Dua Fakta Menarik di Balik Penyebaran Islam di Indonesia

Wiji Adinda Putri, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 12:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 614 2267680 dua-fakta-menarik-di-balik-penyebaran-islam-di-indonesia-U6CIrK1dNl.JPG Batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh di Aceh Utara, Provinsi Aceh (Foto: TRT World)

INDONESIA merupakan negara di Asia Tenggara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia. Islam menyebar di negara itu melalui jalur perdagangan. Ajaran Islam tersebar secara damai. Berbeda halnya dengan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan.

Sejarawan, Dr. Carool Kersten mengatakan, penyebaran Islam di Indonesia tergolong menarik. Pasalnya, Islam datang ke negara itu secara bertahap dan bisa dikatakan sangat terlambat. Menariknya lagi, Islam datang tidak melibatkan penaklukan, sebagaimana di negara Arab dan lainnya.

“Bukti pertama orang lokal masuk Islam di Indonesia saat ini tidak lebih dari abad ke-13. Saat itu kami menemukan bukti arkeologi dasar yaitu batu nisan sultan dengan nama Arab, yang menunjukkan bahwa pemimpin lokal telah memeluk Islam,” ujar Kersten, melansir dari laman TRT World, Rabu (26/8/2020).

Batu nisan yang ditemukan pertama kali tersebut diketahui milik seorang penguasa lokal, yaitu Sultan Malik Al-Saleh, tepatnya di Aceh Utara, Provinsi Aceh. Ketika memutuskan memeluk agama Islam, penduduk lokal pun perlahan mulai mengikuti jejaknya.

“Fakta bahwa dia mengadopsi gelar Arab dan menyebut dirinya seorang Sultan daripada Raja, yang merupakan kata Sansekerta untuk seorang penguasa, adalah bukti kuat pertama bahwa seseorang dari Asia Tenggara memutuskan untuk memeluk Islam dan penduduknya mengikutinya,” tuturnya.

Baca juga: Malaysia Cabut Aturan Bawa Sajadah Sendiri ke Masjid

Yang benar-benar membingungkan sejarawan dan arkeolog lanjut Kersten ialah batu nisannya, yang dirancang dengan motif dan pola yang dapat ditemukan di negara bagian Gujarat, India.

Gujarat dikenal dengan pedagang dan pebisnis yang berani mengambil risiko yang tidak akan ragu untuk bepergian ke daerah yang jauh untuk mencari mata pencaharian. Di antara mereka mayoritas muslim.

Rute perdagangan telah berperan penting dalam penyebaran Islam. Misalnya, ada komunitas besar Hadrami Arab dari Yaman di Indonesia.

Muslim dari China juga meninggalkan jejak. Laksamana muslim China abad ke-15, Cheng Ho, sering dianggap membantu menyebarkan Islam di pulau Jawa, Indonesia.

“Sangat menggoda untuk berasumsi bahwa para pedaganglah yang membawa Islam. Tetapi Anda perlu berhati-hati di sini. Jalur perdagangan mungkin digunakan sebagai saluran tetapi pedagang adalah pengusaha, mereka bukan pendukung atau misionaris agama," ungkap Kersten.

“Penyebaran Islam di Indonesia merupakan proses hibrida. Tidak ada satu momen pun untuk bertobat. Itu adalah sistem yang jauh lebih cair di mana penduduk setempat tidak melepaskan semua praktik dan keyakinan mereka sekaligus," tambahnya.

Setelah berkembangnya Islam, muslim Indonesia melakukan perjalanan ke pusat pendidikan Islam di seluruh dunia. Para ulama lokal akhirnya fasih berbahasa Arab, Persia dan sangat bersemangat mencari pengetahuan Islam. “Islam tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang dipernis dalam budaya Asia Selatan. Orang-orang ini adalah bagian integral dari dunia muslim," kata Kereten.

Pada kisaran abad ke-15 setelah penemuan nisan tersebut, muslim semakin menguasai rute maritim internasional dan banyak raja Indonesia yang melihat hal tersebut sebagai sebuah kesempatan yang menarik. Sehingga tidak sedikit mereka memutuskan menerima ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Namun fakta lain menyatakan bahwa tidak hanya jalur perdagangan yang membawa ajaran Islam kepada masyarakat Indonesia, melainkan budaya wayang kulit pun mampu menjadi pengantar penyebaran. Hal ini dirasa efektif oleh Nawab Osman, seorang peneliti Asia Tenggara. Karena melihat cara yang diterapkan di Asia Selatan dalam kisah Ramayana.

“Pertunjukan wayang golek adalah bagian besar dari budaya Indonesia. Jadi yang dilakukan oleh para ulama adalah mengubah karakter Ramayana menjadi tokoh muslim, serta menunjukkan para sahabat Nabi dan sebagainya. Itu merupakan cara yang sangat efektif bagi orang untuk masuk ajaran Islam,” tutur Osman.

Menurut Osman, umat muslim Indonesia bukanlah seorang yang tergolong pasif dalam menerima suatu ajaran.

Namun, lebih kepada muslim yang aktif berpartisipasi dalam menyebarkan ajaran Islam itu sendiri, sehingga negara ini menjelma menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Seiring berjalannya waktu, metode dakwah yang semakin modern dan komprehensif menjadikan Indonesia dengan 87% penduduknya memeluk agama Islam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini