Bolehkah Nazar Dibatalkan? Ini Penjelasan Buya Yahya

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 21:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 330 2267963 bolehkah-nazar-dibatalkan-ini-penjelasan-buya-yahya-cI9L4wrmeS.JPG KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya (Foto: YouTube/@Al-Bahjah TV)

NAZAR dimaknai sebagai sebuah janji dari seseorang yang akan dipenuhi apabila keinginannya berhasil tercapai. Misalnya, ada orang yang mengucap nazar akan berbagi sembako apabila berhasil diterima untuk bekerja di perusahaan ternama, atau yang bernazar akan berpuasa jika sembuh dari suatu penyakit.

Namun faktanya, sebuah keinginan yang diucapkan bersamaan dengan nazar tak selalu langsung terwujud, sehingga muncul di benak yang melakukan nazar untuk membatalkan nazar tersebut. Lalu, apakah diperbolehkan untuk membatalkan nazar?

Pimpinan Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon, KH Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya mengatakan, nazar sejatinya tidak bisa dibatalkan. Yang menjadi pembeda adalah mampu atau tidaknya melaksanakan nazar tersebut.

“Nazar tidak bisa dibatalkan, hanya perbedaannya adalah mampu melaksanakan atau tidak mampu melaksanakan. Kalau ia bernazar dan tidak mampu, ditunggu sampai mampu. Kalau meninggal dan ia belum mampu, jadinya tidak berdosa,” kata Buya Yahya, dikutip dari channel YouTube, Al-Bahjah TV, Rabu (26/8/2020).

Baca juga: Yuk, Menggapai Hajat dengan Rajin Bersholawat

Lebih lanjut Buya menekankan, dalam kondisi tidak mampu melakukannya, maka jangan dipaksakan. Namun, melunasi nazar harus disegerakan apabila telah mampu melakukannya. Hal ini dikarenakan nazar telah masuk kepada kewajiban yang harus dilunasi, seperti layaknya utang. Penekanan untuk tidak meremehkan pelunasan nazar disebutkan yang jika sampai nanti meninggal, tidak boleh dibagikan harta warisnya kecuali nazarnya sudah dikeluarkan terlebih dahulu.

Dalam bernazar juga harus dipastikan dengan nazar yang syar’i, yakni nazar yang tujuannya adalah hal-hal baik dan terkait dengan amal atau perbuatan baik. Sangat dilarang mengucapkan nazar yang tidak syar’i, seperti untuk melancarkan aksi kejahatan atau maksiat.

Buya Yahya juga mengingatkan untuk tidak mmebiasakan diri mengucap nazar, karena sejatinya nazar diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak mampu. “Jangan biasa dengan nazar, nazar itu adalah untuk orang yang tidak mampu. Kalau orang tidak mampu bernazar, baru sah nazarnya," terang pendakwah kelahiran Blitar ini.

Karena tak sedikit yang melaksanakan nazar sebagai sarana untuk beribadah yang harus disertai dengan suatu alasan terlebih dahulu. Maksudnya, harus terkabul keinginannya barulah ia akan bersedekah atau berbagi kepada sesama sebagaimana yang biasa dijanjikan dalam nazar. Jenis orang seperti ini yang disebut dengan bukhola, atau orang-orang yang pelit.

Baca juga: Dalil tentang Hari Kiamat, Manusia Harus Waspada

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu, Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit),” (HR. Bukhari No. 6693).

“Jadi intinya, tidak ada pembatalan nazar, yang ada adalah mampu atau tidak mampu. Kalau mampu, segera dibayarkan. Kalau tidak mampu dan sampai mati pun tidak bisa memenuhi nazarnya, maka ia tidak akan berdosa, karena ketidakmampuannya," terang dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini