Kisah WNI Muslimah di Australia Lamar 80 Pekerjaan saat Pandemi

Sabtu 15 Agustus 2020 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 15 614 2262811 kisah-wni-muslimah-di-australia-lamar-80-pekerjaan-saat-pandemi-12qGP9j29i.jpg Suzanna Martanti melamar 80 pekerjaan saat masa pandemi covid-19 di Melbourne, Australia. (Foto: Dok pribadi/ABC.net.au)

SEJAK pertengahan Februari lalu, Muslimah asal Indonesia Suzanna Martanti sudah coba melamar hampir 80 pekerjaan. Bahkan ia pernah bersaing dengan 700 pelamar untuk jenis pekerjaan resepsionis klinik di Kota Melbourne, Australia.

Suzanna, yang akrab dipanggil Uchan, memang kebanyakan melamar pekerjaan di sektor kesehatan yang pernah ditekuni selama 10 tahun.

Uchan mengaku seringkali merasa sangat sedih setiap lamarannya tidak berhasil, tapi itu tidak akan membuatnya menyerah.

"Ini menjadi sesuatu hal yang melelahkan tentunya, namun saya akan selalu mencoba," kata Uchan yang tinggal di kawasan Jacana-Melbourne, dikutip dari ABC, Sabtu (15/8/2020).

Baca juga: Australia Segera Miliki Bank Syariah Pertama, Warga Muslim Sambut Gembira 

Ia mengatakan, kompetisi yang semakin ketat di antara para pelamar pekerjaan merupakan salah satu dampak pandemi virus corona (covid-19) dan lockdown yang masih diberlakukan di Melbourne.

Setelah proses lamaran ditutup, Uchan yang melamar lewat situs pencari kerjaan SEEK, sering menerima e-mail pemberitahuan yang mencantumkan berapa banyak orang yang melamar.

Ia pernah melihat 700 orang melamar untuk pekerjaan jenis paruh waktu, menggambarkan sulitnya mencari pekerjaan di Melbourne saat ini.

Berdasarkan data SEEK bulan lalu, jumlah lamaran pekerjaan di kebanyakan industri di Australia meningkat pesat dibandingkan sebelum pandemi.

Jenis pekerjaan yang menerima lamaran terbanyak antara lain bidang administrasi dan perkantoran, teknologi informasi dan komunikasi, akuntansi, penjualan, serta industri konstruksi.

Baca juga: Ditanya soal Dipoligami, Shireen Sungkar: Aku Mau Jadi Khadijah 

Di beberapa kesempatan, Uchan juga pernah sampai di tahap wawancara dan pemeriksaan referensi, namun penolakan di tahap lanjutan ini membuatnya kadang merasa putus asa.

"Saya mulai berpikir: 'Apakah saya cukup baik?' Saya merasa tidak berguna atau bahkan tidak mau melakukannya lagi," kata Uchan kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Namun, ia tetap merasa bersyukur atas dukungan dari suami dan keluarga, apalagi masih memiliki pekerjaan 'casual' sebagai 'bookkeeper' dengan jam kerja tiga jam per minggu.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ibu dari dua anak yang pindah ke Australia pada 2005 ini mengatakan dirinya didiagnosis memiliki kecemasan atau 'anxiety' beberapa tahun yang lalu.

Meski demikian, Uchan mengaku masih dapat beraktivitas seperti biasa, namun ketika kecemasan itu kembali, ada perasaan mudah sedih bahkan karena hal-hal yang kecil.

"Saya tidak mau berbicara ke siapa pun, bahkan ke orang-orang di rumah. Yang saya inginkan hanyalah masuk ke kamar dan sendirian," kata Uchan.

Baca juga: Koki-Koki Amerika Pasok Makanan Halal untuk Keluarga Muslim Terdampak Covid-19 

Dirinya tidaklah sendirian mengalami kecemasan serta kondisi yang tidak nyaman terkait kesehatan mental.

Di Australia dilaporkan semakin banyak warga yang mengalami kondisi kesehatan mental kurang baik, terlebih akibat pandemi virus corona (covid-19).

Hal ini juga telah memicu banyak diskusi tentang apakah sudah ada bantuan yang layak dan cukup bagi komunitas migran di Australia.

Baca juga: Yuk Isi Shaf Pertama Sholat, Allah dan Malaikat Akan Memberi Sholawat 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini