Ditemukan Manuskrip Lampung yang Mengungkap Sejarah Dakwah Islam

Minggu 28 Juni 2020 17:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 28 614 2237767 ditemukan-manuskrip-lampung-yang-mengungkap-sejarah-dakwah-islam-wNjHYzxVL1.jpg Salah satu lembaran manuskrip Lampung. (Foto: Istimewa/Solopos)

TERUNGKAP sejarah penyebaran agama Islam di ujung timur Pulau Sumatera. Fakta ini diketahui berdasarkan cerita di dalam manuskrip Lampung yang diungkap Tim Peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Naskah kuno tersebut selama ini disimpan oleh perorangan maupun lembaga adat. Peninggalan itu pun belum pernah dilakukan kajian secara mendalam.

Baca juga: Masjid-Masjid Mesir Dibuka, Sholat Jumat Belum Diadakan 

Dalam riset yang digelar pada 2019, tim peneliti menemukan sedikitnya 42 manuskrip Lampung. Jumlah itu tersebar di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung, Lampung Timur, Lampung Utara, Lampung Barat, dan Pesisir Barat.

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sebagian besar manuskrip Lampung mengisahkan tentang ajaran agama, khususnya Islam, adat istiadat, sejarah, dan hikayat. Manuskrip tersebut ditulis dalam kertas dari Eropa, kulit kayu hitam, dan tanduk kerbau. Aksara dan bahasa yang digunakan pun beragam mulai aksara Lampung, Arab, bahasa Melayu, Serang, Lampung, Bengkulu, serta Jawa.

Salah satu manuskrip Lampung yang berhasil diungkap yakni manuskrip Alquran yang diperkirakan ditulis antara akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Manuskrip ini merupakan milik Darwis bin Muhammad Yusuf bergelar Suttan Penyimbang.

Baca juga: Sumber Rezeki Muslimin: Keluarga hingga Berkat Istigfar 

Ia biasa dipanggil dengan sebutan Among Dalom, dari Buay Benyata, dan merupakan keturunan ke-18 dari Umpu Benyata yang berdomisili di Pekon Luas, Kecamatan Belalau.

"Manuskrip ini merupakan bukti dan mempertegas bahwa penyebaran agama Islam di Lampung Barat juga disebarkan oleh para ulama dari Banten," kata Zulkarnain Yani, Tim Peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, sebagaimana dikutip dari Solopos, Minggu (28/6/2020).

Selain itu tim peneliti juga menemukan naskah Undang-Undang Adat Krui. Naskah ini memiliki nilai-nilai luhur perilaku masyarakat Lampung yang dirangkum dalam lima falsafah hidup. Kelima nilai itu meliputi pi’il senggiri, sakai sembayan, nemui nyimah, mengah nyappur, serta bejuluk beadek.

Pi’il senggiri merupakan prinsip mengedepankan harga diri dalam berperilaku untuk menegakkan nama baik dan martabat pribadi maupun kelompoknya. Lalu, sakai sembayan adalah prinsip hidup mengedepankan gotong royong, tolong-menolong, dan saling memberi.

Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

"Nemui nyimah adalah prinsip hidup mengedepankan kemurahan hati dan ramah tamah terhadap semua pihak yang berhubungan dengan mereka. Berikutnya, nengah nyapur adalah prinsip mengedepankan keterbukaan," jelas Zulkarnain.

Sedangkan bejuluk beadek merupakan gelar oleh orang dalam kelompoknya sebagai panggilan. Orang yang belum menikah diberi gelar juluk (bejuluk). Setelah menikah, ia diberi gelar adek (beadek).

Nilai-nilai Islam yang terkandung di dua pasal yang dikaji adalah konsisten dengan perjanjian, bekerja sama dalam kebaikan, dan larangan bersifat tamak atau rakus.

Tidak hanya itu, dalam manuskrip Lampung, tim peneliti juga menemukan naskah Hidayat Nabi Bercukur versi aksara Lampung. Naskah ini ditemukan dalam koleksi Abdul Roni, Ratu Angguan, di Tanjung Karang. Naskah ditulis dalam bahasa Jawa Sasak, Sunda, Arab, Aceh, Makassar, dan Melayu. Naskah tersebut juga ditulis dengan aksara Lampung berbahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Serang.

Naskah Hidayat Nabi Bercukur membuktikan upaya Islamisasi di tanah Melayu, khususnya Lampung. Hal ini juga menjadi bukti sarana dakwah Islam pada masa itu.

Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Tradisi bercukor mempunyai makna yang penting dalam masyarakat Lampung. Bercukor adalah membuang rambut bawaan dari dalam kandungan. Kegiatan ini bersumber dari adat istiadat dan berkembang sesuai agama Islam yang dianut masyarakat Lampung.

"Hasil riset juga menemukan masyarakat adat Lampung sangat berhati-hati dan cenderung tertutup untuk memberikan akses kepada orang lain yang baru dikenalnya. (Orang baru akan kesulitan) untuk melihat dan membaca koleksi naskah-naskah kuno yang dimilikinya apalagi untuk didata dan didigitalkan," jelas Zulkarnain.

Dari hasil riset manuskrip Lampung, Tim Peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, perlu inventarisasi manuskrip yang maasih disimpan perseorangan maupun kelembagaan.

Kedua, Pemerintah Provinsi Lampung perlu menerbitkan peraturan gubernur untuk menyelamatkan manuskrip yang masih "berserakan" di masyarakat. Guna melakukan hal ini, mereka bisa melibatkan peneliti manuskrip baik di Balai Bahasa Lampung, kurator Museum Negeri Provinsi Lampung, dan lainnya.

Ketiga, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung bisa terlibat melakukan inventarisasi karya-karya ulama Nusantara yang ada di pondok pesantren seluruh Lampung. Hasilnya akan menjadi database penting.

Keempat, penyusunan dan penerbitan katalog naskah Lampung, baik berupa hardcopy maupun secara online.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini