Iri Hati karena Pencapaian Orang Lain? Waspada Dosa Besar

Putri Aliya Syahidah, Jurnalis · Sabtu 22 Agustus 2020 20:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 22 330 2265877 iri-hati-karena-pencapaian-orang-lain-waspada-dosa-besar-IZyVTtlmLX.jpg Ilustrasi iri hati. (Foto: Freepik)

SALAH satu sifat tercela dan merupakan dosa besar menurut sebagian ulama yaitu hasad. Sifat iri hati yang disebabkan ketidaksukaan terhadap pencapaian orang lain ini muncul akibat tidak bisa meraih prestasi yang sama. Jenis penyakit hati yang satu ini dapat menimbulkan permusuhan dan kedengkian apabila tidak diatasi dengan baik dan cepat.

Iri hati dan dosa besar lainnya tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali dengan taubatan nasuha. Ketika manusia terjerumus ke hasad, harus segera ditangani agar tidak timbul perselisihan yang menyebabkan timbulnya korban.

Jika sudah seperti ini bakal bertambah dosanya selain iri hati yaitu menyakiti atau berlaku zalim kepada orang lain. Lalu apabila sampai pada tindak kriminal pembunuhan maka termasuk dosa besar.

Baca juga: Ini Hukumnya Membatalkan Pertunangan 

Mengutip dari akun Youtube Yufid TV, Sabtu (22/8/2020), Ustadz Abdullah Zaen mengatakan bahwa Imam Al Qurthubi menyampaikan bahwa hasad adalah dosa yang pertama kali terjadi di langit dan bumi.

Di langit yaitu iblis ketika disuruh oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk sujud kepada Nabi Adam Alaihissalam tapi menolaknya. Ia tidak mau sujud karena merasa diciptakan pertama kali oleh Allah Ta'ala. kemudian Nabi Adam hanya diciptakan dari tanah, sementara iblis dari api.

Dosa pertama kali di bumi terjadi pada Qabil yang membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil. Salah satu pemicunya karena mereka diperintahkan berkurban oleh Allah Subhanahu wa ta'ala namun hanya milik Habil yang diterima.

Sebab kurban yang dilakukan Qabil tertolak. Akhirnya ia merasa iri dan hatinya terdorong untuk melakukan pembunuhan. Itu merupakan peristiwa pertumpahan darah pertama yang ada di muka bumi karena mereka adalah anak dari Nabi Adam Alaihissalam. Setelah membunuh, Qabil merasa bingung karena tidak mengetahui harus melakukan apa terhadap jenazah Habil.

Akhirnya Allah Subhanahu wa ta'ala mengutus dua burung yang bertengkar hingga salah satunya mati dan burung yang hidup menguburkan yang mati.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Karena Qabil yang pertama kali melakukan pembunuhan, maka setiap ada pembunuhan di muka bumi, ia akan mendapat dosanya hingga hari kiamat."

Baca juga: Rezeki Mengalir Deras meski Terus Bermaksiat, Apakah Tanda Istidraj

Qabil mendapatkan dosa mereka sampai hari kiamat karena ia yang mencontohkan dan melakukan pertama kalinya di muka bumi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian saling hasad (dengki), janganlah kalian saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara untuk Muslim lainnya. Karenanya, ia tak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini (beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya)." (HR Muslim nomor 2564)

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Alquran Surah An Nisa (4) Ayat 32 yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Seperti dikutip dari buku '400 Kebiasaan Keliru dalam Hidup Muslim' karya Abdillah Firmanzah Hasan dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk menangkal penyakit iri dengan selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan melihat "ke bawah atau orang yang keadaannya jauh di bawah kita" untuk urusan dunia. Sementara untuk akhirat diperintahkan melihat "ke atas atau orang yang sudah ahli ibadah" agar timbul semangat beribadah.

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Hati-Hati Bermedia Sosial, Akan Dicatat dan Dihisab di Akhirat Kelak 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini