Keputusan Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid Ada di Pengadilan Turki

Minggu 05 Juli 2020 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 05 615 2241456 keputusan-hagia-sophia-kembali-jadi-masjid-ada-di-pengadilan-turki-UrTIFO4jlD.jpg Hagia Sophia di Kota Istanbul, Turki. (Foto: Unsplash)

KEPUTUSAN bangunan bersejarah Hagia Sophia kembali difungsikan menjadi masjid tinggal menunggu keputusan Pengadilan Administrasi Tertinggi Turki. Sebelumnya mereka menunda keputusan tentang usulan perubahan bangunan bersejarah Hagia Sophia di Kota Istanbul menjadi masjid.

Dalam beberapa dekade terakhir, Hagia Sophia digunakan sebagai museum. Dibangun pada abad keenam atas perintah Kaisar Bizantium, Justinian I, bangunan bersejarah tersebut merupakan katedral terbesar di dunia selama hampir 1.000 tahun.

Baca juga: Singgah di Kota Islam, Abdul Somad Cerita tentang Sejarah Hagia Sophia 

Hagia Sophia. (Foto: Istimewa)

Menurut situs Warisan Dunia Unesco, katedral itu diubah menjadi masjid ketika Kekhalifahan Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) merebut Kota Istanbul pada 1453, namun diubah menjadi museum pada 1930-an.

Bangunan museum tersebut kini bisa menjadi masjid lagi jika Pengadilan Administrasi Tertinggi Turki menyetujui usulan itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada kampanye pemilu tahun lalu telah menyerukan agar Hagia Sophia diubah menjadi masjid.

Senada, kelompok Islamis di Turki telah lama menyerukan agar bangunan Hagia Sophia diubah menjadi masjid, tetapi kelompok oposisi yang berhaluan sekuler menolaknya.

Proposal perubahan status Hagia Sophia telah mengundang kritik internasional, baik dari para pemimpin agama maupun politik di seluruh dunia.

Kepala Gereja Ortodoks Timur menentang langkah itu, seperti halnya Pemerintah Yunani, rumah bagi jutaan pengikut Ortodoks.

Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni, yang menyebut Turki menghidupkan kembali "sentimen nasionalis dan agama yang fanatik", berkeras agar situs Warisan Dunia Unesco tersebut tidak diubah, tanpa ada persetujuan komite antarpemerintah.

Wakil Direktur Unesco Ernesto Ottone Ramirez dalam wawancara dengan surat kabar Yunani Ta Nea mendukung usulan diperlukan persetujuan yang lebih luas.

Ia mengatakan Unesco –badan PBB yang membidangi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan– telah menyurati Pemerintah Turki tentang proposal tersebut, tetapi tidak menerima jawaban.

Baca juga: Masya Allah, Suara Azan Terdengar Kembali di Hagia Sophia 

Hagia Sophia. (Foto: Istimewa)

Seperti Apa Sejarah Hagia Sophia?

Mengutip dari BBC News Indonesia, Minggu (5/7/2020), Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di Distrik Fatih di Kota Istanbul, sisi barat Selat Bosporus.

Kaisar Bizantium, Justinian I, memerintahkan pembangunan katedral berukuran besar di Konstantinopel —ibu kota Kekaisaran Bizantium, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur— pada tahun 532.

Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut.

Setelah pembangunan katedral itu rampung pada tahun 537, kota ini menjadi tempat kedudukan pimpinan gereja Ortodoks.

Upacara kenegaraan Kekaisaran Bizantium, seperti penobatan, dilangsungkan di bangunan tersebut.

Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun, tetapi sempat dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib IV.

Tetapi pada 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya.

Ketika memasuki Hagia Sophia, Sultan Mehmed II berkeras merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Dia menghadiri Sholat Jumat pertama di bangunan itu.

Para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan tersebut dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.

Sampai penyelesaian pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I pada 1918, Kekaisaran Utsmaniyah yang mengalami kekalahan, wilayahnya dipecah-pecah oleh negara-negara Sekutu sebagai pihak yang menang. Namun, kekuatan nasionalis bangkit dan menciptakan Turki modern dari abu kekaisaran itu.

Pendiri Turki dan presiden pertama republik sekuler tersebut, Mustafa Kemal Ataturk, memerintahkan agar Hagia Sophia diubah menjadi museum.

Sejak dibuka kembali untuk umum pada 1935, tempat ini menjadi salah satu tempat wisata paling banyak dikunjungi di Turki.

Baca juga: Erdogan Ingin Kembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid? 

Hagia Sophia. (Foto: Istimewa)

Mengapa Hagia Sophia Penting?

Dikarenakan bangunannya sudah berusia 1.500 tahun, Hagia Sophia memiliki makna keagamaan, spiritual, dan politik yang signifikan bagi kelompok-kelompok di dalam serta luar Turki.

Kelompok-kelompok Islam dan umat Islam yang taat menuntut agar bangunan itu dikembalikan menjadi masjid, dan mereka telah memprotes isi Undang-Undang 1934 yang melarang praktik keagamaan di situs tersebut.

Baca juga: Ditentang, Erdogan Ngotot Jadikan Hagia Sophia sebagai Masjid 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menggaungkan tuntutan tersebut.

Dalam pidato kampanye menjelang pemilihan lokal tahun lalu, dia mengatakan "kesalahan sangat besar" mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Semenjak itulah Erdogan dilaporkan meminta para pejabat terkait untuk mengetahui bagaimana mengubah fungsi bangunan bersejarah itu.

Kepala Gereja Ortodoks Timur, yang dikenal sebagai Ecumenical Patriarch of Constantinople, yang masih berbasis di Istanbul, Patriark Bartholomew I, pada Selasa 30 Juni memperingatkan bahwa perubahan bangunan itu akan "mengecewakan jutaan orang Kristen" dan memecah belah dunia.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo memperingatkan setiap perubahan dalam status Hagia Sophia akan mengurangi kemampuannya "melayani umat manusia sebagai jembatan yang sangat dibutuhkan antara mereka yang berbeda keyakinan dan budaya".

Pekan lalu Duta Besar AS untuk Large for International Religious Freedom, Sam Brownback, telah meminta Turki agar membiarkan gedung itu berfungsi seperti semula.

Tetapi Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu berkeras bahwa Athena tidak memiliki suara dalam keputusan tersebut karena gedung itu berada di wilayah Turki.

"Apa yang kami lakukan di negara kami, dan dengan properti milik kami, itu tergantung kepada kami," katanya kepada stasiun televisi Turki.

Baca juga: Menanti Kejelasan Nasib Hagia Sophia, Berstatus Museum atau Masjid? 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini