Covid-19 Mengubah Cara Muslim di Amerika Memakamkan Jenazah

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2020 21:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 27 614 2268529 covid-19-mengubah-cara-muslim-di-amerika-memakamkan-jenazah-fO3INIDJP6.jpg Muslim di AS kini tak bisa lagi mengurus jenazah dan memakamkan dengan tuntutan kebiasaan dalam Islam, karena harus mengikuti protokol kesehatan Covid-19 (Daoud Nassimi/Middle East Eye)

MENGUCAPKAN selamat tinggal untuk selamanya kepada seseorang yang kita cintai adalah salah satu hal tersulit yang harus dilalui dalam hidup. Di momen ini, kerabat dan orang-orang terdekat akan berkumpul, mengirimkan doa untuk mengingat dan menghormati mereka yang telah meninggal.

Islam memiliki pedoman khusus dalam melangsungkan pemakaman jenazah. Dalam Islam, meninggalnya seseorang dianggap sebagai seruan bagi umat untuk menghormati dan mengingat bahwa ajal akan datang kepada siapapun dan kapan pun.

Menghadiri sebuah pemakaman hukumnya wajib atau fardhu kifayah. Sebelum itu, para pelayat akan diarahkan ke masjid untuk melaksanakan sholat jenazah dan datang ke rumah duka untuk menyampaikan rasa belasungkawa.

Baca juga: Sains dalam Alquran, Matahari Terbit dari Barat sebagai Tanda Hari Kiamat

Namun tata cara ritual yang biasa dilakukan terpaksa harus diubah mengikuti prosedur guna mencegah penyebaran penyakit yang sedang mewabah virus corona atau Covid-19.

Dikarenakan virus ini telah merenggut banyak korban jiwa setiap harinya, maka cendekiawan dan imam Muslim terkemuka di Amerika Serikat telah mengeluarkan panduan tentang cara melaksanakan upacara pemakaman bagi mereka yang meninggal karena Covid-19.

Hal ini tentunya penting guna menjaga agar penyebaran virus tak semakin luas.

Dilansir dari Middle East Eye, Kamis (27/8/2020), di wilayah utara Virginia, Daoud Nassimi, seorang imam relawan yang melakukan pendekatan dengan keluarga untuk menjelaskan pemakaman darurat yang lebih baik dilakukan di tengah pandemi mengatakan, bahwa ia harus melihat rasa sakit dan kesabaran di wajah sebuah keluarga yang baru saja ditinggal anggota keluarganya meninggal belum lama ini, karena adanya batasan yang diberlakukan kepada mereka mengenai pencegahan Covid-19.

Dalam Islam, biasanya ketika seseorang meninggal, jenazah akan dimandikan terlebih dahulu, baru dibawa ke masjid untuk disholatkan dan dimakamkan. Penguburan jenazah harus dilakukan dalam waktu 24 jam dan tanpa peti mati, hanya berbungkus kain putih yakni kain kafan.

Namun, prosedur Islami dalam pemakaman biasanya ini tak dapat dilakukan selama pandemi berlangsung. Seseorang yang meninggal karena Covid-19 dilarang untuk dimandikan karena membasuh tubuhnya dengan air dikhawatirkan mampu menyebarkan virus.

Tak hanya itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa jenazah seseorang yang telah meninggal akibat Covid-19 tidak boleh disentuh, karena dikhawatirkan virus tersebut bisa menyebar.

Baca juga: Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram dan Dalilnya

Menurut otoritas setempat, segala jenis pembersihan dan kontak fisik dengan jenazah harus dilakukan secara profesional dengan mengenakan alat pelindung diri (APD).

Dikarenakan beberapa negara bagian dan wilayah di negara tersebut tak lagi melakukan ritual mandikan jenazah, umat Muslim kemudian beralih ke metode mensucikan lainnya yakni dengan tayamum, membersihkan mayat dengan pasir ataupun debu.

"Kami telah mengubah prosedur kami dari memandikan (jenazah) menjadi tayamum," kata Nasir Saleh, yang menjalankan Alfirdaus Janazah Services, sebuah layanan pemandian dan pemakaman jenazah Muslim, di Lorton, Virginia.

"Dan kemudian kami menggunakan kantung jenazah untuk menutupi tubuh sehingga kami bisa melakukan tayammum di atasnya."

Fatwa dan Pedoman Baru

Dewan Fiqih Amerika Utara juga telah mengeluarkan fatwa yang merinci nasihatnya tentang bagaimana umat Islam harus menangani penguburan di tengah pandemi. Dewan tersebut telah berpesan kepada masyarakat untuk mengikuti semua prosedur wajib dalam menguburkan jenazah, namun jika menemui kendala akibat pembatasan pemerintah daerah, mereka dapat melakukan alternatif.

“Prosedur dasarnya adalah bahwa jenazah tetap harus mandi dengan ketentuan penuh dan mengikuti untuk pakai APD,” kata Yasir Qadhi, Dekan Bidang Akademik Institut Al-Maghrib di Texas dan salah satu anggota dewan.

“Dalam hal ini pun tidak dapat dilakukan dan ada bahaya yang nyata atau keraguan yang masuk akal mengenai membahayakan kesehatan orang-orang di sekitar jenazah, tayamum dapat dilakukan, dalam hal ini yang bertanggung jawab atas jenazah boleh, meskipun memakai sarung tangan, menyeka wajah dan tangan almarhum setelah menyentuh permukaan berpasir. "

Kesabaran dan Fleksibilitas

Sementara itu, pemerintah AS juga telah menyarankan agar pertemuan publik tidak melebihi 10 orang, yang telah memaksa banyak Muslim Amerika untuk mengurangi layanan pemakaman. Pemakaman di Virginia telah membatasi jumlah orang yang diizinkan untuk ambil bagian hingga kurang dari 10 orang.

"Staf di pemakaman bahkan tidak mengizinkan lebih dari empat orang untuk berada di kuburan saat jenazah dikuburkan," kata Nassimi kepada Middle East Eye.

"Dalam proses pemakaman dan jenazah di negara non-Muslim seperti AS, sudah ada beberapa batasan - tetapi sekarang ada lebih banyak lagi."

Nassimi, yang juga seorang profesor Islam dan agama-agama dunia di Northern Virginia Community College, mengatakan bahwa meskipun pembatasan menyebabkan penderitaan bagi anggota keluarga, hukum Islam bersifat fleksibel dan memiliki aturan yang mengatur situasi seperti wabah dan pandemi.

"Bagi keluarga itu sulit karena mereka tidak bisa melihat orang tersebut untuk terakhir kalinya dan dalam perasaan duka. Anda bisa melihat rasa sakit [di wajah mereka]," katanya.

Menurut empat mazhab utama Islam Sunni, sholat jenazah, tidak memerlukan jumlah orang tetap yang hadir dan dapat dilakukan di mana saja. Bahkan bisa dilakukan di situs pemakaman.

Dewan Fiqih Amerika Utara juga menyarankan untuk menyiarkan pemakaman secara online, sehingga lebih memungkinkan untuk memperlihatkan kepada orang-orang terdekat jenazah yang tidak dapat hadir untuk melihat prosesi pemakaman, serta memungkinkan pula untuk dilakukannya sholat jenazah secara virtual karena terpisah secara jarak.

"Saya mencoba menjelaskan kepada orang-orang [mengenai pemakaman baru-baru ini] bahwa tidak apa-apa jika kita berdoa untuk jenazah sementara kita tidak berdiri bersebelahan. Tidak apa-apa jika kita melakukan penguburan dengan para pelayat tak berdiri mengelilinginya," Nassimi berkata, mengacu pada prinsip dalam Islam bahwa umat Islam harus berdoa dalam garis lurus dan berdiri bahu-membahu.

Takut Dikremasi

Sementara itu, Inggris belum lama ini mengeluarkan amandemen undang-undang terkait Covid-19 yang memungkinkan diwajibkannya kremasi apabila tingkat kematian dari virus ini terus meningkat.

Pada dasarnya, dalam Islam, proses kremasi dilarang, karena seorang Muslim harus dipastikan pemakamannya yakni dengan dikuburkan.

Abu Eesa Niamatullah, seorang imam yang berbasis di Manchester, mengatakan umat Islam harus siap menerima perubahan jika situasinya semakin buruk.

“Kita semua tahu dengan kemampuan kita untuk mengatasi gelombang besar kematian, terutama bagi umat Islam dengan jumlah proses yang diperlukan dan kesucian jasad, bahwa ini adalah masalah utama,” katanya dalam sebuah video.

CDC di AS mengatakan bahwa individu yang telah meninggal, termasuk mereka yang berasal dari Covid-19, dapat dikremasi atau dikuburkan sesuai dengan preferensi keluarga.

Namun, dengan situasi di seluruh AS yang semakin memburuk, kekhawatiran meningkat bahwa undang-undang kremasi bisa saja akan diberlakukan.

"Kami sangat optimis dan berharap komunitas Muslim tidak harus menghadapi itu," kata Nassimi. “Kami berharap pemerintah juga bekerja sama dan membuat pengecualian bagi komunitas religius, seperti Muslim, untuk memungkinkan mereka melakukannya dengan cara mereka,”

Untuk saat ini, komunitas agama sedang beradaptasi dengan perubahan, dan sementara itu menyebabkan kesulitan, kuncinya adalah memastikan semua orang memahami situasinya, kata Nassimi.

"Islam telah memberi kami sedikit fleksibilitas, dan pemahaman bahwa fleksibilitas dan mengikuti fleksibilitas itu membuat semuanya menjadi lebih mudah. Ketika orang mengerti, mereka pasti akan mengikuti. Dan saya tidak melihat ada perlawanan atau siapa pun yang bermasalah dengannya."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini