Kenikmatan "Mengalah" karena Allah

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 17 April 2021 03:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 330 2396106 kenikmatan-mengalah-karena-allah-TUmvMbwRmW.jpg Hadiqun Nuha. (Foto: Dok)

Momentum Puasa

Momentum puasa menghajar sisi-sisi “kebinatangan” kita, karena makna dari puasa itu sendiri adalah “menahan” atau secara fiqh “menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan mencari kenikmatan seksual”. Makna menahan ini bisa kita tarik kepada spektrum yang lebih luas, dengan puasa kita bisa menahan untuk tidak menyakiti diri, tidak menyakiti orang lain atau tidak menghalalkan segala cara demi meraih ambisi-ambisi materialistik duniawi; uang, jabatan dan popularitas.

Ada saatnya kita harus “mengalah” pada diri sendiri dan orang lain, sebab kita percaya bahwa Allah SWT sudah menciptakan manusia beserta takdir-takdirnya, baik itu takdir baik maupun takdir buruk sebagaimana rukun Iman yang selama ini kita yakini. Kita harus percaya bahwa Allah SWT sudah tahu takaran dan bagian kita didunia fana ini. Mungkin saja kita berencana dan sedikit memaksa untuk mendapat uang sekian Miliar namun yang Allah SWT berikan hanyalah sejumlah jutaan sahaja.

Namun demikian, “mengalah” bukan berarti kita pasrah dan menjadi kelompok jabariyah atau fatalistik sehingga kita tidak berbuat apapun, mari kita sejenak mengingat kembali sebuah hadits yang sudah sangat popular, yaitu:

غَدًا تَمُوْتُ كَأَنَّكَ لِآخِرَتِكَ وَاعْمَلْ أبَدًا تَعِيشُ كَأنَّك لِدُنْيَاكَ اعْمَلْ

Artinya: “berbuatlah untuk duniamu seolah engkau hidup abadi, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah engku mati esok hari”

Selain hadits diatas mari kita tengok kembali Firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

الْمُفْسِدِيْنَ يُحِبُّ لَا اللّٰهَ اِنَّ الْاَرْضِ فِى الْفَسَادَ تَبْغِ وَلَا اِلَيْكَ اللّٰهُ اَحْسَنَ كَمَآ وَاَحْسِنْ الدُّنْيَا مِنَ نَصِيْبَكَ تَنْسَ وَلَا الْاٰخِرَةَ الدَّارَاللّٰهُ اٰتٰىكَ فِيْمَآ وَابْتَغ

Artinya: “Carilah yang Allah sediakan untukmu demi negeri akhirat, namun jangan lupa bagianmu didunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan jangan berbuat kerusakan dimuka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan.

Dari hadits dan ayat diatas kita bisa memahami bahwa target-target duniawi haruslah seimbang dengan tujuan-tujuan yang bersifat akhirat (ukhrowi), dalam ayat tersebut dielaborasi lebih lanjut bahwa perkara yang kita miliki didunia ini muara akhirnya adalah demi akhirat kita sehingga Allah SWT tidak memperbolehkan dalam rangka pemenuhan target duniawi tersebut sampai menyakiti orang lain (apalagi diri sendiri) atau bahkan sampai membuat kerusakan dimuka bumi, sebab Allah SWT memberi penegasan bahwa Dirinya tidak suka mereka yang membuat dan menyebabkan kerusakan-kerusakan.

Jika berpaku pada hadits dan ayat tersebut kita akan selalu menyandarkan target dan tujuan kita hanya demi akhirat kita, karena bagi kita umat Islam, dunia hanyalah tempat singgah dan akhiratlah pemberhentian yang kekal. Dengan demikian, usaha untuk meraih uang, jabatan dan popularitas hanya semata demi Allah, ujung pangkalnya hidup kita akan selalu sumeleh yakni bersikap bebas dan tidak memaksakan kehendak kita, mengejar dan pada akhirnya kita selalu sumeh tersenyum bahagia riang gembira. Dada kita selalu lebar sepanjang hayat. Pikiran kita selalu enteng sepanjang masa. Lalu akhirnya kita akan “mengalah” hanya karena Allah SWT sebab apapun yang kita lakukan kita sandarkan hanya kepada Allah SWT. Coba bayangkan betapa nikmatnya hidup yang seperti itu!

Wallahu a’lam bis showab.

Oleh: Hadiqun Nuha,

Pengurus Pusat PP ISNU dan Ketua Bidang Keagamaan dan Pluralisme DKN Garda Bangsa

 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(Vitri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya