Masjid Jami Kalipasir Awalnya Gubuk Tempat Persinggahan di Tepi Sungai Cisadane

Isty Maulidya, Jurnalis · Rabu 21 April 2021 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 614 2398091 masjid-jami-kalipasir-awalnya-gubuk-tempat-persinggahan-di-tepi-sungai-cisadane-k9kuGXreUa.jpg Masjid Jami Kalipasir, Kota Tangerang. (Foto: Isty Maulidya)

TANGERANG - Masjid Jami Kalipasir di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang kehadirannya mempunyai cerita tersendiri. Di masjid inilah menjadi basis penyebaran agama Islam di Tangerang, Banten.

Meski bangunannya sederhana dan seperti tersembunyi, namun persisnya masjid ini terletak di di kawasan kota lama Tangerang. Jadi kalau warga atau sekitar yang sering mengunjungi Pasar Lama pasti tak asing dengan masjid ini.

Baca Juga: Masjid Berbentuk Replika Kakbah di Subang Jadi Obat Rindu ke Makkah

Lantas bagaimana cerita kehadiran masjid ini dan siapa yang menggagas membuatnya? Penasihat DKM Kali Pasir, Ahmad Sjairodji menjelaskan bahwa masjid tersebut dulu adalah tempat tinggal Ki Tengger Jati dari Kerajaan Galuh Kawali yang terletak di Sukabumi.

Ki Tengger Jati saat itu diperintahkan oleh gurunya untuk menyebarkan agama Islam di tempat lain. Hingga akhirnya tibalah Ki Tengger Jati di sebuah hutan yang bersisian dengan aliran sungai, lalu menetap dan membuat gubuk kecil untuk tempat beribadah.

"Kalau ditelusuri awalnya, itu sekitar tahun 1412 Ki Tengger Jati datang kemari untuk menyebarkan agama Islam. Bikin gubuk kecil, dan digunakan untuk beribadah," ujar Sjairodji pada Selasa (20/4/2021).

Baca Juga: Istiqlal Islamic Center of Taronto Masjid Pertama yang Berdiri di Kanada saat Ramadhan 2021

Gubuk kecil itu bersisian dengan Sungai Cisadane sebuah sungai besar sehingga sering disinggahi oleh banyak orang. Lambat laun, banyak yang memutuskan untuk menetap dan berkeluarga di kawasan itu dan kini bernama Jalan Kali Pasir.

Akhirnya, Ki Tengger Jati pun memutuskan untuk memperbesar gubuk agar menjadi tempat ibadah yang layak. Seiring berjalannya waktu, tempat tersebut diperbesar kembali dan akhirnya menjadi masjid.

"Ini kan dekat sekali dengan sungai, Sungai Cisadane ini dulunya jalur utama perdagangan. Lama-lama yang tadinya hanya singgah, memilih untuk menetap. Itulah awalnya penyebaran Islam di Tangerang khususnya di Kali Pasir ini," lanjutnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Masjid tersebut akhirnya semakin dikenal oleh banyak orang, para sultan dari kerajaan Islam di Pulau Jawa pun kerap mengunjungi masjid tersebut. Sehingga masjid tersebut masih berhubungan dengan Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, dan Kesultanan Demak. Bahkan salah satu ulama dari Persia pun singgah di Kali Pasir, dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam ke daerah Banten.

"Tahun 1608 kedatangan dari Kerajaan Kahuripan Bogor, dan mengurus masjid juga diperbesar. Tahun 1671 barulah kepengurusan diserahkan ke putranya Tumenggung Pamit Wijaya, dan kemudian berlanjut pada keturunan beliau," jelas Sjairodji.

Tak ada yang tahu pasti kapan gubuk singgah itu berubah menjadi masjid. Namun, ada satu literasi yang mengatakan bahwa masjid berdiri pada tahun 1576. Kemudian oleh pemerintah setempat dijadikan bangunan cagar budaya pada tahun 2011, berdasarkan surat keputusan dari Wali Kota Tangerang.

"Yang menetapkan tahun berdirinya masjid adalah Kiai Shobari orang Kalipasir asli, sekarang orangnya masih ada. Beliau ini adalah ahli hikmah jadi kemungkinan tahu lebih banyak soal kejadian dulu," ujar Sjairodji.

Sampai saat ini, masjid tersebut masih terjaga keasliannya. Meskipun berkali-kali mengalami perubahan, namun bentuk atap masjid yang tidak menggunakan kubah serta menara masih seperti bentuk aslinya. Selain itu, di dalam masjid juga masih ada 4 tiang penyangga yang dipercaya sudah ada sejak pertama masjid berdiri.

"Ini 4 tiang ini kata cerita orang tua ada sudah dulu sekali, salah satunya pemberian Sunan Kalijaga. Dan kalau lihat di atas itu ada yang namanya Baluarsi, juga diberikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa Banten," jelasnya.

Masjid ini memang tak seluas masjid kebanyakan, bahkan tak ada kubah megah yang biasanya ada di bangunan masjid. Namun, melihat banyaknya makam kuno yang ada di halaman masjid membuktikan bahwa masjid ini memang menyimpan sejuta cerita penyebaran Islam lebih dari seribu tahun lalu. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya