Potret Muram Muslim Libya Rayakan Idul Adha di Tengah Perang dan Corona

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Sabtu 01 Agustus 2020 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 614 2255270 potret-muram-muslim-libya-rayakan-idul-adha-di-tengah-perang-dan-corona-RkM3BpRYZx.jpg Suasana pasar hewan di Libya yang penuh keprihatinan imbas konflik perang dan pandemi Covid-19 (Foto: Arab News)

UMAT muslim Libya harus merayakan Idul Adha tahun ini dengan suasana muram akibat dilanda konflik yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan, ditambah lagi wabah pandemi virus corona atau Covid-19 yang belum juga berakhir.

Pasar domba tahunan yang biasanya ramai di pinggiran ibu kota Tripoli terletak sepi. Domba -domba itu hanya terpajang di kandang kawat tanpa pembeli yang terlihat.

Seorang peternak, Suleiman Ertel bercerita bahwa ia sudah bangun pagi buta sebelum fajar untuk membawa hewan ternaknya dari kota asalnya Zliten, berjarak 140 km jauhnya, ke pasar hewan terbesar di Libya barat.

Bagi umat Islam, momen Idul Adha sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Ibrahim yang diperintah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengorbankan putranya Ismail sebagai tindakan kepatuhan seorang hamba kepada Tuhan. Saat itu Ismail langsung digantikan Allah oleh seekor domba kurban sebagai gantinya.

Kaum muslim memperingati hari raya kurban dengan mengorbankan hewan ternak, seperti kambing, domba sapi atau bahkan unta. Setelah itu dagingnya dibagi tiga bagian yaitu untuk orang miskin, untuk kerabat dan untuk dimakan di rumah.

"Biasanya, pada hari-hari sebelum festival, orang terburu-buru untuk membeli domba mereka," kata Ertel mengawali cerita seperti dinukil dari laman Arab News, Sabtu (1/8/2020).

Baca juga: Ini Doa ketika Menyembelih Hewan Kurban

Namun tahun ini kata dia, harga ternak yang tinggi, ketakutan yang ditimbulkan pandemi pasar yang ramai, krisis keuangan dan meningkatnya rasa tidak aman di Libya sendiri telah membuat semua pelanggan menjauh dari pasar yang biasanya ramai itu.

Untuk peternak seperti dia, Ertel berujar: “Semuanya lebih mahal. Harga pakan ternak naik dua kali lipat, tetapi juga biaya transportasi antar kota, karena rasa tidak aman di beberapa rute. Ini mengecilkan hati," keluhnya.

Libya saat ini juga dilanda krisis air dan pemadaman listrik yang berdampak pada operasinalisasi alat pendingin seperti AC dan freezer. Kondisi ini membuat orang sangat tidak mungkin menyimpan daging di freezer kulkas.

Situasi yang menyedihkan ini diperparah oleh krisis Covid-19, yang telah menekan harga minyak global. Virus itu sendiri telah berkobar lagi di Libya meski jam malam, penutupan sekolah dan masjid, serta larangan perjalanan diterapkan secara ketat.

Dalam beberapa pekan terakhir, infeksi baru telah melonjak di atas 100 dalam sehari untuk pertama kalinya sejak virus terdeteksi di negara Afrika Utara pada akhir Maret 2020 silam.

Sebanyak 3.017 kasus terkonfirmasi dan 67 kasus kematian di Libya akibat infeksi saluran pernapasan. Kebanyakan masyarakat lokal seolah menganggap remeh potensi bahaya dari virus Covid-19 sehingga mengabaikan protokol kesehatan pencegahan virus.

Sementara, di Pasar Tajoura, Ahmed Al-Fallah menghabiskan hari ketiga mencari domba yang mampu ia beli, dalam upaya putus asa untuk mencoba memertahankan tradisi agama dan keluarga yang penting setiap tahunnya.

"Saya bertanya tentang harga tanpa bisa membeli apapun. Saya tidak punya cukup uang. Saya pikir saya harus meminjam beberapa," ujar Ahmed.

Domba di Libya rata-rata dibanderol seharga 1.200 hingga 1.400 dinar. Angka ini terbilang tinggi sehingga banyak orang tak dapat menarik cukup uang tunai dari rekening bank mereka meski hanya untuk membeli satu ekor.

"Sebagian besar bank telah membatasi penarikan 1.000 dinar pada hari-hari menjelang festival," ucap Mohammed Kecher, salag satu pelanggan frustrasi lainnya di pasar itu.

"Jadi kami ragu. Haruskah kita menghabiskan semuanya untuk domba kurban atau menyimpan uang untuk pengeluaran keluarga selama sebulan?" imbuhnya seraya berlalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini