Imam Bukhari Belajar Hadis Sejak Belia hingga Mempunyai 1.080 Guru

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Senin 07 Juni 2021 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 614 2421339 imam-bukhari-belajar-hadis-sejak-belia-hingga-mempunyai-1-080-guru-j3NlVZ33R0.jpg Imam Bukhari lahir di Kota Bukhara, Uzbekistan. (Foto:Ilustrasi/Freepik)

JAKARTA - Imam Bukhari atau dengan nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari adalah ahli hadis yang termasyhur di antara para ahli hadis sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah bahkan dalam buku-buku fiqih dan hadis, hadis-hadisnya memiliki derajat yang tinggi.

Imam Bukhari lahir pada 20 Juli 810 M di Bukhara, Uzbekistan dan wafat pada 1 September 870 M di Xo'ja Ismoil, Uzbekistan

Imam Bukhari adalah salah satu manusia pilihan Allah Ta'ala dalam memelihara dan menjaga agama Islam dengan mentajdid agama-Nya dan menjaga atsar-atsar Rasul-Nya serta mengibarkan panji-panji sunah.

Di antara tokoh ternama lagi menonjol dengan khidmahnya dalam bidang ilmu hadits, yaitu Imam Bukhari. Sebuah nama yang sangat dikenal dalam sejarah Islam, terutama oleh para insan yang berkecimpung dalam bidang ilmu hadits.

Baca Juga: SBY Bersilatuhrami kepada Pak Harto, Contoh Menghormati Pemimpin Sebelumnya

Pada masa kanak-kanak, Imam Bukhari sempat mengalami kebutaan. Pada suatu malam, sang Ibu bermimpi melihat Ibrahîm al-Khalîl Alaihissallam dan berkata kepada ibunya, “Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan kepada anakmu karena engkau banyak menangis (banyak berdoa)”. Di pagi harinya, penglihatan putranya kembali normal.

Bentuk fisik Bukhari dijelaskan Imam Ibnu ‘Adi rahimahullah mengatakan, ‘Aku pernah mendengar Hasan bin Husain al-Bazzâz berkata, ‘Aku melihat Muhammad bin Ismail seorang yang berbadan kurus, tidak tinggi dan tidak (juga) pendek’.

Dia belajar sejak belia dengan menghafalkan al-Quran semenjak kecil juga. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan beliau Allah Azza wa Jalla mengilhamkan kepadanya saat kecil untuk menyenangi menghafal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga: 3 Artis Indonesia Naik Haji Diundang Raja Arab

Imam al-Bukhri rahimahullah menceritakan, “Aku diberi ilham untuk menghafal hadits sejak aku masih di madrasah. Saat itu, usiaku sekitar 10 tahun, hingga aku keluar dari madrasah itu pada usia 10 tahun. Aku mulai belajar kepada ad-Daakhili dan ulama lainnya. Suatu saat, beliau membacakan satu hadits di hadapan orang-orang (dengan sanad dari) Sufyan, dari Abu Zubair dari Ibrahim… Maka aku berkata kepadanya:

“Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan (hadits) dari Ibrahim”. Ia pun menghardikku. Lantas aku berkata, “Coba telitilah kembali kitab aslinya”. Ia pun memasuki rumah dan meneliti kembali, kemudian keluar dan bertanya, “Bagaimana penjelasannya wahai anak muda?”. Aku menjawab, “(Yang dimaksud) adalah Zubair bin ‘Adi dari Ibrahiim..”.

Beliau lantas mengambil penaku dan mengoreksi kitabnya, seraya berkata, “Engkau benar”. Abu ‘Abdillah juga pernah menceritakan, “Aku pernah belajar kepada para fuqaha Marw. Saat itu aku masih kanak-kanak. Jika aku datang menghadiri majlis mereka, aku malu mengucapkan salam kepada mereka. Salah seorang dari mereka bertanya kepadaku, “Berapa banyak (hadits) yang telah engkau tulis?”. Aku menjawab, “Dua (hadits)”. Orang-orang yang hadir pun tertawa.

Baca Juga: Habluminallah dan Habluminannas Dilengkapi Lagi dengan Hablum Min Al - Bi'ah, Apa Itu?

Lalu salah seorang syaikh berkata, “Janganlah kalian menertawakannya. Bisa jadi suatu saat nanti justru dia yang menertawakan kalian”. Demikianlah gambaran bakat keilmuannya telah tampak.

Pada usia 16 tahun, beliau sudah menghafal kitab karangan Imam Waki’ dan Ibnul Mubarak. Kemudian pada usia 17 tahun, beliau telah dipercaya oleh salah seorang gurunya Muhammad bin Salam al-Biikandi untuk mengoreksi karangan-karangannya.

Bersama Ibu dan saudaranya, pada usia 18 tahun, Muhammad bin Ismâ’îl pergi haji ke Makkah. Beliau tetap bertahan di kota suci itu untuk meneruskan mendalami hadits bersama para Ulama di sana, sementara keluarga beliau pulang.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Menimba Ilmu Bersama 1.080 Guru

Imam al-Bukhri menimba ilmu dari ulama setempat. Beliau berguru kepada Muhammad bin Salam al-Biikandi, Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far bin Yamaan al-Ju’fi al-Musnidi, dan ulama lainnya.

Selanjutnya, beliau keluar dari kampung halamannya dan mengembara mendatangi banyak kota untuk memperdalam ilmu hadits.

Kota Balkh, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Madinah, Mesir, Syam, beliau datangi dalam rangka mencari dan mendatangi Syaikh-Syaikh mumpuni dalam bidang hadits. Tak pelak, syaikh (guru) beliau pun berjumlah banyak, bahkan beliau sendiri yang menyatakan hal ini, “Aku menulis (riwayat) dari seribu lebih syaikh. Dari setiap syaikh itu, aku tulis sepuluh ribu riwayat bahkan lebih. Tidaklah ada hadits padaku kecuali aku sebutkan sanadnya (juga)”. [Lihat as-Siyar:12/407, al-Bidâyah 11/22]

Sebelum meninggal, Imam al-Bukhâri rahimahullah pernah menyatakan, “Aku telah menulis (hadits) dari 1.080 orang. Semuanya adalah ahlul hadits. Mereka semua meyakini, ‘Iman adalah qaul dan amal, berrtambah dan berkurang’. [as-Siyar:12/395]

Kekuatan Hafalan

Imam Bukhari mempunyai kekuatan hafalan sudah terakui oleh para Ulama di masanya. Bahkan banyak yang menyampaikan kalau beliau langsung menghafal suatu kitab hanya dengan membacanya sekali saja.

Hasyid bin Ismâ’îl pernah menceritakan, “Dahulu Abu ‘Abdillâh bersama kami mendatangi para guru Bashrah. Waktu itu ia masih belia, dan tidak (tampak) mencatat apa yang telah didengar. Hal itu berlangsung beberapa hari. Kami pun bertanya kepadanya,

“Engkau menyertai kami mendengarkan hadits, tanpa mencatatnya. Apa yang kamu perbuat sebenarnya?. Enam belas hari kemudian, Imam al-Bukhari rahimahullah akhirnya menjawab, ‘Kalian telah sering bertanya dan mendesakku. Coba tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis’. Maka kami mengeluarkan apa yang kami miliki yang berjumlah lebih dari 15 ribu hadits. Selanjutnya, ia menyebutkan seluruhnya dengan hafalan, sampai akhirnya kami membenahi catatan-catatan kami melalui hafalannya. Kemudian ia berkata, “Apa kalian sangka aku bersama kalian hanya main-main saja dan menyia-nyiakan hari-hariku?!” Maka, kami pun sadar, tidak ada seorang pun yang melebihinya’.

Menjadi Guru Para Imam Hadist

Penguasaan Imam al-Bukhari yang mendalam dalam bidang ilmu hadits, sudah menonjol sejak beliau remaja. Banyak orang datang berduyun-duyun mendatangi beliau baik di majlis maupun di tempat lainnya.

Termasuk nama-nama terkenal menghiasai daftar orang-orang yang berguru pada Imam al-Bukhâri rahimahullah. Di antara mereka adalah, Imam Muslim rahimahullah, Imam at-Tirmidzi rahimahullah, Imam Abu Hatim rahimahullah, Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullah, Imam Ibrahim bin Ishâq al-Harbi rahimahullah, Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah.

Imam Bukhari termasuk orang yang mustaja dakwah, doanya dikabulkan. Kejadiannya, gubernur kota Bukhara mengusirnya dari kota itu. Atas pengusiran yang tidak berdasar itu, Imam Bukhari rahimahullahpun berdoa.

Sebulan belum genap berjalan, sang gubernur diberhentikan dan dipenjarakan di Baghdad sampai meninggal di dalamnya. Orang-orang yang ikut berpran dalam pengusiran Imam al-Bukhari pun mengalami musibah

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya