Melihat Sejarah Masjid Laweyan yang Dahulunya Bangunan Pura

Pristia Astari, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 615 2241679 melihat-sejarah-masjid-laweyan-yang-dahulunya-bangunan-pura-T52eCwHmGF.jpg Masjid Laweyan di Kota Solo. (Foto: Sindonews)

MASJID Tegalsari Surakarta atau Masjid Laweyan merupakan salah satu yang tertua dan pertama di Kota Solo, Jawa Tengah. Masjid yang terletak di Jalan Liris Nomor 1, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, ini tidak seperti pada umumnya yang mempunyai nama khas Islam.

Masjid Laweyan mempunyai nama sesuai daerahnya yaitu Laweyan. Kecamatan Laweyan sendiri merupakan wilayah yang cukup penting. Selain lokasinya cukup dekat dengan ibu kota Kerajaan Pajang pada masa lalu, Laweyan juga termasuk pusat perekonomian, khususnya bagi warga di sekitarnya.

Baca juga: Intip Pesona Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang 

Dikutip dari buku 'Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia' karya Abdul Baqir Zein, Senin (6/7/2020), bangunan Masjid Tegalsari Surakarta didirikan pada tahun 1546 saat Sultan Hadiwijaya berkuasa di Kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang sendiri merupakan cikal bakal dari Kerajaan Mataram.

Salah satu kekhasan masjid ini yaitu dahulu adalah sebuah pura hindu. Berdasarkan sejarah, ketika masa Kerajaan Pajang, Ki Beluk yang merupakan seorang pemeluk Hindu sempat tinggal dan membangun pura di pinggir Sungai Kabanaran. Sungai ini dahulu digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan batik.

Ki Beluk kemudian menjalin persahabatan dengan Kiai Ageng Henis, orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya. Kedua sering berdiskusi ketika sedang memiliki waktu senggang. Materi diskusinya termasuk tentang ajaran agama Islam.

Suatu ketika Ki Beluk menyatakan tertarik mendalami agama Islam. Sampai suatu saat ia menyatakan memeluk Islam. Kemudian bangunan pura yang dibangunnya diserahkan kepada Ki Ageng Henis dan warga sekitar untuk dipakai sebagai masjid.

Selanjutnya Kiai Ageng Henis lebih mendakwahkan ajaran Islam. Ia kemudian mendirikan Masjid Laweyan tersebut yang berfungsi sebagai tempat kegiatannya. Di masjid inilah diadakan sejenis pengajian, Sholat Jumat, dan kegiatan dakwah lainnya.

Baca juga: Tertua di Palembang, Masjid Muara Ogan Masih Kokoh dan Megah Berdiri 

Kiai Ageng Henis merupakan tokoh yang cukup penting. Putranya bernama Ki Ageng Pemanahan yang merupakan pendiri Dinasti Mataram. Tetapi entah karana apa sejarah Ki Ageng Henis kurang terungkap.

Masjid Laweyan yang didirikan Kiai Ageng Henis sampai saat ini masih dapat dilihat, berdiri kokoh di depan makamnya. Sangat disayangkan masjid ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan sehingga bentuk aslinya sudah tidak dikenali lagi.

Masjid Laweyan di Kota Solo. (Foto: Bramantyo/Okezone)

Di sana terdapat tiga lorong yang terdapat di bagian depan sebagai jalur masuk ke Masjid Laweyan. Tiga lorong tersebut adalah simbil atau perlambangan tiga jalan dalam upaya menuju tata kehidupan yang bijak yakni Islam, Iman, dan Ihsan.

Baca juga: Keputusan Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid Ada di Pengadilan Turki 

Masjid Laweyan di Kota Solo. (Foto: Istimewa)

Masjid Laweyan mempunyai sebuah mata air sumur yang berada di dalam lingkungannya. Terlihat bersejarah, mata air ini muncul dari sebuah injakan kaki Sunan Kalijaga.

Air sumur tersebut tidak pernah kering walaupun sedang musim kemarau panjang.

Baca juga: Jejak Ulama Baghdad di Masjid Merah Panjunan Cirebon 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini