Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadhan, Mengapa Bisa Demikian?

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 07 April 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 330 2390330 masih-ada-maksiat-di-bulan-ramadhan-mengapa-bisa-demikian-9AfQvIAtIg.jpg Di Bulan Ramadhan masih saja terjadi maksiat, termasuk orang yang meminum minuman keras. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Masih ada maksiat di bulan Ramadhan, mengapa bisa demikan? Padahal semua setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup.

Namun mengapa masih saja ada maksiat terjadi di bulan suci Ramadhan? Sebuah hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hajar berbunyi sebagai berikut:  

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya, “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu.” Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hajar.

Mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ja‘far, dari Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ihwal kesahihannya tak perlu diragukan mengingat hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (nomor 1079) yang termasuk salah satu dari dua kitab hadits paling otoritatif di tengah kaum Muslimin. Redaksi lain menyebutkan sebagai berikut:

Baca Juga: Bulan Ramadhan, Bung Karno dan 50 Tusuk Sate

“Jika masuk malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu,” dengan tambahan redaksi, “Sebuah suara menyeru, ‘Wahai pencari kebaikan, menghadaplah! Wahai pencari keburukan, batasilah! Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.’ Seruan itu terjadi setiap malam.”

Hadis kedua diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (nomor 682) dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala bin Kuraib, dari Abu Bakar bin ‘Abbas, dari Al-A‘masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Masih banyak lagi perawi dan penulis kitab meriwayatkan hadits ini.

Ustadz M Tatam, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat menjelaskan dari hadis ini, muncul sebuah pertanyaan ringan, unik, namun penting dicarikan jawabannya. Pertanyaannya, mengapa di bulan Ramadhan masih banyak saja manusia yang maksiat dan mengumbar syahwat?

Baca Juga: Sidang Isbat Awal Ramadhan Digelar 12 April 2021

Bukanlah setan dan jin-jin yang jahat sudah dibelenggu? Mestinya jika tidak ada yang menggoda, semua manusia berbuat taat. Secara harfiah kata “shaffada” bermakna “mengikat”, “membelengu”, termasuk membelenggu dengan belenggu besi, seperti yang disebutkan Ibnu Hajar.

Kemudian, terkait makna hakiki dari hadits ini, para ulama hadits sendiri memiliki pendapat beragam. Al-Halimi yang dikutip oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan, mungkin saja hadis ini bermakna bahwa setan senantiasa mencuri-curi dengar informasi langit.

Dikutip dari laman Islam nu or id dikutip pada Selasa (7/4/2021) disebutkan, namun, pada bulan suci Ramadhan, mereka tidak dapat melakukan hal itu karena dibelenggu, termasuk menggoda manusia.

Sebagaimana diketahui, zaman Al-Qur‘an diturunkan mereka senantiasa dihalang-halangi mencuri tahu wahyu yang turun. Itu terjadi antara lain demi menjaga keotentikan wayhu. Mungkin pula hadits ini bermakna, pada bulan Ramadhan setan tidak terlalu leluasa menggoda manusia layaknya pada bulan-bulan lain karena kesibukan manusia berpuasa, membaca Al-Qur‘an, berzikir, dan seterusnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dengan demikian, istilah “dibelenggu” menjadi ungkapan atas kelemahan setan menyelewengkan, menggoda manusia, dan memperindah keinginan syahwat manusia. Walhasil, menurut Abu Muhammad penulis Kitab ‘Umdatul Qari, mengapa kemaksiatan masih merebak pada bulan Ramadhan walau setan dibelenggu?

Jawabannya setan terbelenggu pada bulan itu bagi orang-orang berpuasa yang menjaga syarat, rukun, dan adabnya. (Syekh Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, juz X, halaman 270). Ada lagi yang berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanya sebagian saja, tidak seluruhnya.

Jadi, maksud hadits ini hanya membatasi ruang gerak setan dan jin-jin jahat saja. Itu pun dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa. Kemudian, pembelengguan setan tidak berhubungan langsung dengan keburukan dan kemaksiatan manusia. Sebab, dalam diri manusia masih terdapat pemicu atau pendorong keburukan lain, yakni nafsu, kebiasaan buruk, dan setan manusia.

Adakalanya, tanpa setan, kebiasaan buruk akan mendorong manusia untuk berbuat buruk. Saat tidak dibelenggu pun, setan hanya mendorong dan memperindah keburukan. (Lihat Jamaluddin Abul Farj, Kasyful Musykil min Haditsis Shahihain, juz III, halaman 409). Ada pula yang menafsirkan ungkapan hadits ini sebagai kiasan, seperti Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi.

Dia mengatakan, “Menurut hemat saya, maksud ‘dibelenggu’ di sana adalah majaz (kiasan). Maknanya, wallahu a‘lam, Allah senantiasa menjaga kaum Muslimin yang taat di bulan Ramadhan dari godaan setan sehingga mereka mampu menghindari kemaksiatan. Dengan begitu, setan tidak leluasa menggoda mereka yang berlainan halnya dengan bulan-bulan di luar Ramadhan,” (Lihat Al-Istidzkar, juz III, halaman 377).

Dengan demikian, pengertian setan dibelenggu dalam hadits tadi tidak dapat dimaknai sepenuhnya secara harfiah. Mayoritas ulama hadits bahkan menafsirkannya secara kiasan. Artinya, setan terbelenggu dan terbatasi ruang geraknya oleh orang-orang yang berpuasa dengan senantiasa memenuhi syarat, rukun, dan adabnya. Pada saat yang sama, Allah memelihara mereka dari perbuatan tercela. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjauhi kebiasaan buruk, menjauhi manusia setan, dan mengendalikan nafsu yang kerap ditumpangi setan jin dalam menyesatkan manusia. Jangan lupa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari keburukan makhluk terkutuk itu. Wallahu a‘lam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya