Bolehkah Harta Wakaf Dijual? Berikut Penjelasanya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Kamis 04 Februari 2021 19:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 330 2356649 bolehkah-harta-wakaf-dijual-berikut-penjelasanya-75YZl1Ckwp.jpg Tanah wakaf. (Foto:SINDOnews)

JAKARTA- Apakah tanah wakaf atau harta wakaf boleh dijual? Dalam persoalan ini beberpa ulama berbeda pendapat.

Imam Malik dan Imam Syafii yang berpendapat bahwa harta wakaf tidak boleh dijual sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan bolehnya.

Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa harta wakaf boleh dijual dan diganti hanya jika kemanfaataannya sudah tidak ada secara total dan tidak mungkin diperbaiki lagi.

Baca Juga: Eksklusif dari Tanah Suci: Kawasan Pertokoan di Madinah bak Kota Mati

Misalnya untuk masjid yang tidak dipakai lagi karena penduduknya sudah tidak ada (pergi) atau ada masjid yang sudah sangat sempit dan tidak mungkin diperlebar lagi.

Untuk kasus ini, yang sudah diwakafkan boleh dijual. Seperti ini menjadi pendapat Umar bin Khattab dan pernah ia terapkan, dan tidak ada seorang sahabat pun yang mengkritik pendapat Umar. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini.

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatwanya, kata Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, berpandangan bahwa boleh harta wakaf itu dijual dengan pertimbangan penjualan itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 219, 229.

Baca Juga: Takhayul Zaman Nabi, Kisah Firaun Menyihir Tali Menjadi Ular

Dikutip dari laman Rumasyo pada Kamis (4/2/2021) disebutkan faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 7: 19-23.

Sementara wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Mengenai ketentuan tentang wakaf dijelaskan dalam hadits ‘Umar berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi shamohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut.

Beliau bersabda:

“Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”

Perawi hadits berkata:

"Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta." (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632). 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini