Kenikmatan "Mengalah" karena Allah

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 17 April 2021 03:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 330 2396106 kenikmatan-mengalah-karena-allah-TUmvMbwRmW.jpg Hadiqun Nuha. (Foto: Dok)

HIDUP di Era industri 4.0 membuat segalanya berjalan dengan cepat. Hal ini tidak lepas dari berbagai macam kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Kehidupan yang serba cepat ini membuat manusia untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada, disini seolah berlaku hukum seleksi alam yang disampaikan oleh Darwin, siapa yang berhasil memenangkan kompetisi untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang ada maka dia akan hidup, atau jika derajatnya diturunkan, siapa yang berhasil unggul dibanding yang lain maka dia akan mendapatkan eksistensinya.

Pemahaman yang demikian membuat manusia siang dan malam berlomba untuk mendapatkan sumber daya-sumber daya yang mungkin saja tersedia. Sehingga membuat manusia menetapkan standar bahwa kepuasan dan kenikmatan hidup hanyalah diukur dari seberapa banyak materi yang didapatkan. Orang dinilai sukses jika berhasil menduduki jabatan tertentu, berhasil mengumpulkan harta dengan jumlah tertentu atau belakangan berhasil mendapatkan jumlah follower di media sosial dengan jumlah sekian.

Baca Juga: Esensi Pesan Zakat: Harta Kekayaan Jangan Beredar di Kalangan Orang Kaya Saja

Ukuran-ukuran yang bersifat meterialistik itulah yang sangat berpotensi menumbuhkan sisi-sisi hayawaniah atau “kebinatangan” yang memang secara sunnatullah ditancapkan dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan, wajar ada ungkapan bahwa pada saat manusia baik dan taat bisa saja dia melebihi kesucian dan ketaatan malaikat, makhluk yang memang diciptakan untuk selalu beribadah kepada-Nya, sebaliknya jika paada saat manusia itu berontak dan munkar maka dia melebihi kelakukan binatang dan syetan atau bahkan menjadi syetan itu sendiri sebagaimana dinyatakan dalam Alqur’an Surah Annas, terutama ayat terakhir.

Baca Juga: Waspadai Setan Khinzib, Tugasnya Bikin Orang Sholat Gagal Fokus

Pada saat sisi-sisi “kebinatangan” ini dominan maka manusia memakai berbagai cara dalam mengejar materi yang berupa uang, jabatan dan popularitas. Berbagai norma, nilai dan etika dilanggar dalam rangka mereguk kepuasan pribadi. Pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan hanyalah dirinya sendiri karena seolah dirinyalah pusat segala semesta. Situasi inilah yang membuat manusia dalam bingkai umpama yang dinyatakan oleh Thomas Hobbes yakni Homo Homini Lupus berarti manusia bagaikan serigala bagi manusia lainnya, manusia yang rela memakan manusia lain untuk kepentingan-kepentingan pribadinya.

Lebih dalam lagi, terkadang yang menjadi korban dari ambisi materialistik manusia itu bukanlah manusia yang lain, akan tetapi justru dirinya sendiri. Maka tak jarang orang menjadi depresi, putus asa hingga sakit jiwa, yang lebih parah lagi jika sampai melakukan bunuh diri. Manusia menjadi sedih dan kecewa terhadap diri. Manusia kemudian kehilangan cinta walau hanya untuk diri sendiri.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Momentum Puasa

Momentum puasa menghajar sisi-sisi “kebinatangan” kita, karena makna dari puasa itu sendiri adalah “menahan” atau secara fiqh “menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan mencari kenikmatan seksual”. Makna menahan ini bisa kita tarik kepada spektrum yang lebih luas, dengan puasa kita bisa menahan untuk tidak menyakiti diri, tidak menyakiti orang lain atau tidak menghalalkan segala cara demi meraih ambisi-ambisi materialistik duniawi; uang, jabatan dan popularitas.

Ada saatnya kita harus “mengalah” pada diri sendiri dan orang lain, sebab kita percaya bahwa Allah SWT sudah menciptakan manusia beserta takdir-takdirnya, baik itu takdir baik maupun takdir buruk sebagaimana rukun Iman yang selama ini kita yakini. Kita harus percaya bahwa Allah SWT sudah tahu takaran dan bagian kita didunia fana ini. Mungkin saja kita berencana dan sedikit memaksa untuk mendapat uang sekian Miliar namun yang Allah SWT berikan hanyalah sejumlah jutaan sahaja.

Namun demikian, “mengalah” bukan berarti kita pasrah dan menjadi kelompok jabariyah atau fatalistik sehingga kita tidak berbuat apapun, mari kita sejenak mengingat kembali sebuah hadits yang sudah sangat popular, yaitu:

غَدًا تَمُوْتُ كَأَنَّكَ لِآخِرَتِكَ وَاعْمَلْ أبَدًا تَعِيشُ كَأنَّك لِدُنْيَاكَ اعْمَلْ

Artinya: “berbuatlah untuk duniamu seolah engkau hidup abadi, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah engku mati esok hari”

Selain hadits diatas mari kita tengok kembali Firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

الْمُفْسِدِيْنَ يُحِبُّ لَا اللّٰهَ اِنَّ الْاَرْضِ فِى الْفَسَادَ تَبْغِ وَلَا اِلَيْكَ اللّٰهُ اَحْسَنَ كَمَآ وَاَحْسِنْ الدُّنْيَا مِنَ نَصِيْبَكَ تَنْسَ وَلَا الْاٰخِرَةَ الدَّارَاللّٰهُ اٰتٰىكَ فِيْمَآ وَابْتَغ

Artinya: “Carilah yang Allah sediakan untukmu demi negeri akhirat, namun jangan lupa bagianmu didunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan jangan berbuat kerusakan dimuka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan.

Dari hadits dan ayat diatas kita bisa memahami bahwa target-target duniawi haruslah seimbang dengan tujuan-tujuan yang bersifat akhirat (ukhrowi), dalam ayat tersebut dielaborasi lebih lanjut bahwa perkara yang kita miliki didunia ini muara akhirnya adalah demi akhirat kita sehingga Allah SWT tidak memperbolehkan dalam rangka pemenuhan target duniawi tersebut sampai menyakiti orang lain (apalagi diri sendiri) atau bahkan sampai membuat kerusakan dimuka bumi, sebab Allah SWT memberi penegasan bahwa Dirinya tidak suka mereka yang membuat dan menyebabkan kerusakan-kerusakan.

Jika berpaku pada hadits dan ayat tersebut kita akan selalu menyandarkan target dan tujuan kita hanya demi akhirat kita, karena bagi kita umat Islam, dunia hanyalah tempat singgah dan akhiratlah pemberhentian yang kekal. Dengan demikian, usaha untuk meraih uang, jabatan dan popularitas hanya semata demi Allah, ujung pangkalnya hidup kita akan selalu sumeleh yakni bersikap bebas dan tidak memaksakan kehendak kita, mengejar dan pada akhirnya kita selalu sumeh tersenyum bahagia riang gembira. Dada kita selalu lebar sepanjang hayat. Pikiran kita selalu enteng sepanjang masa. Lalu akhirnya kita akan “mengalah” hanya karena Allah SWT sebab apapun yang kita lakukan kita sandarkan hanya kepada Allah SWT. Coba bayangkan betapa nikmatnya hidup yang seperti itu!

Wallahu a’lam bis showab.

Oleh: Hadiqun Nuha,

Pengurus Pusat PP ISNU dan Ketua Bidang Keagamaan dan Pluralisme DKN Garda Bangsa

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya