Indahnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Dibangun dengan Batu Bata Merah

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 615 2241964 indahnya-masjid-agung-sang-ciptarasa-dibangun-dengan-batu-bata-merah-hl7Hvym3NI.jpg Masjid Agung Sang Ciptarasa di Kota Cirebon, Jawa Barat. (Foto: Youtube Official iNews)

INDONESIA memiliki banyak masjid unik dan bersejarah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Selain memiliki fungsi utama sebagai sarana menunaikan sholat dan ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, masjid-masjid tersebut juga memiliki cerita trsendiri di baliknya.

Salah satunya adalah Masjid Agung Sang Ciptarasa. Masjid ini terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Baca juga: Uniknya Masjid Cheng Ho Warisan Budaya Indo-China 

Masjid tersebut memiliki bangunan dan arsitektur unik yang sarat dengan sejarah. Pada bagian depan masjid, pagar yang dibangun menggunakan batu bata merah. Kemudian ketika masuk akan disajikan aristektur dari bahan kayu yang memberikan kesan berbeda.

Keunikan lain dari Masjid Agung Sang Ciptarasa juga ada di pintu masuk yang berukuran kecil. Jamaah yang masuk harus mendunduk. Ini sebagai tanda taat dan patuh terhadap perintah Allah Subhanahu wa ta'ala.

"Masjid Agung Sang Ciptarasa ini adalah masjid peninggalan dari Wali Songo. Ini karena posisinya di Jawa Barat, jadi yang lebih dominan Sunan Gunung Jati, wali yang memang ditugaskan di bagian barat Pulau Jawa," jelas Pengurus Masjid Sang Ciptarasa, Ismail, dikutip dari akun Youtube Official iNews, Senin (6/7/2020).

Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada 1480 pada masa Sunan Gunung Jati. Konon masjid ini hanya dibangun dalam waktu satu malam oleh 500 pekerja dari beberapa kerajaan, seperti Majapahit, Demak, dan Cirebon.

Meski demikian, Masjid Agung Sang Ciptarasa masih berdiri kokoh sampai sekarang, dan masih menjadi pusat keagamaan warga Cirebon.

Masjid Agung Sang Ciptarasa juga memiliki kebiasaan unik. Setiap Sholat Jumat selalu digelar azan pitu, yakni azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serbaputih.

Dijelaskan, tradisi azan pitu ini dimulai sejak adanya insiden kematian muazin masjid secara misterius setelah mengumandangkan azan.

"Sejak dibangun, beberapa kali selepas muazin mengumandang azan, mereka meninggal secara misterius," kata Pengurus Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Ahmad Hamdan, sebagaimana diberitakan Okezone sebelumnya.

Baca juga: Melihat Sejarah Masjid Laweyan yang Dahulunya Bangunan Pura 

Ia mengatakan, setelah berturut-turut adanya insiden tersebut, Sunan Gunung Jati yang menjadi arsitek pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa bersama para wali lainnya meminta petunjuk kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. ketika itulah dilaksanakan tradisi azan pitu atau azan yang dilakukan tujuh muazin untuk menangkal serangan dari sihir yang tidak menginginkan adanya penyebaran Islam di Cirebon.

"Konon yang mengganggu masyarakat di sana adalah makhluk siluman yang bernama Menjangan Wulung yang bertengger di kubah masjid," ungkapnya.

Saat itu, cerita Hamdan, setelah ketujuh muazin mengumandangkan azan bersama-sama terdengar suara dentuman keras yang membuat kubah masjid hilang, oleh karena itu Masjid Agung Sang Ciptarasa tidak memiliki kubah.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dibangun sekira 1480 Masehi dengan luas masjid sekira 8.000 meter yang bisa menampung 1.000 jamaah.

Baca juga: Intip Pesona Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang 

Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. (Foto: Youtube Official iNews)

"Nama Sang Ciptarasa sendiri diartikan masjid yang diciptakan dan dirasakan oleh umatnya. Tidak heran banyak orang yang meminta berkah di masjid ini. Konon sumur tua yang ada di masjid ini dulunya bekas wudhu para wali dan sumurnya tidak pernah kering meskipun dilanda kemarau," ungkapnya.

Hamdan menambahkan, selama ini Masjid Agung Sang Ciptarasa baru tiga kali direnovasi. Kemudian ada satu keunikan lagi pada masjid ini yakni dengan adanya beduk yang hanya dipukul setiap bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran.

"Setiap Ramadhan pada pukul 23.00–00.00 WIB beduk ini dipukul. Ini juga merupakan salah satu tradisi yang dulunya bertujuan membangunkan masyarakat sahur," ucapnya.

Baca juga: Tertua di Palembang, Masjid Muara Ogan Masih Kokoh dan Megah Berdiri 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini