Boleh Gak Jual Kulit Hewan Kurban lalu Uangnya Disedekahkan ke Masjid?

Minggu 02 Agustus 2020 17:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 02 330 2255764 boleh-gak-jual-kulit-hewan-kurban-lalu-uangnya-disedekahkan-ke-masjid-Tj2fRvBRb0.jpg ilustrasi (Okezone)

WAKTU berkurban masih boleh dilakukan hingga 13 Dzulhijjah atau Hari Tasyrik terakhir. Dalam penyembelihan hewan kurban, terkadang ada beberapa bagian tidak dibagikan semisal tulang dan kulit. Hanya daging dan bagian tubuh dalam hewan saja dibagi karena mudah untuk memasaknya.

Lalu, pertanyaannya bagaimana hukum jika bagian hewan kurban seperti kalau dijual untuk tujuan tertentu demi kebaikan, misalnya uang hasil penjualannya disumbangkan ke kas masjid atau dibagikan ke fakir?

Melansir dari artikel di laman resmi Pondok Pesantren Lirboyo, Minggu (2/8/2020), dijelaskan bahwa pada dasarnya, menjual kulit hewan kurban dengan alasan apapun tidak diperbolehkan.

Baca juga: Hati-Hati dengan Kalimat: "Yang Haram Aja Susah, Apalagi Halal"

Sebagaimana penjelasan Syekh Khatib as-Syirbini dalam kitab Iqna’:

وَلاَ يَبِيْعُ مِنَ اْلأُضْحِيَّةِ شَيْئًا وَلَوْ جِلْدَهَا أَيْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلاَ يَصِحُّ سَوَاءٌ أَكَانَتْ مَنْذُورَةً أَمْ لاَ

“Tidak boleh menjual bagian apapun dari hewan kurban, bahkan kulitnya sekalipun. Artinya haram dan tidak sah menjualnya bagi orang yang berkurban, baik kurban nadzar atau kurban sunah.” (Al-Iqna’, II/592)

Namun di masyarakat, seringkali kulit hewan kurban tersebut dijual oleh panitia kurban dengan berbagai alasan.

Untuk itu, solusi yang bisa dilakukan ialah dengan memberikan kulit tersebut kepada salah satu panitia yang terbilang fakir miskin atas nama sedekah.

Lalu baginya boleh menjual kulit hewan tersebut kemudian mengalokasikan hasil penjualannya sesuai kehendaknya, misalkan untuk biaya operasional atau dimasukkan dalam kas masjid atau mushalla.

Imam asy-Syarqawi menjelaskan dalam kitabnya, Hasyiyah asy-Syarqawi’ala at-Tahrir berikut:

(قَوْلُهُ وَلَا بَيْعُ لَحْمِ اُضْحِيَّةِ الخ) وَمِثْلُ اللَّحْمِ الْجِلْدُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوْفُ وَمَحَلُّ امْتِنَاعِ ذَلِكَ فِى حَقِّ الْمُضَحِّى اَمَّا مَنِ انْتَقَلَ اِلَيْهِ اللَّحْمُ اَوْ نَحْوُهُ فَاِنْ كَانَ فَقِيْرًا جَازَ لَهُ الْبَيْعُ اَوْ غَنِيًّا فَلَا … وَلَا فَرْقَ فِى الْاُضْحِيَّةِ بَيْنَ الْوَاجِبَةِ وَالْمَنْدُوْبَةِ

“(Tidak boleh menjual daging kurban) disamakan dengan daging tersebut ialah kulit, bulu, dan rambutnya. Larangan ini berlaku bagi orang yang berkurban. Adapun orang yang menerima pemberian daging atau sesamanya, apabila ia tergolong fakir maka boleh menjualnya dan apabila tergolong kaya maka tidak boleh menjualnya… Dalam hal ini tidak perbedaan antara kurban wajib kurban sunah.” (Hasyiyah asy-Syarqawi ‘ala at-Tahrir, II/21)

Bahkan menurut salah satu pendapat yang lemah, seandainya kulit diberikan kepada panitia yang terbilang kaya, baginya boleh untuk menjual dan mengalokasikan hasil penjualannya sesuai tujuan di atas. (Sayyid Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 423)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini