Muhasabah Muharram

Minggu 30 Agustus 2020 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 30 614 2269645 muhasabah-muharram-GIbgBWj3ah.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

BULAN Muharram menghampiri kita. Mengingatkan kita pula pada peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah yang menjadi tanda besar bagi umat Islam.

Sejarah baru dimulai ketika Rasulullah beserta para shahabat melakukan hijrah. Peristiwa itu kemudian menjadi awal tahun kalender Islam dan diperingati hingga sekarang.

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah telah berdakwah menyebarkan Islam di Makkah. Semula, Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Syiar Islam kemudian dilakukan dengan terang-terangan.

Di saat itulah, ujian dakwah menimpa beliau, keluarga dan para shahabat. Kaum kafir Quraisy tak pernah bosan menyiksa, mengintimidasi, menghina, bahkan membunuh siapa saja yang mengikuti ajaran Muhammad Shallallahu qlaihi wasallam.

Rasulullah pun pernah mengalami duka mendalam ketika orang-orang kesayangan beliau wafat, yaitu Khadijah r.a dan paman tercintanya Abu Thalib yang selalu membela dakwah beliau.

Di tahun-tahun sebelum hijrahnya beliau inilah masa pemboikotan dan penganiayaan kerap dilakukan oleh kaum Quraisy demi menghalangi dakwah beliau dan ajaran Islam.

Karena derasnya penganiayaan dan pemboikotan yang dilakukan kafir Quraisy, Rasulullah pun mulai memikirkan strategi agar dakwah ini tetap berlanjut yaitu mulai merancang untuk meminta dukungan dan keamanan ke para pembesar Quraisy dan negeri-negeri yang ada di sekitar Makkah.

Namun, usaha itu tak membuahkan hasil sehingga Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair membawa misi dakwah islam dengan mengenalkan dan mengajarkan Islam di Madinah kepada Suku Aus dan Khazraj.

Usaha mengemban misi dakwah itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 621 M itu pula, datanglah sejumlah orang dari Madinah, menemui Nabi di Bukit Aqabah. Mereka memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut dikenal dengan Bai’at Aqabah I.

Tahun berikutnya, atau 622 M, datanglah 73 orang dari Madinah ke Makkah. Mereka merupakan Suku Aus dan Khazraj yang semula ingin berhaji. Mereka kemudian menemui Nabi dan mengajak berhijrah ke Madinah. Mereka menyatakan siap membela dan melindungi Nabi dan para pengikutnya dari Makkah.

Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah II. Kondisi kaum muslim di Makkah semakin terdesak setelah kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan kepada Rasulullah dan para pengikut beliau.

Mereka melarang setiap perdagangan dan bisnis dengan Nabi dan pengikutnya. Bahkan dilarang menikah dengan kaum muslimin.

Dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam, Allah memerintahkan Rasul untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Namun sebelumnya, Nabi telah memerintahkan kaum mukminin agar hijrah terlebih dahulu ke Madinah. Para sahabat pun segera berangkat secara diam-diam agar tidak dihadang oleh kelompok kafir Quraisy. Dari peristiwa inilah babak baru kehidupan kaum muslimin dimulai.

Memaknai hijrah

Kata Hijrah merupakah isim (kata benda) dari fi’il Hajara. Hajara berarti tarku al ulaa li ats tsaniyah yang artinya meninnggalkan dari yang pertama menuju yang kedua.

Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS. Al-Baqarah: 218).

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS. An-Nisa: 100).

Hijrah menurut al Jurjani berarti berpindah dari daarul kufur kepada daarul Islam. Sedangkan menurut Ibnu Hazm, hijrah adalah taubat meninggalkan segala dosa. Menurut Ibnu Rajab al Hanbali, hijrah berarti meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Patutlah kita renungkan secara mendalam makna hijrah seperti yang telah disampaikan Rasulullah di dalam haditsnya yang berbunyi: “Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lain selamat dari lisan dan tangannyaseorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah,” (HR. Bukhari, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Hakim, Ibn Hibban & Humaidi).

Dari sini kita bisa memaknai bahwasanya orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala apa saja yang dilarang oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang istikamah menutup aurat demi menunaikan kewajibannya kepada Allah bisa dikatakan dia telah berhijrah.

Seorang artis yang meninggalkan dunia keartisannya demi medekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ilmu agama itu juga disebut dia sedang berhijrah. Kaum muslimin yang meninggalkan segala bentuk penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata itu juga bisa disebut hijrah.

Dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan yang sejenis dimana hijrahnya seseorang dari keburukan menuju kebaikan dan ridho Allah, dilakukan dengan sepenuh jiwa, bukan setengah hati.

Menghidupkan hijrah dalam kehidupan

Hijrah dan tahun baru Muharram tak sekadar even tahunan yang terlewatkan begitu saja. Marilah kita memaknai momen hijrah di bulan Muharram ini dengan segala kebaikan-kebaikan amal, diantaranya:

Pertama, di antara hikmah hijrahnya Rasulullah adalah beliau mempersaudarakan kaum muhajirin (kaum muslim mekkah yang berhijrah) dengan kaum anshar (kaum aus dan khazraj yang menjadi penolong Rasul dan para shahabat) sehingga tidak ada lagi batas dan sekat kesukuan dan kebangsaan diantara mereka.

Mereka hanya diikat dengan ikatan akidah Islam dan ukhuwah Islamiyah. Sekiranya hal itu patut kita teladani misalkan dalam perkara menolong saudara-saudara muslim kita di Rohingya dan wilayah lainnya. Segala bantuan baik berupa harta, tenaga, bahkan militer harusnya dilandaskan pada ikatan akidah Islam bukan kepentingan nasional bangsa masing-masing.

Kedua, peristiwa hijrahnya Rasul juga mengingatkan kita pada betapa besarnya pengorbanan yang diberikan para sahabat dan pengikut beliau dengan meninggalkan harta, keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk senantiasa mengikuti Rasullulllah saw.

Dari cerminan hijrah yang mereka lakukan, sungguh terlihat betapa mereka tidak lagi mendahulukan dunia dalam langkah hidupnya, melainkan malah mengorbankan dunia untuk kepentingan akhirat.

Maka layak bagi kita untuk senantiasa menjadikan Rasul sebagai teladan hidup kita baik dari pola pikir, sikap, bahkan diamnya Rasullullah pun menjadi hukum bagi kita. Itulah pangkal keberuntungan.

Ketiga, jadikan spirit hijrah sebagai motivasi untuk senantiasa meningkatkan kualitas keimanan kita dalam beribadah serta ketaatan penuh kepada Allah Ta'ala. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu,” (QS. Muhammad: 33).

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang,” (QS. At-Taghabun: 12).

Maka perkara hijrah adalah kewajiban bagi kita yang mengaku bersyahadat kepada Allah SWT. Banyaknya problematika yang terjadi di negeri kita semisal korupsi, pelecehan seksual, perampokan, pembunuhan, dosa riba, berzina, dan lain sebagainya merupakan sekian contoh keburukan yang terjadi di negeri kita. Lalu bagaimana kita bisa mengubahnya agar keburukan itu diganti dengan kabaikan?

Maka menjadi kewajiban kita pulalah untuk melakukan perubahan itu dengan melakukan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagai wujud agar negeri kita segera berhijrah dari kekufuran menuju kepada kema’rufan dan rahmat, yaitu Islam. Berhijrah dari sistem yang menjauhkan dari ajaran Islam menuju sistem yang menghidupkan kembali kehidupan Islam. Berhijrah dari muslim sekuler menuju muslim taat Islam secara kaffah.

Rasulullah dan para sahabat rela menempuh jarak Makkah-Madinah 470 kilometer meninggalkan harta benda dan semua usaha, meninggalkan keluarga bahakan menghadapi risiko dibunuh atau tertawan. Lalu sudahkah kita berniat untuk hijrah? Sudahkan kita berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah? Jawabannya ada di dalam keimanan serta hakikat diri kita sebagai hamba Allah SUbhanahu wa Ta'ala.

Wallahu a’lam bishshawab

Oleh:

Chusnatul Jannah

Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini