Idul Adha Bukan Sekadar Hari Raya Lho, Begini Sejarah dan Maknanya

Alya Amellia Amini, Jurnalis · Jum'at 31 Juli 2020 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 330 2254712 idul-adha-bukan-sekadar-hari-raya-lho-begini-sejarah-dan-maknanya-vjJgjTaKL7.jpg ilustrasi (stutterstock)

HARI Raya Idul Adha atau Idul Kurban dan di Indonesia dikenal dengan Lebaran Haji adalah momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang-orang yang mampu bisa melaksanakan haji dan bagi yang belum berkesempatan ke Tanah Suci, Allah memberi solusi dengan anjuran ibadah lain yang pahalanya juga luar biasa.

Adalah dengan berpuasa Arafah pada 9 Dzulhijjah dan berkurban pada Idul Adha atau Hari Tasyrik, sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Idul Adha juga disebut hari untuk mengenang perjuangan Nabi Ibrahim agar menjadi tauladan bagi semua. Sebagai manusia yang sangat dicintai Allah, Nabi Ibrahim menghadapi berbagai cobaan berat semasa hidupnya, tapi kesabaran dan ketakwaannya justru meningkat saat diuji.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya Nabi Ismail. Nabi Ibrahim ikhlas menjalankan perintah-Nya. Ia menyembelih Ismail di Mina, Makkah. Inilah cikal-bakal Idul Adha dan syariat berkurban.

Baca juga: Yuk Takbir Idul Adha, Begini Lafadz dan Artinya

Nabi Ibrahim sebelumnya memohon ke Allah agar diberikan seorang anak yang baik hati dan saleh. Dengan segala kesabarannya, doa Nabi Ibrahim akhirnya terkabul. Istri kedua Nabi Ibrahim, Siti Hajar dikarunia Allah untuk hamil. Dari rahim wanita salehah tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Kemudian Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk membawa istrinya dan Ismail yang masih bayi dari Syam ke suatu lembah tandus, gersang, sepi tidak ada penghuni seorang pun. Wilayah ini akhirnya dikenal sebagai Hijaz atau Tanah Haram Makkah.

Saat itu, Nabi Ibrahim maupun istrinya tidak mengetahui pasti apa maksud dari perintah Allah tersebut. Tapi, mereka tetap menjalankannya dengan ikhlas dan tawakal semata-mata karena Allah SWT.

Setiba di Hijaz, Nabi Ibrahim kembali diperintahkan oleh Allah untuk kembali ke Syam, meninggalkan anak istrinya di padang tandus itu. Nabi Ibrahim kembali menjalankan perintah ini dengan ikhlas karena Allah.

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan persediaan air minum hingga tidak biasa menyusui Nabi Ismail, beliau mencari air sambil lari-lari kecil (Sa’i) di antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak 7 kali. Kemudian datanglah pertolongan Allah SWT melalui mata air zam-zam yang masih ada hingga kini.

Dikutip dari Wikipedia, suatu malam, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi yang berupa wahyu dari Allah SWT. Di mimpi tersebut Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih anak laki-lakinya, yaitu Nabi Ismail.

Pada malam Tarwiyah, hari ke 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih Nabi Ismail. Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai Hari Tarwiyah, yang artinya berpikir atau merenung.

Baca juga: Merayakan Idul Adha, Membela Kemanusiaan

Pada malam ke 9 di bulan Dzulhijjah, beliau mendapatkan mimpi yang sama. Pagi harinya, beliau yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari Arafah, yang artinya mengetahui, dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di Tanah Arafah.

Dengan penuh rasa tawakal, Nabi Ibrahim menceritakan seluruh mimpinya kepada Nabi Ismail. Nabi Ismail ditanya bagaimana pendapatnya terkait perintah Allah SWT tersebut.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-saffat: 102)

“Ini pendidikan yang luar biasa, ketika anak mulai dewasa maka jadikan dia bagian dari teman, minta pendapatnya, maka akan lahir penghormatan dari anak,” ujar pendakwah kondang Ustadz Adi Hidayat Lc. M.A dalam ceramahnya.

Setelah mendapatkan kesepakatan, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kemudian mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses penyembelihan. Setelah semuanya tersedia, Nabi Ibrahim berdoa dengan khusyuk meminta kekuatan kepada Allah SWT.

Dengan berlinang air mata, Nabi Ibrahim mencoba menyembelih Nabi Ismail dengan menggunakan sebilah pedang yang telah diasah. Pedang yang mengenai Nabi Ismail terus terpental dan sama sekali tidak melukainya.

Kemudian Nabi Ismail meminta sang ayah untuk melepas ikatan untuk mempermudah proses penyembelihan. Tetapi tetap saja pedang tersebut tidak mampu untuk menyembelih Nabi Ismail.

Allah SWT kemudian memberikan perintah baru kepada Nabi Ibrahim. Perintah tersebut menyuruh Nabi Ibrahim untuk mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan yang besar untuk disembelih.

Momen ini berlangsung tepat pada 10 Dzulhijjah yang hingga kini diperingati sebagai hari raya kurban. Sehingga hari raya kurban untuk mengenang pengorbanan dan ketabahan yang telah dilalui oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

“Hikmah utama dari kisah ini adalah Idul Adha harus mampu mengembalikan kehidupan keluarga kita menjadi lebih baik, bukan kehidupan personal saja. Mudah-mudahan dengan itu anugrah Allah akan diberikan kepada kehidupan keluarga kita, maka Allah menyediakan satu rumah di surga untuk seluruh keluarga besar,” ujar Ustadz Adi Hidayat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini