Ketika Abu Nawas Bikin Sensasi, Khalifah Pun Terpana

Sindonews, Jurnalis · Senin 29 Juni 2020 21:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 29 614 2238458 ketika-abu-nawas-bikin-sensasi-khalifah-pun-terpana-SyfDmn4Jv3.jpg ilustrasi (stutterstock)

ABU Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami atau biasa dipanggil Abu Nawas menurut riwayat hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Salah satu tokoh sufi ini dikenal cerdas dan pintar membuat orang tertawa karena ulahnya. Misal, saat dirinya mencari sensasi di tengah-tengah masyarakat.

Dilansir dari Kalam Sindonews, saat itu pundi-pundi milik Abu Nawas kian menipis. Kebetulan juga ia sudah lama tak jumpa dengan Baginda Raja, amirul mukminin, Khalifah Harun Ar-Rasyid. Bukan karena rindu, tapi ia sedang memancing agar diberikan hadiah oleh raja.

Suatu hari, Abu Nawas membuat ulah di tengah keramaian pasar di Baghdad, Irak. Kemudian ia berbicara seperti buka orang beriman.

"Wahai umat manusia, ketahuilah! Aku, Abu Nawas adalah orang yang sangat membenci kepada yang Haq (kebenaran) dan suka kepada fitnah, dan aku adalah orang yang lebih kaya dibandingkan Allah," kata Abu Nawas sambil berteriak.

 Baca juga: Ini 8 Kelompok Mahram Terjadi Akibat Persusuan

Semua orang terdiam dan terkejut. Padahal selama ini ia dikenal sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah SWT. Meski sering guyon, namun candaannya tidak pernah seabsurd itu. Akibatnya ia ditangkap dan dibawa menghadap khalifah.

"Hai Abu Nawas, benarkah engkau berkata begitu?" tanya khalifah.

"Benar," jawab Abu Nawas.

"Mengapa engkau berkata begitu, sudah kafirkah engkau?" tanya khalifah lagi.

"Ah, aku kira khalifah juga seperti aku. Khalifah juga pasti membenci perkara yang haq,” ujar Abu Nawas.

"Gila benar engkau!" bentak sang khalifah.

"Jangan marah dulu wahai khalifah, dengarkan dulu keterangan dariku," kata Abu Nawas mencoba menguasai situasi saat itu.

 

"Keterangan apa yang ingin engkau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku membela dan bukan membenci perkara yang haq, kamu harus tahu itu!" kata khalifah.

"Tuan, setiap ada orang yang membacakan talqin aku selalu mendengar bahwa mati itu haq dan neraka itu haq. Nah siapakah orangnya yang tak membenci mati dan neraka yang haq itu? Tidakkah khalifah juga membencinya seperti aku?" Kata Abu Nawas.

Kemudian khalifah terdiam, sambil menyaring perlahan apa yang dikatakan oleh Abu Nawas. "Ya. Tentu saja. Kematian dan neraka adalah yang haq. Tapi, bagaimana dengan pernyataanmu yang menyukai fitnah?" tanya sang khalifah.

"Bukan hanya aku. Khalifah juga menyukai fitnah. Khalifah barangkali lupa bahwa di dalam Alquran disebutkan, bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal khalifah juga menyenangi harta dan anak-anak seperti halnya saya. Benar begitu khalifah?" lanjut Abu Nawas.

Sekali lagi Khalifah mengaggung-angguk dan membenarkan pernyataan Abu Nawas. "Ya, memang begitu," jawabnya.

"Lalu, mengapa kau mengatakan lebih kaya dibanding Allah yang Mahakaya?" Khalifah bertanya lagi.

"Anak adalah kekayaan. Aku lebih kaya dari Allah, karena aku mempunyai anak, sedang Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan,” jawab Abu Nawas.

Khalifah lagi-lagi terdiam. Semua benar, sehingga Khalifah hanya bisa mengangguk-angguk saja.

"Ya, kami benar. Tetapi apa maksudmu berkata begitu di tengah pasar sehingga membuat keonaran?" tanya sang khalifah.

"Dengan cara begitu, saya akan ditangkap dan kemudian dihadapkan kepada khalifah seperti sekarang ini," jawab Abu Nawas.

"Apa perlunya kau menghadapku?"

Kemudian tak disangka, Abu Nawas malam memberikan jawaban yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.

"Agar bisa mendapat hadiah dari khalifah,” jawab Abu Nawas sambil cengengesan.

Sidang yang mulanya tegang, lalu tiba suasananya menjadi penuh gelak tawa. Akhirnya sang khalifah pun menyerahkan hadiah kepada Abu Nawas, dan misi sufi itu berhasil.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini