Mukjizat Al-Quran, Begini Perjalanannya hingga ke Tangan Manusia

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Kamis 15 April 2021 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 330 2394858 mukjizat-al-quran-begini-perjalanannya-hingga-ke-tangan-manusia-jN40ONizwX.jpg Mushaf Al-Quran. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Al-Quran merupakan kitab suci umat Muslim yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW. Melalui Rasulullah, Al-Quran turun dengan mukjizat dari surga sebagai pedoman hidup manusia.

Turunnya surat berangsur-angsur dari terciptanya manusia pertama sampai Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya bisa sampai di tangan kita bukanlah sebuah proses yang singkat.

Lantas, bagaimana proses Al-Quran, yang berasal dari surga, bisa sampai kepada seluruh umat manusia?

Seorang penulis surat kabar Islam nasional di Australia, Aisha Stacey, yang menempa pendidikan Islam di Qatar setelah jadi mualaf pada 2002, menjelaskan bahwa dalam Surat Asy Syura ayat 52, Allah SWT telah menyatakan tentang turunnya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Hal itu dituangkan dalam artikelnya seperti dilansir dari About Islam.

Baca Juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Baqarah Bisa Mengusir Setan dari Rumah hingga Diberi Kecukupan

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura [42]:52).

Proses turunnya Al-Qur'an bermula dari malam yang dikenal dengan ‘Malam Keputusan’, di bulan Ramadhan.

Wahyu yang diberi Allah SWT disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalu malaikat Jibril. Ketika Nabi Muhammad SAW menginjak usia 40 tahun, barulah beliau banyak menghabiskan waktunya untuk merenung secara mendalam.

Nabi Muhammad SAW pergi ke Gua Hira di Jabal Nur, Makkah untuk menyembah Allah SWT dan merenungkan kehidupan, alam semesta, dan hidupnya di dunia. Hingga suatu malam selama bulan Ramadhan, seorang malaikat mendatanginya dan memintanya untuk membaca, namun Nabi Muhammad SAW berkata bahwa beliau tidak bisa membaca.

Baca Juga: Keistimewaan di Balik Sahur Ramadhan, Ini Alasan Mengapa Tidak Boleh Ditinggalkan

Kemudian malaikat itu mendekap Nabi Muhammad SAW sampai tertekan dadanya. Malaikat melepaskannya kemudian memintanya untuk kembali membaca. Namun jawaban yang diberikan Nabi Muhammad Saw tetaplah sama, “Saya tidak tahu caranya membaca.”

Kembali, malaikat melahannya dengan paksa sampai tiga kali dan Nabi Muhammad SAW selalu menjawab bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya membaca, atau apa yang harus i abaca. Dari sinilah awal mula Malaikat yang kemudian memberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW kata-kata pertama dalam Al-Qur'an .

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq [96]:1-5).

Itulah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yang dimana setelahnya beliau tak lagi dihampiri oleh malaikat Jibril dalam waktu yang cukup lama.

Kali berikutnya beliau bertemu dengannya (malaikat) saat berjalan sendirian. Nabi Muhammad mendengar suara dari langit. Ketika beliau melihat ke atas, beliau melihat malaikat itu duduk di kursi antara langit dan bumi. Nabi Muhammad ketakutan dan lari pulang mencari pertolongan dan menutup dirinya dengan menggunakan selimut. Wahyu kedua turun saat itu.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. Al Muddassir [74]:1-5).

Selama 23 tahun berikutnya hingga sesaat sebelum ajal Nabi Muhammad SAW, Al-Qur'an diturunkan secara bertahap. Diungkap beberapa alasan terkait hal ini, dimana beberapa mengatakan bahwa diturunkan perlahan untuk menawarkan dukungan kepada Nabi Muhammad SAW dan mengatasi permasalahan yang muncul. Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, menceritakan bahwa ketika ditanya tentang bagaimana firman Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ia menjawab:

“Terkadang seperti dering lonceng, bentuk inspirasi ini adalah yang paling sulit dari semuanya dan kemudian keadaan ini berlalu setelah saya memahami apa yang diilhamkan. Terkadang Malaikat datang dalam bentuk seorang pria dan berbicara kepada saya dan saya memahami apa pun yang dia katakan.” (Al-Bukhari).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya