuah aktivitas perdagangan, kejujuran sangat diperlukan. Sebab berawal dari kejujuran tersebut, keberkahan akan didapat, termasuk rezeki yang cukup atau bahkan berlimpah.
Mengutip dari Rumaysho, Rabu (17/6/2020), dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Artinya: "Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu." (Muttafaqun alaih)
Terkait masalah jual-beli ini, dai lulusan Universitas Islam Madinah, Ustadz Syafiq Riza Basalamah, mengatakan tidaklah baik menutupi kekurangan barang yang diperdagangkan karena takut tak laku. Sampaikan apa adanya, semua kekurangannya, karena Allah Subhanahu wa ta'ala akan memberikan keberkahan di dalam kejujuran tersebut.
"Maka berapa banyak barang yang ada kekurangannya kita jual, kita jelaskan, kita up, kebaikan-kebaikannya; tapi kita tidak menjelaskan ada sisi negatif dari barang tersebut. Maka secara akad jual-beli mungkin sah, selesai; tapi berdosa dia nantinya, tidak diberkahi," ungkap Ustadz Syafiq Riza Basalamah, dinukil dari unggahan di akun resmi Instagram-nya.
Ia menjelaskan, dalam urusan jual-beli, siapa pun yang bertugas maka hendaklah jujur dan menjelaskan apa adanya. Jangan pernah takut tidak laku terjual, rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan pernah tertukar.
"Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh kita tidak tergesa-gesa menanti rezeki yang halal," tegasnya.
Berdasarkan hadis Jabir Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَسْتَبْطِئُوْاالرِّزْقَ, فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ العَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقٍ هُوَ لَهُ, فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ, أَخْذِ الحَلاَلِ وَ تَرْكِ الحَرَامِ
Artinya: "Janganlah menganggap rezeki kalian lambat turun. Sesungguhnya tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Carilah rezeki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram." (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (3239 dan 3241), Al Hakim (II/4), Al Baihaqi (V/264 dan 265), Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (III/156-157) dari jalur Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir)
(Hantoro)