Bagaimana Hukum Qadha Puasa untuk Orang Lain yang Telah Meninggal Dunia

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Sabtu 01 Mei 2021 04:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 330 2403791 bagaimana-hukum-qadha-puasa-untuk-orang-lain-yang-telah-meninggal-dunia-emcaAxEK3c.jpg Qadha Puasa Ramadhan. (Foto:Freepik)

JAKARTA - Hukum qadha puasa Ramadhan untuk orang lain yang telah meninggal dunia apakah diatur dalam Islam? Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Lantas bagaimana dengan orang yang meninggalkan puasa dengan udzur syari hingga wafat? Orang yang memiliki utang puasa Ramadhan sejatinya ada dalam dua keadaan

1. Udzurnya berlanjut sampai setelah bulan Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qadha. Seperti orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena sakit, lalu sakitnya berlanjut sampai setelah Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qadha, karena dia masih memiliki udzur sampai wafat.

Baca Juga:  Kondisi Indonesia Sudah Digambarkan Gamblang di dalam Al-Quran

2. Udzurnya berakhir setelah bulan Ramadhan dan sudah memungkinkan baginya untuk mengqadha puasa, namun ia wafat sebelum mengqadha, apakah boleh bagi orang lain mengqadha untuknya? Ustaz Sofyan Ruray menjelaskan sebagai berikut:

Pendapat Pertama:

Qodha puasa untuk orang lain hanya dibolehkan untuk puasa nadzar, adapun untuk mengganti puasa Ramadhan hendaklah dengan membayar fidyah. Ini pendapat jumhur ulama; Malik, Syafi’i, Ahmad dan selain mereka rahimahumullaah.

Baca Juga: Bersin dan Menguap, Mana yang Disukai dan Dibenci Allah Ta'ala

Pendapat Kedua:

Qadha puasa untuk orang lain dibolehkan untuk semua puasa wajib, apakah Ramadhan, nadzar maupun kaffaroh. Ini pendapat para ahli hadits dari kalangan Syafi’iyyah dan selain mereka rahimahumullaah.

Pendapat Ketiga:

Qadha’ puasa untuk orang lain tidak disyari’atkan sama sekali, tidak puasa wajib dan tidak pula puasa sunnah. Pendapat ini juga dinukil dari Malik, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i rahimahumullah dalam pendapat beliau yang baru (al-qoulul jadid).

Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat kedua, yaitu boleh untuk semua puasa wajib, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, 

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang wafat dan masih berhutang puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz[21] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumallah.[22]

Dan apabila tidak ada yang mengqadha puasanya maka hendaklah dibayarkan fidyah dari harta peninggalannya, sama seperti orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya atau orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa.

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, 

إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ، ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ

“Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian wafat dan ia belum berpuasa maka dikeluarkan fidyahnya.” [Diriwayatkan Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2078]

Namun apabila ia tidak memiliki harta peninggalan maka tidak ada keharusan membayar fidyah baginya.[23] Namun dibolehkan bagi ahli waris untuk mengeluarkan fidyah dari harta mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya